Temuan makam kuno Aceh di lokasi IPAL Gampong Pande-Gampong Jawa, Banda Aceh | Foto: Mapesa

RENCANA Pemerintah Kota Banda Aceh yang hendak meneruskan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di kawasan cagar budaya Gampong Pande masih mendapat perhatian publik hingga saat ini. Tak sedikit dari warga Banda Aceh dan komunitas sejarawan yang menolak rencana tersebut, termasuk Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Aceh.

“Apapun alasannya, jika pembangunan proyek IPAL itu berada di lokasi situs sejarah, maka secara tegas AGSI Aceh menolak,” kata Ketua AGSI Aceh, Hizqil Apandi kepada sumaterapost.com, Selasa, 20 April 2021 dinihari.

AGSI menilai, proyek IPAL di atas atau di kawasan situs sejarah akan berpotensi memutus mata rantai peradaban bangsa Aceh, dari masa lalu ke masa kini.

“Situs-situs sejarah ini perlu kita rawat, tentu bukan hanya situs Kampung Pande saja, melainkan semua situs sejarah di Aceh harus sama-sama kita selamatkan sebagai warisan sejarah dan budaya yang sangat bernilai bagi generasi Aceh,” kata Hizqil Apandi.

Baca juga: Proyek IPAL Gampong Pande Utang dari ADB?

Lebih lanjut Hizqil Apandi meminta Pemerintah kota Banda Aceh untuk merelokasi proyek pembangunan IPAL tersebut ke lokasi lain yang lebih layak.
“Lebih baik sedikit merugi secara finansial, daripada menyesal kemudian hari, karena warisan sejarah ini tidak ternilai dengan uang,” pungkas Hizqil.[]