SITUS tsunami “Kapal Dua” yang sempat diperjuangkan untuk objek wisata baru di Kota Banda Aceh kini terkesan terlantar. Dari beberapa kali amatan ke lokasi, tidak ada pembenahan berkelanjutan yang dilakukan untuk “Kapal Dua” itu. Lokasi objek wisata yang beberapa tahun lalu terlihat bersih dan rapi itu pun kini sempat ditutupi rumput liar, sebelum akhirnya dibersihkan setelah lama diabaikan.

Kapal Patroli Lepas Pantai (KPLP) dan KN 430 Malahayati adalah nama dua kapal yang kini “berlabuh” di Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh itu. Ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung yang berjarak sekitar 300 meter ke arah timur. Pesona dua kapal yang berada di tengah pemukiman penduduk itu juga kalah jauh dengan situs tsunami lain, seperti “Kapal di Atas Rumah” di kawasan Lampulo.

Amatan di lokasi, dua kapal yang salah satunya terbuat dari fiber itu, terkesan dibiarkan begitu saja. Tidak ada pagar atau bahkan plang bertanda Dinas Pariwisata yang menegaskan bahwa kapal itu adalah objek wisata. Selain itu, tidak ada travel guide atau papan keterangan bahwa dua objek kapal di lokasi tersebut juga ikut “terlempar” dari pantai saat tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.

Objek wisata “Kapal Dua” diduga kini mulai diabaikan oleh pemerintah setempat | Foto: Boy Nashruddin Agus

Hal ini patut disayangkan lantaran pemerintah telah mengucurkan uang untuk membebaskan lahan tempat dua kapal itu bercokol. Anggaran daerah juga sempat disedot untuk pembuatan lantai di kawasan objek wisata tersebut. Pemerintah juga sempat menggelontorkan anggaran untuk membangun fasilitas MCK, tiang lampu LED tenaga surya, dan juga pembangunan tapak kaki untuk kapal besi KN 430 Malahayati.

“Sebelumnya juga sempat diwacanakan untuk pembangunan pagar kompleks kapal tersebut. Akan tetapi rencana itu belum berlanjut hingga sekarang, saya tidak tahu kenapa,” kata Azhari, salah seorang warga Punge Blang Cut, Banda Aceh.

Objek wisata situs tsunami ini berada di Punge Blang Cut, Banda Aceh, yang lokasinya tidak begitu jauh dari PLTD Kapal Apung | Foto: Boy Nashruddin Agus

Azhari dulunya pernah mengantongi SK sebagai penjaga kebersihan di area wisata itu. Namun SK tersebut tidak diperpanjang lagi sejak kontraknya berakhir pada 2019 lalu. “Dulu saya yang bertugas memotong rumput dan menjaga kebersihan di kawasan ini. Sekarang tidak lagi, karena SK saya tidak diperpanjang,” kata Azhari lagi.

Meskipun begitu, Azhari dan beberapa warga setempat sesekali ikut membersihkan objek “Kapal Dua” itu. Hal ini dilakukan agar lokasi wisata itu dapat dimanfaatkan sebagai taman bermain untuk anak-anak mereka.

“Kalau tidak dibersihkan, bahaya juga,” lanjut Azhari.

Warga setempat berharap objek Kapal Dua itu kembali mendapat perhatian dari instansi terkait, tidak hanya dari sisi kebersihan saja. Namun juga dari sisi keamanan. “Apalagi beberapa waktu lalu sempat ada anak-anak yang jatuh dari kapal miring (KPLP) karena tidak ada safety,” ujarnya.[]