VAKSIN yang selama ini diuji di Bandung belum dapat dipakai untuk mencegah Corona Virus Disease (Covid-19). Saat ini, vaksin tersebut baru memasuki fase tiga tes yang dilakukan.

Demikian disampaikan oleh Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad, Prof Dr Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K), M.Mi, dalam dialog produktif bertajuk “Menjawab Berbagai Keraguan soal Vaksin”. Dialog yang dipandu oleh Kamal Ramdan selaku Tim Komunikasi Publik Komite Penanganan Covid-19 (KPCPEN) bekerjasama dengan Kominfo itu berlangsung pada Rabu, 4 November 2020 kemarin.

Prof Kusnandi menyebutkan vaksin tersebut nantinya baru dapat dipergunakan dan diperjualbelikan jika sudah lulus fase tahap tiga.

“Vaksin ini harapan besar kita untuk membentengi supaya kejadian ini bisa berkurang,” kata Prof Kusnandi.

Dia mengatakan uji vaksin fase satu dan fase dua telah dilakukan di Wuhan, Tiongkok. Pengujian vaksin dilakukan disana lantaran Wuhan merupakan daerah pertama ditemukannya virus Corona.

“Jadi fase satu itu dilakukan di China, itu dilakukan pada orang di China kurang lebih awal-awalnya 125 orang,” jelas Prof Kusnandi. Namun, sebelum vaksin tersebut diuji pada manusia, tim peneliti sebelumnya telah melakukan uji vaksin pada tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Menurutnya pada uji vaksin terhadap tumbuhan memperlihatkan hasil memuaskan. Tumbuhan yang diuji tidak mengalami kerusakan sehingga uji vaksin ditingkatkan ke fase dua dengan percobaan terhadap hewan.

“Kemudian diuji pada monyet dan tikus, tidak terjadi perubahan yang signifikan baik pada limpa, usus, maupun hati,” kata Prof Kusnandi lagi.

Setelah dirasa aman, uji vaksin selanjutnya dilakukan pada manusia fase satu. Dari hasil uji fase satu dan fase dua pada manusia tidak terlihat hal-hal yang menyebabkan gangguan kesehatan, baik pada imunigesitas, keamanan maupun aveksi.

Tim medis di Wuhan juga melakukan uji vaksin dengan dosis tinggi dan dosis rendah. Akan tetapi menurut Prof Kusnandi, hasil dekompresinya sama-sama baik. “Jadi kita menggunakan dosis rendah, dengan harapan hasilnya juga baik,” lanjutnya lagi.

Dia berharap masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir dengan vaksin Covid-19 yang nantinya diberikan kepada manusia. Apalagi vaksin itu disebutnya serupa dengan imunisasi yang selama ini disuntikkan kepada bayi, baik di puskesmas maupun posyandu.

“Proses uji klinis sekarang ini sementara waktu cukup baik. Kami telah melakukan 1.620 suntikan pertama kemudian 1.650 suntikan kedua, sampai sekarang tidak ada yang mengkhawatirkan. Memang ada yang drop out, tapi drop outnya bukan reaksi vaksin melainkan karena memang tidak bekerja ada penyakit lain seperti tipes sehingga dia tidak melakukan imunisasi kedua sehingga dia drop out,” ungkap Prof Kusnandi.

Dalam dialog interaktif itu, Prof Kusnandi turut menyebutkan bahwa 17 orang yang drop out itu bukan disebabkan oleh vaksin. Namun disebabkan pindah kerja dan juga sakit lantaran adanya penyakit penyerta yang lain seperti tipes.

Prof Kusnandi bahkan optimis vaksin Covid-19 yang sedang diuji di Bandung tersebut lebih aman, jika dibandingkan dengan uji klinis vaksin untuk penyakit lain. Namun dia tidak mencegah apabila pemerintah menginginkan vaksin dari luar. “Indonesia mau vaksin dari luar, silakan. Saat ini vaksin kita belum bisa dipakai,” ujarnya seraya mengatakan dirinya tidak ingin buru-buru dalam melakukan uji vaksin tersebut karena berkaitan dengan kesehatan manusia.

Dia juga yakin dengan perusahaan Biofarma dari Indonesia yang mampu memproduksi vaksin selama ini.

Meskipun demikian, Prof Kusnandi tidak menampik akan ada efek vaksin terhadap orang-orang tertentu seperti gatal-gatal atau kulit merah-merah. Hal ini menurutnya lumrah karena bahan dasar vaksin itu terdiri dari lima campuran yang diantaranya termasuk pengawet dan antibiotik.

“Memang ada orang-orang yang tidak tahan dengan imunisasi, makanya setelah divaksin jangan pulang dulu hingga 30 menit. Kita tunggu reaksinya dulu. Kalau orang ini alergi vaksin, tanya dulu. Kalau alergi dan punya riwayat alergi vaksin, ya jangan disuntik supaya aman,” pungkas Prof Kusnandi.

Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam konferensi pers daring yang ditayangkan kanal YouTube BNPB, Kamis, 5 November 2020, mengakui banyak informasi simpang siur yang beredar di masyarakat terkait Covid-19. Satgas Covid-19 mengimbau masyarakat tidak resah dengan berbagai informasi tersebut.

“Pemerintah pasti akan menyediakan vaksin yang terbukti aman, dan lolos uji klinis dan efektif sesuai rekomendasi WHO,” kata Wiku.[]