MASYARAKAT Sejarawan Indonesia (MSI) mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera menarik naskah Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan II. Permintaan ini disampaikan MSI setakat dengan polemik yang muncul terkait isi di dalam kamus tersebut.

“MSI memandang inisiatif pembuatan kamus sejarah merupakan langkah penting dalam memajukan pengetahuan sejarah di Indonesia. Penyusunan kamus sejarah merupakan bagian penting dalam memperkuat kesadaran kebangsaan dan kesejarahan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini,” tulis Pengurus Pusat MSI Prof Dr Jajat Burhanuddin dalam siaran pers yang diterima awak media, Kamis, 22 April 2021.

MSI turut mengkritisi pembuatan kamus yang tidak transparan dan tanpa melakukan uji publik sebelumnya.

Seperti diketahui, Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan II mendapat sorotan setelah naskah tersebut tersebar luas. Keributan itu berawal dari protes tidak dimuatnya perjuangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama di Kamus Sejarah Indonesia tersebut. Padahal gambar tokoh NU tersebut muncul di sampul Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan II. Selain itu, kamus ini kian mendapat sorotan lantaran tidak mencantumkan kiprah Gus Dur yang adalah mantan Presiden Republik Indonesia.

Hal inilah yang membuat MSI turut meminta pemerintah untuk melakukan revisi secara transparan sesuai dengan standar leksikografi dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Sebagai organisasi kemasyarakatan di bidang kesejarahan, MSI mendorong keterlibatan antar komunitas sejarah, media, leksikografer, dan akademisi untuk mengawal proses revisi serta mengkritisi secara substansi isi dan alur penulisan guna meningkatkan kualitas kamus sejarah tersebut,” pungkas Jajat.[]