BANJIR dan longsor terus “menghantui” kawasan Aceh sejak dua bulan terakhir. Air naik turun di sejumlah titik seakan menjadi langganan. Aceh Utara, Lhokseumawe, Langsa, Aceh Timur, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang menjadi kawasan longsor dan banjir hampir saban pekan. Setidaknya demikian Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) hampir saban hari melaporkan.

Dari data BPBA diketahui 44 kali kejadian bencana di Aceh sepanjang bulan Januari 2021, dan yang paling dominan adalah bencana banjir. Sementara salah satu kawasan terparah adalah Aceh Timur pada Jumat, 1 Januari 2021 lalu. Pada kejadian itu, sebanyak 56 desa pada 12 kecamatan terdampak.

Begitu pula dengan Aceh Selatan pada Sabtu, 9 Januari 2021 dimana banjir dan longsor melanda sejumlah desa di lima kecamatan.

Ada apa ini? Kenapa banjir seakan kerap terjadi di Bumi Serambi? Adakah yang salah?

Aktivis lingkungan Aceh, TM Zulfikar | Ist

Teuku Muhammad Zulfikar, salah satu pegiat lingkungan menyebutkan kondisi tersebut sangat berpengaruh dengan alih fungsi hutan di Aceh. Berkurangnya kawasan hutan sangat berpengaruh pada serapan air yang akhirnya dapat memicu bencana serupa longsor dan banjir.

“Karena air hujan langsung mengalir begitu saja ke daerah aliran sungai (DAS), celakanya lagi di sepanjang DAS juga sudah banyak yang rusak serta terjadinya sedimentasi,” kata TM Zulfikar kepada sumaterapost.com, Senin, 18 Januari 2021 petang.

Hal tersebut menurut pria yang akrab disapa TM itu, menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air yang terlalu besar saat hujan deras. Alhasil seringkali diberitakan banjir lantaran air sungai meluap dan menggenangi rumah penduduk.

Pernyataan TM Zulfikar ini setakat dengan data yang pernah disampaikan oleh Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) medio Januari 2020 lalu.

Berdasarkan data yang dikantongi HAkA, luas tutupan hutan di Aceh yang tersisa pada 2019 hanya seluas 2.989.212 hektar. Jumlah itu terus menyusut setiap tahunnya.

Soal bencana seperti banjir dan longsor juga telah berulangkali diingatkan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh. Seperti halnya ketika Pemerintah Aceh menggagas pembangunan 12 ruas jalan provinsi di dalam kawasan hutan yang dikhawatirkan mengundang bencana. “Ketika hutan sudah mulai dirusak, tentu akan meningkatkan bencana banjir dan longsor di berbagai daerah, di lokasi pembangunan jalan itu,” kata M Nur selaku Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Rabu, 26 Agustus 2020 lalu.

Banjir dan longsor saat ini sudah menjadi permasalahan klasik bagi Aceh. Sayangnya pemerintah terkesan abai akan hal ini. Tentunya tak salah jika aktivis lingkungan berujar bahwa banjir dan longsor di Aceh menjadi risiko yang harus ditanggung bersama.

“Itu akibat dari perilaku kita sendiri yang harus dipertanggungjawabkan kepada alam semesta,” kata M Nur kepada awak media pada Minggu, 6 Desember 2020 lalu, yang seakan-akan terus menjadi momok di kala kalender berganti tahun baru.

Tentu saja kondisi ini mengingatkan kita akan petikan lagu Ebiet G Ade berjudul ‘Berita Kepada Kawan’.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.[]