Beranda Label Cerbung

Label: Cerbung

Kulat [20]

“Bocah yang satu ini sudah mengakui perbuatannya, tapi dia malah merahasiakan berapa orang yang terlibat,” kata prajurit itu lagi seraya mengokang senjata. Ramadhan dan Amat terkejut. Ma’e histeris. “Betul pak, tidak kubilang pak,” kata Ma’e sembari menangis sejadi-jadinya.

Kulat [19]

Jalan menuju rumah Abu Keuchik seakan terlihat mulus hari itu sehingga tak butuh waktu lama untuk Abu Keuchik sampai di rumahnya. Begitu hendak memarkir sepeda ontel di salah satu tiang rumah, terdengar suara yang juga kian akrab bagi warga. “Tret..tret..tret..tar…tar…tam…tum…”

Kulat [18]

“Tidak, semuanya memakai topeng dan rompi. Dari semalam kami sudah menghubungi semua pihak untuk mencari tahu keberadaan ayahnya Redha, tetapi nihil. Koramil, Polsek, pos tentara terdekat, kesatuan tentra nanggroe yang ada di kawasan ini, semuanya tidak tahu terkait peristiwa ini. Kami khawatir ayahnya Redha jadi korban salah jemput.”

Kulat [17]

Abu kemudian melanjutkan bagaimana Belanda sebagai sebuah kerajaan baru yang muncul di Eropa ikut berlayar ke Tanah Melayu. Pada awal-awal proklamasi kemerdekaannya, Belanda memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Kesultanan Aceh. Menurut Abu Keuchik, Aceh bahkan menjadi salah satu kerajaan di dunia yang turut mengakui kemerdekaan Belanda dari Spanyol pada tahun 1815. Namun sebelum kerajaan Belanda terbentuk, beberapa perusahaan dagang dari daerah itu sudah menancapkan kukunya di wilayah Melayu.

Kulat [16]

Harlan hanya terkesima. Lututnya lemas. Lidahnya kelu. Moncong truk reo itu berada tepat di depan hidungnya yang tak begitu mancung, tetapi lebih lebar dari orang kebanyakan di Cot Alue

Kulat [15]

“Kalau saja mereka tidak bersenjata, aku berani melawannya. Kita kan cuma main geudeu-geudeu, bukan mau memberontak,” kata seorang pria berbadan kekar.

Kulat [14]

SEEKOR tikus meloncat-loncat di pematang sawah. Mamalia pengerat ini mencari bulir padi yang tersisa untuk dibawa ke sarangnya. Cahaya bulan terus...

Kulat [12]

Dari depan turun seorang pemuda. Badannya kekar. Ada baret menyelip di pundak. Rambutnya cepak. Kacamata hitam menghias di atas kepalanya. Pemuda itu berhidung mancung. Postur badannya sedikit lebih tinggi dari rekan di sebelahnya yang dari tadi terlihat siap siaga. Pria itu kemudian mendekat ke arah Abu Keuchik dan yang lain. "Assalammualaikum," kata pria tersebut.

Kulat [11]

Teungku Don terlihat canggung. Dia lantas meminta maaf kepada warga yang sudah terlebih dulu datang ke sawah miliknya. Matahari baru saja mendaki bukit. Panasnya belum menyengat tetapi telah membuat baju Hansip yang dikenakan Teungku Don jadi kuyup.

Kulat [10]

Lagi-lagi, gelar sarjana Arbaini tak mampu menjadi jaminan. Terlebih, hanya sedikit perusahaan swasta yang membuka manajemennya di daerah ini. Sebut saja seperti pabrik sekelas PT Kertas Kraft Aceh (KKA) dan PT Arun LNG yang ada di Aceh Utara, kabupaten tetangga tempat Arbaini berdomisili.
20,832FansSuka
0PengikutMengikuti
13,900PelangganBerlangganan