PULAU RUSA mendadak jadi sorotan setelah satu unit kapal pesiar asing masuk tanpa izin dan lego jangkar di sana. Kapal asing yang berbendera Cayman Island Britania Raya itu dinahkodai seorang Jerman dan awalnya diduga milik Rusia.

Mengapa kapal asing ini dapat lego jangkar hampir sepekan di Pulau Rusa? Apakah tidak ada yang melihatnya? Apakah sistem deteksi batas perairan Indonesia tidak berfungsi? Dimana prajurit penjaga perbatasan RI? (Baca: Kapal La Datcha Ketahuan Masuk Pulau Rusa Setelah Lego Jangkar Hampir Sepekan)

Untuk mengetahui hal itu, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu geografis, bentang alam dan kondisi Pulau Rusa.

Pulau Rusa berada di wilayah administratif Gampong Kareung, Kecamatan Lhoong Aceh Besar. Pulau ini hanya ditumbuhi pepohonan kelapa dan semak belakar. Tidak ada penduduk yang berdiam di sana. Hanya saja hamparan pasir putih dengan bebatuan karstnya menjadi daya tarik tersendiri ketika kita berada di bibir pantai pulau ini.

Pulau ini memiliki luas sekitar 0,296 kilometer persegi. Jika diukur jarak tempuh melalui Masjid Kemukiman Cot Jeumpa, Pulau Rusa terpaut sekitar 2,7 Km secara garis lurus. Kalau ditarik garis lurus dari Lhokseudu, pulau tak berpenghuni itu ditakar sejarak 9,6 Km.

Lokasi Pulau Rusa sejatinya tak begitu jauh dari daratan utama, yaitu sekitar 881 meter hingga 1,8 kilometer dari Ujung Geundret Aceh Besar.

Pulau ini merupakan salah satu daratan yang pernah terkena hantaman gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Hasil lautnya seperti ikan cakalang, kerapu, tuna, udang sabu, lobster, teripang, udang dan aneka jenis ikan sangat melimpah di perairan pulau tersebut. Ekosistem terumbu karang di pulau tersebut juga masih terjaga meskipun pernah dihumbalang bencana tsunami beberapa waktu lalu.

Daratan pulau yang terbentuk dari hasil pengikisan erosi dan abrasi batu gamping itu juga hanya dihuni oleh babi, ular dan hewan melata lainnya. Tidak ada rusa di sana meskipun warga setempat menamainya Pulau Rusa.

Konon katanya, penamaan pulau ini merujuk pada si pemilik yang pertama kali menemukan pulau tersebut. Pada saat itu, pemilik mengaku menemukan satu ekor rusa jantan yang dapat melahirkan di pulau ini. Kabar aneh ini langsung berkembang cepat hingga pulau tersebut belakangan dikenal dengan Pulau Rusa.

Sementara jika merujuk data KKP, penamaan tersebut lebih menjurus kepada bentuk pulau yang menyerupai rusa. Namun bentuk itu berubah setelah bencana tsunami menghantam Aceh.

Pulau yang masuk dalam kategori pulau-pulau kecil terluar Republik Indonesia tersebut berada di koordinat 05 derajat 16’34” LU dan 95 derajat 12’07” BT. (Baca: Ribuan Pulau Ada di Sumatra)

Warga setempat tidak menetap di pulau ini karena ketiadaan air tawar. Selain itu, sarana sumber daya dan lahan juga terbatas. Ada tiga desa yang letaknya berdekatan dengan pulau Rusa, yaitu Gampong Saney, Gampong Utamong, dan Gampong Kareun.

Sebelum tsunami melanda Aceh, pulau ini sering menjadi tempat singgah para nelayan atau orang-orang memetik kelapa. Namun setelah tsunami, pepohonan kelapa yang ada di sana mulai berkurang sehingga warga setempat pun mulai jarang berkunjung ke pulau tersebut.

Kondisi bentang alam Pulau Rusa masih didominasi oleh hutan yang mencapai kurang lebih 70% dari total luas wilayahnya.

Banyak potensi yang dapat dikembangkan di Pulau Rusa, terutama terkait hasil laut. Hanya saja pemerintah perlu memikirkan cara menghidupkan Pulau Rusa dengan mewujudkan fasilitas air bersih, membangun dermaga, jalan setapak, jaringan listrik, pembangunan pos jaga untuk TNI, hingga pembangunan rumah singgah nelayan.

Berbagai fasilitas tersebut dirasa perlu untuk menghindari masuknya warga asing tanpa terdeteksi ke wilayah itu. Seperti halnya kasus lego jangkar kapal pesiar La Datcha yang sudah hampir sepekan baru ketahuan.[]