Petugas mengerahkan alat berat untuk membersihkan reruntuhan akibat gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, Jumat 15 Januari 2021 | Foto: headtopics.com

MAJENE dan Mamuju berduka. Puluhan warga dilaporkan tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat gempa 6,2 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Barat, Jumat, 15 Januari 2021 sekitar pukul 02.28 waktu setempat.

Gempa yang menimbulkan korban dan kerusakan pada bangunan tersebut, merupakan serangkaian lindu yang diawali pada Kamis, 14 Januari 2021 dengan kekuatan 5,9 magnitudo. Setelah gempa pembuka tersebut, berdasarkan analisis BMKG diketahui sebanyak 27 kali gempa yang terjadi di wilayah itu selama dua hari terakhir.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono menegaskan, gempa di Sulawesi Barat ini berstruktur sesar naik. BMKG mengenali tiga sumber diantara sekian gempa tersebut dengan mekanisme yang sama.

Fold thrust belt. Gempa ini memiliki kesamaan dengan gempa yang terjadi di masa lalu terkait dengan Mamuju thrust. Kalau kita lihat sumber gempa ini, struktur sesar naik Mamuju seperti ini,” kata Daryono dalam konferensi pers kejadian gempa bumi secara virtual, Jumat, 15 Januari 2021.

Berdasarkan analisa BMKG, apa yang terjadi di Majene dan Mamuju saat ini berkaitan dengan pengulangan gempa di wilayah tersebut. “Pada 1969, sekitar 23 Februari, dibangkitkan sumber gempa yang sama yaitu dengan kekuatan 6,9 pada kedalaman 13 km,” ungkap Daryono.

Gempa pada tahun tersebut turut memicu gelombang tsunami. Sebanyak 64 orang tercatat meninggal dunia, 97 luka-luka dan sekitar 1.287 rumah rusak.

Saat itu, episenter gempa berada di laut sehingga menimbulkan tsunami setinggi 4 meter di Pelattoang dan di Parasangan. Sementara di Paili ketinggian tsunami hanya 1,5 meter.

Sebelumnya diberitakan, gempa 6,2 magnitudo mengguncang Majene, Sulawesi Barat pada Jumat dinihari, 15 Januari 2021. Pusat gempa berada di gempa berada di 2,98 LS dan 118,94 BT atau 6 Km timur laut Majene.

Selain Majene, gempa ini juga dirasakan hingga Mamuju yang berjarak 34 Km dari pusat gempa. Akibatnya, satu unit rumah sakit roboh dan banyak warga yang terjebak di bawahnya.

Selain itu, gempa tersebut juga menyebabkan kantor Gubernur Sulawesi Barat ambruk serta puluhan bangunan lainnya rusak berat.

Gempa itu juga turut memicu longsor di tiga titik.

Hingga pukul 14.00 WIB tadi, korban yang tewas disebutkan mencapai 34 orang, sebanyak 637 luka-luka dan 15 ribu warga mengungsi. Adapun korban yang tewas sebanyak 26 diantaranya berasal dari Mamuju.

Dikhawatirkan korban tewas terus bertambah karena banyak yang terjebak di bawah reruntuhan gedung. Proses evakuasi terus dilakukan oleh para relawan bersama SAR, termasuk menyelamatkan pasien dan petugas di rumah sakit yang roboh.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di Mamuju dan sekitar wilayah Majene untuk mewaspadai gempa susulan. Mereka juga diminta untuk menjauhi area pantai lantaran dikhawatirkan terjadinya tsunami.

“Pusat gempa ada di pantai memungkinkan terjadinya longsor bawah laut sehingga masih atau dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih di pantai atau di pinggir laut,” kata Dwikorta pada konferensi pers.

Dia juga mengingatkan warga untuk tidak menunggu peringatan dini tsunami.[]