Ilustrasi salah seorang pelanggan menggunakan masker saat berada di warung kopi, di Aceh | Foto: Boy Nashruddin Agus/Sumaterapost.com

SELALU laki-laki yang lebih banyak terjaring (operasi yustisi),” ungkap Juru Bicara Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG) kepada awak media beberapa waktu lalu.

Data tersebut disampaikan SAG kepada awak media terkait keberhasilan menjaring jumlah pelanggar protokol kesehatan yang dilaksanakan pemerintah Aceh jelang akhir tahun 2020.

Berdasarkan data yang dikantongi SAG dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diketahui persentase jumlah pelanggar protokol kesehatan di Aceh mencapai lebih dari 10 ribu orang. Jumlah tersebut merupakan akumulasi operasi yustisi yang digelar pemerintah dalam beberapa waktu, sejak awal September hingga Desember 2020.

Pada operasi yustisi bulan September-November 2020 terjaring 10.088 pelanggar protokol kesehatan. Sebanyak 8.456 orang atau 84 persen diantaranya merupakan kaum pria. Sementara kalangan perempuan yang terjaring razia protokol kesehatan hanya mencapai 1.632 orang atau 16 persen saja.

Operasi yustisi belakangan kembali digelar di Aceh pada 1-7 Desember 2020. Dalam operasi itu, petugas menggaruk 883 orang yang komposisinya didominasi oleh laki-laki sebanyak 712 orang.

Hasil operasi yang selanjutnya dilakukan kurun waktu 8-13 Desember 2020, petugas kembali menjaring 691 dari total 841 pelanggar protokol kesehatan dari kalangan pria.

“Trendnya tampak konsisten, jumlah laki-laki yang terjaring selalu di atas 80 persen dari total pelanggar protokol kesehatan dalam setiap periode waktu operasi yustisi itu dilakukan,” kata SAG.

Data pelanggaran tersebut menurut SAG, tidak serta merta menunjukkan kalangan perempuan di Aceh lebih patuh pada protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Akan tetapi, fenomena ini lebih kepada kebetulan semata. Apalagi menurutnya kaum pria di Aceh kerap terjebak operasi yustisi di warung kopi atau cafe. “Begitu juga di jalan raya,” lanjutnya.

Seperti diketahui, warung kopi di Aceh banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat bekerja, belajar, bahkan bersosialisasi dengan sesama. Meskipun pandemi corona sempat menghantui daerah tersebut, akan tetapi rutinitas menghabiskan waktu di warung kopi tetap dijalankan masyarakat di Aceh jika tidak disebut: candu.

Bagi masyarakat Aceh, warung kopi menjadi destinasi tepat untuk membunuh suntuk usai lelah bekerja atau beraktivitas. Selain itu, banyak pihak memanfaatkan WiFi gratis yang disediakan setiap warung kopi di Aceh untuk hal-hal tertentu.

Seperti halnya M. Rizal, salah seorang pekerja lepas yang saban hari melahirkan produk desain di warung kopi. “Sebagai pekerja lepas, kita tidak memiliki kantor tetap sehingga memanfaatkan warung kopi yang memiliki akses WiFi kencang dan nyaman untuk bekerja,” kata M Rizal ketika ditemui SumateraPost, di salah satu warung kopi di Banda Aceh.

Meskipun demikian, M Rizal mengaku tidak mengenyampingkan protokol kesehatan selama nongkrong di warung kopi. Dia tetap menggunakan masker meskipun di waktu-waktu tertentu, masker tersebut dilepas. “Kan pas ngopi maskernya dilepas. Apalagi kalau warungnya sepi,” ujar laki-laki berusia 28 tahun itu.

Dia mengaku kerap melihat para petugas datang ke warung kopi selama teror Covid-19 melanda daerah tersebut. “Ada sih yang sial, mungkin, pas datang petugas lupa naruh masker dimana. Namun yang pasti kita selalu menggunakan masker saat keluar rumah,” katanya.

SAG mengatakan bagi para pelanggar protokol kesehatan yang tertangkap, kerap diberikan sanksi sosial oleh petugas, seperti menyanyikan lagu nasional atau lagu daerah, membaca surat pendek Alquran bagi yang beragama Islam, atau diminta mengucapkan janji untuk tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut.

Hal serupa juga diberikan kepada para pelanggar protokol kesehatan di jalan raya. Sanksi sosial yang diberikan petugas bahkan sampai membersihkan fasilitas umum, menyapu jalan, atau memungut sampah. “Pelanggaran Protkes yang dilakukan semuanya tidak menggunakan masker,” tambah SAG.

Di waktu berbeda, Anwar, salah seorang warga Aceh Besar mengaku pernah terjaring razia masker yang diterapkan pemerintah. Ketika ditanya sanksi apa yang paling berat diberikan petugas, Anwar mantap menjawab, “menyanyikan lagu Indonesia Raya.”

“Saya lupa liriknya, apalagi pas sekolah dulu sering bolos upacara bendera,” kilah Anwar seraya tertawa, mengingat pernah terbata-bata karena dikenakan sanksi menyanyikan lagu wajib tersebut.[]