PENEMUAN kasus infeksi mutasi virus corona (Covid-19) baru di Inggris memicu kewaspadaan dan kekhawatiran dunia. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson memperingatkan, virus corona baru ini 70 persen lebih cepat menular.

Johnson menganggap kemunculan jenis baru virus corona ini menjadi penyebab lonjakan penularan Covid-19 di London dan selatan Inggris dalam beberapa waktu terakhir.

Puluhan negara segera memberlakukan larangan dan pembatasan kedatangan (travel ban) turis dari/ke Inggris demi mengantisipasi penyebaran kasus Covid-19 yang disebabkan jenis baru virus corona baru tersebut. Mulai dari Kanada, Prancis, Rusia, Argentina, Belanda, Ceko, Estonia, Denmark, Hong Kong, Iran Maroko, Turki, India, Australia, hingga Indonesia melarang masuknya warga negara Inggris.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan bahwa pemerintah melarang WNA dari Inggris memasuki wilayah Indonesia baik secara langsung maupun transit dari negara lain.

Namun, bagi WNA dan WNI dari wilayah Eropa dan Australia serta WNI dari Inggris diberikan pengecualian untuk tetap bisa masuk ke wilayah Indonesia dengan syarat, yakni harus menunjukkan hasil negatif tes menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di negara asal yang berlaku maksimal 2 x 24 jam sebelum jam keberangkatan.

Setelah hasil PCR negatif, WNA dan WNI dari Eropa dan Australia, serta WNI dari Inggris harus melakukan karantina selama minimal lima hari di tempat akomodasi karantina khusus yang telah disediakan oleh pemerintah.

Wiku menyebut, pemerintah dalam hal ini telah menyediakan 17 hotel dengan kapasitas 3.570 kamar sebagai tempat isolasi mandiri. Setelah itu, mereka wajib melakukan tes PCR ulang. Apabila hasilnya negatif, maka pelaku perjalanan WNA non-Inggris itu diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanannya di Indonesia.

Walaupun negara-negara telah ramai menutup perbatasan dari Inggris, mutasi virus corona tersebut sudah terdeteksi di sejumlah negara Eropa.

Lembaga Pusat Pencegahan dan Pengendalian Wabah Eropa (ECDC) menyatakan, infeksi virus corona jenis baru telah ditemukan di beberapa negara di Benua Biru seperti Islandia, Denmark, dan Belanda.

Sementara itu, beberapa media lokal melaporkan kasus penularan serupa juga telah terdeteksi di Belgia dan Italia dalam beberapa hari terakhir.

Varian baru virus corona dari Inggris itu juga terdeteksi di negara bagian New South Wales, Australia. Pemerintah negara bagian mendeteksi kasus infeksi mutasi corona terhadap dua orang penduduk yang baru kembali dari Inggris pada Selasa (22/12).

Kepala Dinas Kesehatan New South Wales, dr. Kerry Chant, menyatakan bahwa dua orang tersebut dinyatakan positif Covid-19 saat tiba di Australia. Setelah spesimen mereka diteliti lebih lanjut, ternyata virus yang menginfeksi mereka adalah jenis yang sudah bermutasi.

Di Sydney, Menteri Besar New South Wales menyatakan, jenis virus yang menulari sejumlah orang di Pantai Avalon mirip dengan yang terdeteksi dari pasangan yang baru pulang dari Inggris tersebut.

Meski penemuan kasus corona jenis baru ramai dibicarakan sejak akhir pekan lalu, seorang analis kesehatan independen Inggris, dr. John Campbell mengatakan, mutasi virus corona itu pertama kali terdeteksi pada akhir September lalu di Kent, Inggris.

Sejauh ini, para peneliti di Inggris belum bisa membuktikan apakah virus itu lebih ganas dan membuat orang yang tertular menampakkan gejala yang lebih parah.

Sementara itu, Afrika Selatan juga menemukan varian baru virus corona yang berbeda dari yang ditemukan di Inggris. Pemerintah Afrika Selatan menyatakan, mutasi virus Covid-19 yang ditemukan di negara itu memicu lonjakan infeksi hingga jumlah pasien yang meninggal.

Dilansir Associated Press, Selasa (22/12), menurut pejabat lembaga kesehatan dan peneliti, jenis baru virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan itu diberi nama 501.V2. Dari penelusuran, sebagian besar kasus infeksi Covid-19 di negara itu saat ini tertular virus jenis baru itu.

Virus Covid-19 jenis baru di Afrika Selatan ini dilaporkan lebih cepat menular ketimbang mutasi virus yang ditemukan di Inggris.

Lebih cepat menular

Pemerintah Inggris memperkirakan varian baru virus corona lebih cepat menular. Namun, tidak ada kecenderungan untuk menyebabkan penyakit yang lebih serius, lebih sulit untuk dideteksi, atau memengaruhi kemanjuran vaksin.

“Varian baru tersebut diperkirakan memiliki kemampuan transmisi hingga 70 persen lebih tinggi,” tulis Kedutaan Besar Inggris Jakarta dalam pernyataan terkait varian baru covid-19, dikutip Kamis (24/12).

Inggris menyatakan telah bertindak secara cepat, transparan, dan bertanggung jawab untuk mendukung perang global melawan virus corona.

Hingga kini, asal muasal varian baru covid-19 belum diketahui namun kemampuan analisis genomik dan sistem pengawasan Inggris memungkinkan untuk mengidentifikasi varian baru tersebut.

“Mutasi virus adalah hal yang wajar – semua virus bermutasi seiring dengan waktu dan varian baru muncul secara berkala,” jelas Kedubes Inggris.

Pemerintah Inggris juga bekerja sama dengan mitra-mitra internasional untuk mengurangi penyebaran covid-19 untuk menyelamatkan nyawa.

“Kami berkoordinasi secara erat dengan mitra-mitra internasional dan bekerja dengan segera untuk meminimalkan gangguan sebaik mungkin. Kami sangat berharap bahwa transparansi Inggris dan tindakan cepat akan memungkinkan pengambilan keputusan untuk kembali ke situasi yang lebih stabil sesegera mungkin,” terang Kedubes Inggris.

Sejumlah negara di dunia telah menutup akses ke Inggris setelah munculnya jenis virus corona baru yang disebut sangat menular dengan cepat, di antaranya Singapura, Filipina, Korea Selatan, India, Hong Kong, China, dan Indonesia.[] Sumber: CNN Indonesia