Polresta Banda Aceh bersama BKSDA berhasil menyita sejumlah satwa liar dilindungi dari rumah tersangka bandar sabu, TJ, di kawasan Banda Raya, Rabu, 13 Januari 2021 | Foto: Media Center Polresta Banda Aceh

POLISI Resort Kota Banda Aceh berhasil menyita satwa yang dilindungi dari rumah TJ, seorang tersangka bandar sabu-sabu, di Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Rabu, 13 Januari 2021. Beberapa satwa yang diamankan tersebut seperti cenderawasih, kakak tua, dan burung merak. Selain itu, di rumah tersangka juga diamankan macan tutul dan macan kumbang yang sudah diawetkan.

Penyitaan ini dilakukan polisi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, setelah TJ berhasil diciduk oleh BNN Pusat bersama Bareskrim Polri di Kampung Jawa, Banda Aceh, medio akhir Desember 2020 lalu.

TJ mengoleksi satwa yang dilindungi tersebut tanpa dilengkapi dengan izin dari instansi terkait. Hal tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

“Barang bukti ini bukan dijual, tapi hiasan rumah, mungkin punya hobi, tapi salah,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, SIK, saat menggelar konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Kamis, 14 Januari 2021.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP Muhammad Ryan Citra Yudha yang ikut mendampingi Kapolresta, menyebutkan polisi akan terus mengawal peredaran satwa dilindungi di Banda Aceh. Polisi juga masih menyelidiki cara pelaku menyelundupkan burung cenderawasih ke Aceh.

Polisi menduga burung cenderawasih dibawa melalui jalur laut secara ilegal, lantaran tidak mungkin diselundupkan dengan pesawat karena harus masuk karantina. Dugaan ini diperkuat dengan kepemilikan boat besar oleh tersangka.

“TJ sendiri punya boat besar juga yang saat ini dijadikan barang bukti terkait kasus narkoba oleh BNN Pusat,” kata Ryan.

Istri TJ kepada polisi juga mengaku bahwa tersangka sudah 10 tahun mengoleksi satwa liar tersebut.

Terkait hal ini, Kasubbag TU BKSDA Erwan Candra berharap masyarakat Aceh turut membantu pihaknya untuk memerangi perdagangan ilegal satwa liar yang dilindungi. Apalagi menurutnya pelanggaran Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem banyak terjadi di Aceh.

Erwan juga berharap awak media mau menyosialisasikan kepada masyarakat terkait status satwa liar yang dilindungi.

“Kepada masyarakat yang memiliki satwa liar untuk segera mengembalikan kepada pihak yang berwenang untuk dilepas kembali ke habitatnya,” ujar Erwan.

Hal senada disampaikan PEH Madya BKSDA drh Taing Lubis. Dia menyebutkan BKSDA memiliki call centre di seluruh Aceh yang dapat dipergunakan untuk menginformasikan pelanggaran UU Nomor 5 tahun 1990 tersebut.

“Dari kasus ini, negara mengalami kerugian sebesar 3 sampai 5 miliar,” kata drh Taing.

Taing merincikan usia macan tutul yang telah diawetkan dan menjadi koleksi tersangka diperkirakan mencapai 12 sampai 13 tahun. Sementara macan kumbang yang juga sudah diawetkan diperkirakan berusia tujuh tahun.

Selain dijerat dengan UU penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, TJ bakal dijegal dengan Pasal 21 ayat (2) huruf (b) dan (d) Jo Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Dalam pasal itu disebutkan, “setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan keadaan mati.”

Selain itu, setiap orang juga dilarang memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

“Bagi mereka yang melanggar dapat diancam pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta,” pungkas Kapolresta.[]