INNALILLAHI wa innailaihi raji’un. Aceh kembali berduka dengan kepergian seorang ulama yang saleh lagi dermawan, Habib Muhammad bin Achmad bin Husin al-Attas, Senin, 18 Januari 2021 sekitar pukul 00.05 WIB.

Kepergian almarhum setelah meresmikan Masjid Ba’alawi di Simpang Ulim, Aceh Timur. Pembangunan masjid ini merupakan cita-cita yang akhirnya berhasil ditunaikan oleh Habib tertua dari keluarga zuriat Rasul yang ada di Aceh tersebut.

“Masjid Ba’alawi Aceh ini adalah cita-cita terakhir saya, setelah itu saya pulang,” kata Habib Fahmi Assegaf mengutip pernyataan almarhum yang pernah disampaikan kepadanya, beberapa saat sebelum Habib Muhammad bin Achmad bin Husin al-Attas meninggal dunia.

Terkait kabar duka ini juga disampaikan oleh Ustadz Abdul Somad (UAS) yang bermukim di Riau. Melalui akun instagramnya, UAS mengaku pernah bertemu dengan almarhum di Aceh pada 26 Desember 2020 lalu.

UAS berharap Habib Muhammad bin Ahmad Al Attas dapat memaafkan kesalahannya, meskipun dalam pertemuan tersebut, almarhum kerap menyebutnya sebagai sosok yang baik. UAS bahkan mengaku pernah meminta Habib Muhammad bin Ahmad bin Husein Al Attas untuk mendoakan dirinya. “Doakan ana Habib. Saya merasa jauh dari kata baik di mata para Habaib,” kata UAS saat itu.

Ucapan duka atas meninggalnya Habib Muhammad bin Achmad bin Husin al-Attas juga disampaikan oleh Pimpinan Yayasan Al Fachriyah di Tangerang, Habib Jindan bin Novel bin Salim.

“Kami segenap keluarga besar Ponpes Al Fachriyah turut berduka cita mendalam. Semoga Allah melimpahkan ampunan dan kemuliaan untuk almarhum serta ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan,” tulis Habib Jindan, Senin pagi, 18 Januari 2021.

Al Habib Muhammad bin Achmad bin Husin Al Attas dilahirkan pada malam Senin, 3 Mei 1942 atau 18 Rabiul Awal 1361 H di Dusun Jeruk, Gampong Pucok Alue Dua, Kecamatan Simpang Ulim Aceh Timur.

Sosok almarhum dikenal sebagai ulama yang suka berpindah tempat dan pernah menetap di Makkah beberapa tahun lalu.

Habib Muhammad Al Attas merupakan putera pasangan Habib Achmad bin Husin Al Attas bersama Syarifah Asyura binti Hasan al-Kaff. Almarhum memiliki lima saudara yang semuanya meninggal sebelum mereka beranjak dewasa.

“Sejak kecil, Habib Muhammad sudah menjadi perantau mulai di Medan hingga ke Jakarta. Saat beranjak dewasa, Habib Muhammad memohon izin kepada ibundanya untuk hijrah ke Jakarta. Sebagai musafir yang tidak memiliki sanak keluarga, sang habib pun berpindah-pindah,” kata Sayed Ali Tumpok Teungoh, yang merupakan ajudan pribadi Habib Muhammad bin Achmad bin Husin bin al-Attas.

Habib Muhammad juga pernah mengikuti pengajian di Majelis Ta’lim Masjid An-Nur Petamburan Jakarta Barat pimpinan Habib Achmad bin Ali Alatas. Di majelis tersebutlah Habib Muhammad kelak dipertemukan dengan Syarifah Maryam binti Achmad, putri Habib Achmad bin Ali Alatas.

Habib Muhammad dengan Syarifah Maryam kelak dikaruniai seorang putri bernama Syarifah Fatimah.

Selain di Majelis Ta’lim Masjid An-Nur Petamburan Jakarta Barat, almarhum juga pernah menimba ilmu di Hadramaut Yaman Selatan. Almarhum juga pernah belajar kepada Syeikh Khatib di Singapura.

Beberapa guru almarhum adalah Habib Ali bin Husin al-Attas, Habib Ali al-Habsyi Kwitang Jakarta Pusat, Habib Anis Solo, juga para habaib dan para ulama di Nusantara.

“Dalam sejarah kehidupannya, Habib Muhammad bin Achmad pernah menetap di Makkah Arab Saudi selama 13 tahun. Ia tidak pernah lepas salat lima waktu di Masjidil Haram. Selama hayatnya, tercatat ia menunaikan ibadah haji lebih dari 29 kali,” kisah Sayed Ali Tumpok Teungoh.

Keluarga besar SumateraPost.com turut berbelasungkawa atas meninggalnya salah satu zuriat penerus Rasulullah di Aceh ini. Semoga Allah mengangkat derajatnya, memuliakan kedudukannya, dan menjadikannya salah satu ahli surga. Amin.[]