SEBANYAK 18 Kepala Keluarga (KK) pemilik 14 rumah terdampak tanah amblas di Lamkleng, Kecamatan Kuta Cot Glie Aceh Besar mendapat bantuan dari Pemerintah Aceh, Rabu, 27 Januari 2021. Selain bantuan berbentuk keperluan sehari-hari, para pengungsi juga mendapat santunan uang sebesar Rp10 juta dari istri Gubernur Nova Iriansyah, Dyah Erti.

Penyaluran bantuan tersebut langsung dipimpin oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Ikut serta dalam rombongan seperti Kepala Pelaksana BPBA Ilyas dan Ketua PKK Aceh Dyah Erti. Kedatangan rombongan tersebut disambut oleh Wakil Bupati Aceh Besar Tgk. Husaini A. Wahab, Kalak BPBD Aceh Besar Farhan AP, Camat Cot Glie Imam Munandar dan perangkat desa Lamkleng.

Bantuan yang diberikan berupa satu unit tenda pengungsi, dua unit toilet portable, paket pangan serta family kit masing-masing berjumlah 18 paket.

Peta geologi menunjukkan kawasan Lamkleng berada di aliran sungai purba Krueng Aceh

Desa Lamkleng merupakan salah satu gampong di Aceh Besar yang berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh. Jika merujuk pada peta geologi, kawasan Gampong Lamkleng berada pada geografis jalur sungai purba, yang kondisi daratannya terdapat endapan kerikil berpasir akan tetapi telah tertutup soil dengan ketebalan relatif akibat proses sendimentasi.

Diduga dengan adanya endapan tersebut sangat memungkinkan adanya aliran sungai di bawah permukaan, di daerah tersebut. Akibatnya ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan seperti dalam beberapa waktu terakhir, dapat memicu pergeseran tanah seperti yang selama ini marak diberitakan.

Berdasarkan hasil pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, pergerakan tanah di kawasan Lamkleng terus terjadi dari hari ke hari. Pada saat pertama kali diukur, pergerakan tanah di daerah itu mencapai kedalaman sekitar 40 centimeter. Sementara saat pengukuran terakhir, tanah amblas di kawasan ini sudah mencapai kedalaman 4.40 meter.

Selain faktor sendimentasi tanah, diduga fenomena tanah amblas ini juga dipicu lantaran kondisi wilayah tersebut berada di jalur tebing kawasan DAS Krueng Aceh. Fenomena seperti ini dinilai dapat terjadi pada gampong-gampong lain yang berada di atas aliran sungai purba Krueng Aceh, tidak hanya Lamkleng saja.

Meskipun demikian, otoritas terkait belum dapat menyimpulkan penyebab terjadinya pergeseran tanah di kawasan tersebut. Informasi dari Kepala BPBA, Ilyas, Tim Teknik Geologi USK Banda Aceh masih terus melakukan penelitian untuk mencari tahu penyebab utama mengapa tanah di Gampong Lamkleng itu terus longsor setiap hari.

“Warga semakin cemas karena belum berakhirnya fenomena geologis tanah bergerak ini yang telah membentuk rekahan dan retakan,” ungkap Ilyas yang akrab disapa Abi.[]