RINAI hujan yang turun mengguyur Kompleks Pemakaman Massal Korban Tsunami Siron, Aceh Besar, Aceh, Sabtu, 26 Desember 2020, tidak menyurutkan semangat puluhan orang untuk menyambangi lokasi itu. Mereka terlihat khusyu’ berdoa dan membaca yasin.

Di sisi lain, sekelompok warga keturunan Tionghoa terlihat membakar dupa. Mereka lantas menancapkan beberapa dupa di sebidang tanah yang di bawahnya terdapat 46.718 jiwa korban tsunami pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu.

Kompleks pemakaman Siron merupakan satu di antara sekian banyak kuburan massal korban tsunami di Aceh. Beberapa tempat lain yang menjadi titik kuburan massal korban tsunami juga dapat ditemui di Ulee Lheue, tepatnya di depan puing Rumah Sakit Umum Meuraxa atau berada di depan Taman Meuraxa hari ini. Selain itu, kompleks kuburan massal korban tsunami Aceh juga dapat dijumpai di kawasan Lampeuneurut, Darussalam, Kajhu-Baitussalam, Lhoknga hingga Leupung, bahkan hingga Aceh Barat dan Pidie.

Selayaknya kuburan massal, tidak ada batu nisan yang dipacak untuk menandakan siapa yang dikubur di sana. Warga yang datang ke lokasi untuk berdoa hanya dapat menduga-duga saja, bahwa keluarga mereka yang meninggal dikuburkan di sana.

Desi, salah seorang warga Prada Banda Aceh, misalnya. Dia yakin bahwa sang ayah yang hilang saat tsunami menerjang Banda Aceh pada 16 tahun lalu dikuburkan di pemakaman Siron. Ada seseorang yang selamat menyebutkan bahwa saat kejadian, ayahnya berada di Peunayong dan menjadi korban amukan gelombang hari itu.

Sementara Amin, warga Lamreh yang saat kejadian berdomisili di Punge Jurong, yakin bahwa anaknya yang hilang dikuburkan di kawasan Lamkunyet-Lampeuneurut.

Hal lain diyakini pula oleh sebagian besar warga pesisir Ulee Lheue yakin bahwa jasad keluarga mereka dimakamkan di Kuburan Massal Meuraxa. Begitu pula dengan sebagian warga Kajhu yang yakin bahwa keluarga mereka dimakamkan di pemakaman terdekat, di kawasan mereka.

Semua hal itu tidak ada yang pasti lantaran pasca Aceh dihumbalang tsunami, pengurusan jenazah korban dilakukan secara massal oleh para relawan. Pemakaman pun dilakukan dalam kondisi darurat sehingga semua ras dan golongan bercampur dalam satu kompleks terdekat, dimana jasad itu ditemukan. Semua keluarga korban yang hidup memakluminya. Tidak ada pusara untuk melepas rindu. Bagi mereka yang hendak merawat ingatan atas kepergian orang-orang tercinta, kini hanya dapat menyaksikan nama-namanya diukir di Ruang Sumur Doa Museum Tsunami atau di monumen PLTD Kapal Apung Punge Blang Cut. Ada juga nama-nama korban yang meninggal dunia disematkan di monumen Masjid Tgk Dianjong dan kompleks kuburan massal masing-masing area.

Peristiwa itu sudah lama berlalu, tepatnya 16 tahun yang lalu. Bagi sebagian orang di Aceh, peristiwa yang amat dahsyat tersebut belum dapat dilupakan. Banyak orang yang dicintai meninggal dunia karena amukan gelombang pasang air laut hari itu. Diantara mereka yang selamat juga masih menaruh harapan besar agar keluarga mereka yang hilang dalam bencana itu masih hidup di suatu tempat. Tidak sedikit pula di antara mereka yang masih hidup, setelah sempat merasakan asin dan panasnya lumpur tsunami itu, didatangi mimpi-mimpi buruk tentang tsunami.

Tsunami Aceh yang terjadi pada akhir 2004 lalu terjadi saat warga Aceh baru saja merayakan Idul Fitri dan menanti kedatangan Idul Adha. Peristiwa besar ini mudah diingat karena berada di antara dua momen hari besar Islam tersebut. Selain itu, amuk gelombang Selat Malaka juga tak lekang dari ingatan para ummat Nasrani karena baru saja merayakan Natal dan menyambut Tahun Baru pada tahun itu.

Kejadian ini turut menimbulkan luka mendalam bagi para keluarga korban yang selamat. Sebanyak 160 ribu jiwa lebih warga Aceh yang tercatat meninggal dunia dalam kejadian itu. Jutaan warga yang selamat terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Bencana tersebut juga menyebabkan banyak orang hilang.

Gubernur Nova Iriansyah dalam momen peringatan 16 tahun tsunami mengatakan, bencana yang melanda Aceh pada 2004 lalu telah meninggalkan banyak duka. Namun di balik itu, menurut Nova, ada pesan yang wajib diemban yaitu kesadaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana.

“Peringatan ini hendaknya menjadi media untuk membangun kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai bencana, baik alam maupun bencana non alam yang kerap terjadi di negeri kita,” kata Nova pada puncak peringatan yang dilangsungkan di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, Sabtu 26 Desember 2020 kemarin.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Nova turut meminta agar seluruh masyarakat Aceh dapat mengambil hikmah dari ujian tersebut. Dia juga meminta warga Aceh untuk terus bangkit dan menatap hari esok yang lebih baik.

“Kita harus berkarya dalam berbagai aspek kehidupan, terutama pembangunan dan pemberdayaan ekonomi keummatan,” kata Nova.

Hal senada disampaikan Guru Besar Ilmu Fiqh UIN Ar Raniry, Prof Fauzi Saleh. Dia mengatakan tsunami adalah ujian yang harus terus dijalani. Musibah tersebut menurutnya adalah cara Allah menguji dengan tujuan meningkatkan derajat manusia.

“Dengan memberikan ujian, Allah mengangkat harkat dan martabat kita,” kata Fauzi. “Seandainya Anda bersabar, maka kita akan mendapatkan kenikmatan sebagaimana samudera yang tidak bertepi.”

Sementara Bupati Aceh Besar Mawardi Ali di kompleks pemakaman Siron mengatakan, momen peringatan 16 tahun tsunami adalah waktu bagi masyarakat Aceh untuk mengenang dan mengirimkan doa kepada para syuhada.

“Kita memperingati tsunami ini sebagai refleksi bagi kita sekaligus mengirimkan doa kepada para syuhada yang syahid 16 tahun silam,” katanya.

Petir menggelegar di langit Siron. Para peziarah mengaminkan doa masing-masing. Mereka lantas berteduh di pondok-pondok kompleks pemakaman, setelah langit tak lagi mampu membendung tangisnya petang Sabtu jelang akhir tahun 2020 itu.[]