“TARRR…” Bunyi senjata menyalak kala seorang demonstran mencoba memanjat jendela di pintu masuk ke Gedung Capitol Hill di Washington DC, Rabu, 6 Januari 2021 waktu setempat. Di mulut demonstran itu terlihat mengucur darah segar. Begitu pula di hidung si demonstran juga terlihat cairan merah segar yang mengalir.

Demonstran itu jatuh ke arah teman-temannya, yang sebelumnya mencoba merangsek ke dalam Gedung Capitol Hill. Belakangan diketahui, demonstran yang tumbang itu adalah Ashli Babbit, seorang veteran angkatan udara AS yang sudah mengabdi selama 14 tahun. Dia merupakan seorang wanita pendukung Presiden Donald Trump yang mencoba menggagalkan keputusan kongres AS untuk menetapkan Joe Bidden sebagai pemenang Pemilu.

Sang veteran tumbang di tangan petugas Kepolisian Capitol Hill.

Dari rekaman insiden menunjukkan para pendukung Trump, pada hari itu menghancurkan jendela di pintu ganda yang telah dibarikade dengan furnitur oleh petugas. Terdapat ratusan orang memenuhi lorong untuk menuntut pembatalan pemilihan Joe Biden di belakang Ashli Babbit.

Sang veteran wanita itu berada di barisan depan dan menjadi orang pertama yang mencoba memanjat jendela pintu ganda tersebut. Namun nahas, upaya Ashli Babbit gagal. Dia berhasil dipukul mundur oleh seorang petugas keamanan dengan tembakan mengarah ke dada.

“Dia punya senjata,” ujar salah satu perusuh sebelum bunyi tembakan itu terdengar. Namun peringatan itu terlambat lantaran Ashli Babbit sudah kadung memanjat.

“Mundur, turun, keluar dari jalan,” teriak sejumlah polisi dan agen Secret Service sebelum penembakan itu terjadi, seperti dikisahkan oleh seorang rekan pendukung Trump kepada WUSA 9. Namun Ashli tampaknya tidak mengindahkan panggilan itu. “Ketika kami berlari untuk menarik orang agar kembali, mereka menembak lehernya dan dia jatuh kembali pada saya,” kata rekan pendukung Trump tersebut.

Usai terkena tembakan, Ashli sempat berkata, “tidak apa-apa, ini keren.” Beberapa saat kemudian, wanita tersebut terlihat limbung disusul darah keluar dari mulut dan leher serta hidungnya.

Ashli Babbit sempat dilarikan ke rumah sakit usai terkena tembakan tersebut. Namun, nyawanya tidak dapat ditolong dan dia meninggal beberapa jam kemudian.

Kepala Polisi Washington, Robert Contee, mengatakan Ashli ditembak oleh seorang petugas berpakaian preman. Saat ini, pihak kepolisian sedang mengusut kasus penembakan itu.

Kerusuhan yang terjadi di Capitol Hill itu tak hanya merenggut nyawa Ashli Babbit. Akan tetapi juga membuat sejumlah petugas polisi terluka. Banyak di antara petugas yang menangis dan berharap dapat pulang untuk bertemu dengan keluarganya.

Provokasi Trump

Ashli Babbit merupakan salah satu korban dalam demonstrasi yang diinisiasi oleh Donald Trump. Selain Ashli Babbit, terdapat tigat orang lainnya yang disebut merenggang nyawa dalam kekerasan tersebut.

Bentrokan pukul 15.00 waktu setempat itu terjadi setelah Trump berbicara kepada ribuan pendukungnya. Dia mendorong mereka agar bergerak ke Capitol, gedung tempat para Anggota Senat AS dan DPR berkumpul untuk mengesahkan kemenangan Electoral College Joe Biden dalam Pemilu AS.

Menyikapi dorongan Trump itu, ratusan orang kemudian bergerak. Ada diantara mereka dilaporkan bersenjata dan tidak mengenakan masker. Massa yang bergerak tersebut berhasil melewati beberapa pos petugas keamanan hingga tembus ke Rotunda.

Penembakan terhadap Ashli Babbit tidak menghentikan pendukung Trump mengambil alih ruang kongres. Mereka berhasil menerobos barikade polisi dan menduduki panggung Senat, seraya berteriak, “Trump memenangkan pemilihan itu.”

Di antara pengunjuk rasa juga berhasil menduduki kantor Pelosi, Ketua DPR AS, sembari mengejek.

Tak lama setelah kerusuhan pecah, Trump kemudian berkicau di akun tweet pribadinya agar massa “tetap damai”. Dia kemudian kembali memposting video yang mengatakan bahwa pendukungnya “sangat spesial” di dalam Capitol.

Trump juga mengaku mencintai mereka dan memahami rasa sakit yang dialami demonstran. Meskipun demikian, mantan Presiden AS itu meminta massa untuk pulang.

Hal senada juga disampaikan Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat, yang meminta massa untuk mundur. Dia mengatakan pemberontakan yang dilakukan pendukung Trump dipicu karena hasutan.

Situasi agak mereda setelah pengerahan Garda Nasional untuk membantu polisi DC sekitar pukul 6 sore. Anggota parlemen yang sebelumnya terkepung berhasil diselamatkan petugas dan kembali ke Capitol untuk melanjutkan proses sertifikasi kemenangan Joe Biden.

