BATU nisan itu sedikitnya berjumlah 20 buah. Bentuknya beragam. Namun, dari puluhan batu nisan yang mayoritasnya sudah rebah, di kawasan jalan depan Gerbang Tol Baitussalam Aceh Besar itu, belum ada satupun yang ditemukan berinskripsi. Selain tak bernama, nisan-nisan penanda makam manusia pada masa lalu itu juga banyak yang sudah tak in situ dan dinilai rusak jika ditilik dari sisi arkeologi.

Dari sederet nisan yang berserak tersebut, diantaranya diduga berasal dari kisaran tahun 1500 Masehi. Meskipun demikian ada diantara nisan-nisan tersebut diduga hasil peradaban Aceh masa pengaruh Islam pada abad 17 atau 18 Masehi.

Sederet batu nisan “tak bertuan” tersebut sudah beberapa waktu terkubur di kawasan Lambada Lhok. Dugaan awal nisan-nisan penanda makam ini tertutup lumpur tsunami yang pernah melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam, lalu timbul ke permukaan setelah pekerja pembangunan jalan tol melakukan pembersihan lahan di sisi kiri dan kanan badan jalan Laksamana Malahayati untuk penanaman kabel listrik.

Sederet nisan tersebutlah yang sudah sepekan terakhir menjadi sorotan publik, lantaran berada tepat di “depan hidung” pembangunan Gerbang Tol Baitussalam, Sesi 5-6 Sibanceh, bagian proyek nasional Tol Trans Sumatera yang sedang dikerjakan oleh PT Adhi Karya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Foto-foto ini dibidik oleh Boy Nashruddin Agus pada Kamis, 18 Februari 2021.[]