“Seorang tentara menodongkan senjata ke arah saya sambil menanyakan yang mana Arjawati. Saya diam saja. Kakak juga terdiam ketakutan.”

Kutipan di atas merupakan salah satu keterangan keluarga korban penghilangan paksa yang terjadi di Aceh, pada 23 November 2002 lalu. Namanya Arnilawati. Dia merupakan adik korban penghilangan paksa, Arjawati, seorang warga Desa Pante Kuyun Kecamatan Setia Bakti Kabupaten Aceh Jaya.

Keterangan tersebut lantas direkam dalam sebuah artikel berjudul “Di Mana Kakakku?” dan dimuat di ‘Museum HAM Lorong Ingatan’ yang baru saja diluncurkan secara virtual oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Kamis, 21 Januari 2021.

Selain artikel tentang kisah penghilangan paksa terhadap Arjawati itu, Museum HAM Lorong Ingatan tersebut juga menarasikan keterangan-keterangan keluarga korban dalam kasus kekerasan yang pernah terjadi dalam konflik Aceh masa lalu. Kisah pilu Zainuddin atau akrab disapa Bang Doi tentang menghilangnya Kasmi, adik kandungnya, juga dicatat dengan baik oleh KontraS dalam Museum HAM tersebut.

Sepenggal catatan tentang pembunuhan tokoh-tokoh Aceh, semisal Prof Dayan Dawood, Prof Safwan Idris, T Djohan, Djafar Siddiq dan Nasiruddin Daud, juga tak luput dari sorotan Museum HAM Aceh versi digital itu.

“Museum yang kita bangun ini dalam rangka upaya memorialisasi Lorong Ingatan yang pernah digelar beberapa waktu lalu,” ungkap Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra dalam webinar dan launching Museum HAM Aceh virtual via Zoom Meeting.

Dia menyebutkan museum HAM tersebut merupakan cita-cita KontraS Aceh yang sudah lama menjadi mimpi. Namun karena keterbatasan, pihaknya tidak mampu membangun museum tersebut secara fisik. Alhasil KontraS bersama Asia Justice and Rights (AJAR) serta Transitional Justice Asia Network (TJAN) kemudian menggagas Museum HAM Lorong Ingatan, yang kini dapat diakses secara luas melalui situs museumham.kontrasaceh.or.id.

Selain kesaksian para keluarga korban, di museum digital itu juga disajikan galeri foto tentang lokasi-lokasi penyiksaan di masa konflik Aceh. Salah satunya adalah galeri foto Rumoh Geudong.

“Banyak yang sudah lupa tentang tragedi-tragedi di Aceh, seperti Jambo Keupok, Simpang KKA, Teungku Bantaqiah dan tragedi Krueng Arakundo. Jika ini terus dibiarkan, maka generasi muda nantinya akan menganggap kisah-kisah masa konflik itu bukan fakta,” kata Hendra lagi.

Meskipun demikian, Hendra mengaku dalam Museum HAM Lorong Ingatan tidak mengangkat cerita-cerita sadis tentang kasus penghilangan paksa, penyiksaan dan pembunuhan para tokoh Aceh tersebut. Namun, artikel ataupun konten yang disajikan lebih kepada narasi-narasi keluarga korban.

Dia turut mempersilakan, apabila ada aparat keamanan nantinya hendak meluruskan informasi yang tersaji dalam museum tersebut. Namun, kata Hendra, dengan catatan informasi pembanding yang diberikan dapat disertai dengan data-data dan fakta di lapangan serta dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Diskusi sekaligus launching Museum HAM Aceh itu turut menghadirkan narasumber lain, seperti Direktur Program Museum HAM Munir, Ali Nusahid. Dalam pemaparannya, Ali Nursahid mengapresiasi launching Museum HAM Aceh yang sudah lama dicita-citakan tersebut. “Museum ini memberikan makna penting sebagai identitas politik kita sebagai bangsa,” ujar Ali Nursahid.

Dia bahkan optimis bahwa Aceh mampu lebih baik lantaran memiliki sumber daya yang cukup untuk mewujudkan Museum HAM.

Ali Nursahid turut mencontohkan Museum Tsunami Aceh yang dibangun untuk mengingat tentang bencana akhir tahun 2004. Menurutnya, Museum HAM juga dapat dibuat sedemikian rupa.

Lebih lanjut, Ali Nursahid turut menyarankan agar Museum HAM Aceh tidak sekadar berkutat pada artikel kesaksian korban semata, tetapi juga dibuat kreatif dalam bentuk lain seperti melalui podcast, media sosial, flyer atau juga versi YouTube.

Selain Ali Nursahid, webinar tersebut juga menghadirkan salah seorang penulis buku ‘Tank Merah Muda’, Raisa Kamila. Dia menceritakan bagaimana proses pembuatan catatan tentang pelanggaran HAM yang pernah terjadi di masa reformasi, yang kemudian dibukukan dalam bentuk cerita menarik.[]