Korban tewas

Kerusuhan yang terjadi di Capitol Hill, Amerika Serikat, menelan korban jiwa. Dari beberapa sumber menyebutkan empat orang demonstran tewas dan satu polisi gugur.

Mereka yang tewas tersebut bukanlah orang sembarangan, tetapi memiliki latar belakang yang luar biasa. Rata-rata korban yang tewas lantaran terkena timah panas sesaat memasuki area gedung Capitol.

Korban pertama yang diketahui tewas adalah Ashli Babbit, 35 tahun, seorang warga dari Huntington, Maryland. Babbit yang bernama asli Ashli Elizabeth McEntee pernah menjabat sebagai penerbang senior di Angkatan Udara AS sejak 2004 hingga 2008. Aslhi Babbit juga tercatat sebagai seorang anggota Cadangan Angkatan Udara dari 2008 hingga 2010.

Selain itu, Babbit juga pernah menjadi Pengawal Nasional Udara dari 2010 hingga November 2016 di AS.

Korban lainnya yang tewas dalam kerusuhan tersebut adalah aktivis media sosial Trumparoo, Benjamin Philips. Dia menjadi sosok yang mengoordinir mobilisasi massa untuk bergerak dari Pennsylvania ke Washington.

Dari situs Bloomberg disebutkan, Benjamin Philips yang berusia 50 tahun itu datang ke lokasi dengan menumpang sebuah van.

Philips merupakan pengembang web dan pendiri Trumparoo, situs media sosial untuk pendukung Presiden Donald Trump.

Dua korban lainnya belum diketahui secara pasti latar belakang mereka. Namun, kedua korban diketahui adalah Kevin Greeson, 55 tahun, dari Athena, Alabama. Seorang lainnya adalah Rosanne Boyland, 34 tahun, dari Kennesaw, Georgia.

Sikap Internasional

Kerusuhan yang terjadi di Capitol Hill, Washington DC, menjadi sorotan internasional. Apalagi kerusuhan tersebut dilatarbelakangi oleh kekecewaan pendukung kandidat presiden Donald Trump terhadap hasil Pilpres di negara itu.

Presiden Iran Hassan Rouhani yang selama ini berseteru dengan Amerika Serikat pun ikut berbicara. Dia menyebutkan kerusuhan itu menjadi bukti lemahnya demokrasi barat.

Rouhani juga mengetakan Trump sebagai “orang yang tak sehat. “Apa yang kita saksikan tadi malam dan hari ini di Amerika menunjukkan betapa lemahnya dan rentannya demokrasi Barat dan betapa lemahnya landasan,” kata Rouhani.

Rouhani juga berharap Joe Biden dapat mengembalikan Amerika ke posisi yang layak.

Sementara pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri menyamakan kerusuhan tersebut dengan protes di Hong Kong pada 2019 lalu. “Ketika peristiwa terjadi di Hong Kong, sebagian orang Amerika dan media Amerika memberikan tanggapan berbeda,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, seperti dilansir BBC, Kamis, 7 Januari 2020.

Hua Chunying menyebutkan peristiwa di Hong Kong malah lebih parah jika dibandingkan Washington. Namun, menurutnya, “tak satupun demonstran sampai meninggal.”

Hal senada disampaikan Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy. Dia menyamakan kerusuhan Washington dengan revolusi di Ukraina yang menggulingkan presiden dukungan Rusia, Viktor Yanukovich, pada 2014.

Sementara Kementerian Luar Negeri Turki mengajak semua pihak di Amerika Serikat untuk berprilaku dengan “mengendalikan diri dan akal sehat.” Turki berharap situasi di AS dapat segera pulih.

“Kami yakin AS akan mengatasi krisis politik internal ini dengan cara yang matang,” bunyi siaran pers Kementerian Luar Negeri Turki seperti dilansir Anadolu Agency.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, pun ikut bersedih mengetahui apa yang terjadi di kongres AS. Dia bahkan menyebut Donald Trump harus bertanggungjawab karena tidak mau kalah dalam Pemilu Presiden itu.

“Saya sangat menyesal bahwa Presiden Trump belum mengakui kekalahan sejak November dan juga tidak melakukannya kemarin. Keragu-raguan tentang hasil pemilihan dikobar-kobarkan dan menimbulkan situasi yang membuat peristiwa tadi malam terjadi,” kata Angela Merkel.

Kecaman atas peristiwa itu juga datang dari negara sekutu AS, Inggris. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, bahkan menyebut insiden tersebut sebagai “pemandangan yang memalukan.”

“Amerika Serikat mewakili demokrasi di seluruh dunia dan sekarang sangat penting adanya transfer kekuasaan yang damai dan tertib,” tulis Boris Johnson di Twitter.

Tak hanya mereka, beberapa pejabat tinggi negara-negara Eropa, NATO, bahkan Amerika Latin pun menyayangkan peristiwa Capitol Hill. Apa yang terjadi di gedung kongres itu menurut mereka telah mencoreng status Amerika Serikat sebagai “kiblat demokrasi” modern di dunia.

“Dengan kejadian yang disesalkan ini, Amerika Serikat mengalami hal-hal yang sama yang telah dipicunya di negara-negara lain akibat kebijakan-kebijakan agresinya,” tulis pemerintah Venezuela, menanggapi rusuh Capitol Hill.[]