DEBIT air Krueng Aceh terlihat membanjiri bantaran sungai, di kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh pada Rabu petang, 20 Januari 2021. Airnya yang keruh kecoklatan turut memboyong pepohonan mati dan sampah-sampah lainnya ke hilir.

Di beberapa kawasan daerah aliran sungai, volume air Krueng Aceh bahkan membanjiri daratan-daratan kering di kawasan tanggul yang dalam beberapa waktu lalu dimanfaatkan warga untuk lahan pertanian, peternakan dan bahkan tempat usaha. Di Pango, Aceh Besar, misalnya. Di kawasan ini beberapa peternak terpaksa mengungsikan sapi-sapi mereka lantaran kandang yang dibangun di bantaran itu telah tergenang air.

Hal serupa juga terlihat di kanal banjir (flood way) Krueng Aceh yang bermuara ke Krueng Cut. Air sungai menggenangi kawasan bantaran kanal banjir sepanjang 9,6 Kilometer flood way yang dibangun sejak tahun 1986-1993 tersebut. Seperti halnya di Lamnyong, pemilik usaha jasa belajar mengemudi harus berpindah lokasi ke badan jalan karena bantaran sungai kebanjiran. Begitu pula dengan sisi lain kanal banjir yang selama ini dipakai untuk arena motor cross, juga tergenang air.


Debit air di floot way Krueng Aceh terlihat menggenangi sekitar bantaran sungai, termasuk daratan yang kerap dipergunakan sebagai lapangan sepakbola, arena motocross dan lokasi belajar mengemudi di kawasan Lamnyong | Foto: Boy Nashruddin Agus/Sumaterapost.com

Kondisi floot way Krueng Aceh pada Rabu petang, 20 Januari 2021 ketika dipotret dari jembatan Limpok-Meunasah Papeun | Foto: Boy Nashruddin Agus/sumaterapost.com

Kondisi kawasan bantaran sungai Krueng Aceh, Banda Aceh. Foto diambil dari kawasan Lambhuk, pada Rabu petang, 20 Januari 2021 | Foto: Boy Nashruddin Agus/Sumaterapost.com

Debit air Krueng Aceh di kawasan Jembatan Pango, Banda Aceh, dipotret pada Rabu, 20 Januari 2021 petang | Foto: Boy Nashruddin Agus/Sumaterapost.com

Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi mengguyur kawasan hulu sungai Krueng Aceh yang memiliki panjang 145 Kilometer itu.

Luapan air sungai yang menjadi lanskap Aceh tersebut bahkan menggeser jembatan gantung penghubung Lamkleng dan Bithak di Kecamatan kawasan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.

Sementara informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh, termasuk di bantaran sungai atau wilayah dataran rendah hingga Kamis, 21 Januari 2021. Namun, potensi tersebut diperkirakan tidak terjadi di kawasan DAS Krueng Aceh.

Berdasarkan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG Koordinator Provinsi Aceh diketahui daerah berpotensi hujan lebat adalah Badar, Deleng Pokhkisen, Darul Hasanah, Babussalam, dan Ketambe di Aceh Tenggara. Selanjutnya Jeumpa, Blang Pidie, dan Setia di Aceh Barat Daya.

Potensi hujan lebat juga diperkirakan terjadi di kawasan Terangun, Blang Jerango, Kuta Panjang, Blang Pegayon, Putri Betung, Blangkejeren, Dabun Gelang, dan Pining di Gayo Lues.

Kemudian Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur, Labuhan Haji, Meukek, Kluet Tengah, Kluet Timur, dan beberapa tempat lain di Aceh Selatan. Potensi hujan lebat juga diperkirakan terjadi di Seruway, Rantau, Tamiang Hulu, Tenggulun, Kejuruan Muda, Bandar Pusaka dan beberapa tempat lain di Aceh Tamiang.

BMKG juga memprediksi curah hujan tinggi di Aceh Timur serta Kota Langsa. “Kami imbau untuk waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat berdampak pada potensi longsor dan potensi banjir,” kata Koordinator Data dan Informasi BMKG Aceh, Zakaria, Selasa, 19 Januari 2021 malam.[]