Ilustrasi demo anti-Prancis usai keputusan Presiden Macron terkait penayangan ulang kartun Nabi Muhammad di Majalah Charlie Hebdo

PENGADILAN Paris telah menjatuhkan hukuman penjara mulai dari empat tahun hingga seumur hidup kepada lebih dari selusin orang, yang diduga terlibat dalam aksi penembakan terhadap kartunis Charlie Hebdo dan pelanggan di supermarket Yahudi pada Januari 2015 lalu.

Putusan pengadilan tersebut mendapat pujian dari pengacara para korban dan juga aktivis setempat. Menurut mereka putusan itu merupakan kemenangan untuk keadilan dan kebebasan berbicara.

Putusan pengadilan ini akhirnya lahir setelah berlangsung selama tiga bulan yang terkadang traumatis dan berulang kali ditunda lantaran pandemi virus corona.

Di antara belasan terhukum tersebut adalah Hayat Boumeddiene, mantan mitra Amedy Coulibaly yang divonis bersalah atas pembunuhan seorang polisi wanita. Dia juga divonis terlibat dalam pembunuhan terhadap empat orang di supermarket Yahudi.

Pengadilan in absentia di Paris juga memvonis bersalah terhadap Boumeddiene, yang dinyatakan terlibat dalam “mendanai terorisme” dan masuk dalam jaringan kriminal “teroris”. Boumeddiene seperti dilansir aljazeera.com, diperkirakan masih hidup di Suriah dan kini masuk dalam pengejaran interpol.

Sementara Coulibaly disebutkan sebagai rekanan para pria bersenjata yang berada di balik serangan mematikan terhadap sejumlah pekerja Majalah Charlie Hebdo.

Sebelumnya diberitakan, Charlie Hebdo diserang oleh sekelompok pria bersenjata setelah memuat kartun yang disebut sebagai Nabi Muhammad di majalah satir itu pada 7 Januari 2015. Serangan mematikan itu kemudian diikuti dengan pembunuhan terhadap seorang polisi wanita Prancis pada 8 Januari, dan serangan terhadap supermarket kosher Hyper Cacher, di selatan Paris sehari kemudian.

Ketiga penyerang yang diduga memiliki hubungan dengan al-Qaeda dan ISIS tersebut ditembak mati dalam penyergapan polisi.

Memperingati serangan tersebut, kantor Charlie Hebdo kembali merilis ulang penayangan kartun yang disebut sebagai Nabi Muhammad itu beberapa bulan lalu. Tindakan ini menyakiti ummat muslim sedunia yang memicu protes dan boikot produk Prancis. Presiden Prancis Emmanuel Macron yang merestui Charlie Hebdo dan menyebut bahwa Islam berada di ambang krisis pun tak luput dari hujatan masyarakat Muslim di dunia, yang memprotes penayangan ulang kartun provokasi tersebut.

Penduduk Muslim menyebutkan penerbitan ulang kartun tersebut merupakan tindakan provokasi yang memojokkan Islam. Apalagi kartun Charlie Hebdo mencoba mengaitkan bahwa Islam identik dengan terorisme.[]