Ilustrasi

BIREUEN dan Aceh Singkil masuk dalam zona merah Corona Virus Disease (Covid-19) di Aceh. Sementara 21 daerah kabupaten dan kota lainnya merupakan zona oranye.

Data tersebut disampaikan Juru Bicara Satgas Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani berdasarkan data epidemologis per 1 November 2020, kepada awak media, Kamis, 5 November 2020 kemarin.

Menurut pria yang akrab disapa SAG tersebut Aceh Singkil sebelumnya pada periode 27 Oktober-4 November 2020 masih tercatat sebagai daerah zona oranye. Sementara Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara berada pada zona merah.

“Kini Pidie Jaya dan Aceh Utara sudah berhasil membebaskan diri dari zona merah dan menjadi zona oranye. Sedangkan Bireuen tetap zona merah, seperti dua pekan sebelumnya,” kata SAG.

Dari data yang disampaikan SAG diketahui hingga 5 November 2020 sudah 7.563 orang di Aceh terkonfirmasi Covid-19. Sementara jumlah orang dalam perawatan mencapai 1.403 orang, sudah sembuh 5.881 orang, dan meninggal dunia sebanyak 279 orang.

Penambahan kasus konfirmasi baru sebanyak 37 orang meliputi warga Pidie sebanyak 9 orang, Langsa 8 orang, Aceh Besar 7 orang, Banda Aceh 5 orang, dan Aceh Jaya 2 orang. Sementara itu, warga Aceh Selatan, Aceh Utara, Aceh Singkil, Nagan Raya, dan Pidie Jaya masing-masing 1 orang konfirmasi positif Covid-19. Sisanya, 1 orang warga dari luar daerah.

Sedangkan penderita Covid-19 yang dilaporkan sembuh bertambah 95 orang, yang terdiri dari warga Bireuen mencapai 64 orang, Aceh Tengah 20 orang, Subulussalam sebanyak 6 orang, Pidie Jaya 3 orang, dan Sabang sebanyak 2 orang.

“Penderita Covid-19 di Aceh yang dilaporkan meninggal dunia hari ini bertambah 2 orang, masing-masing warga Banda Aceh dan warga Aceh Selatan,” jelasnya.

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian dalam sambutan pada pelantikan Gubernur Aceh Nova Iriansyah di Gedung DPRA meminta semua pihak optimis dalam menghadapi Covid-19.

Dalam sambutan itu, Mendagri Tito Karnavian juga meminta Pemerintah Aceh dan semua pihak untuk pandai membaca peluang dengan terobosan-terobosan yang kreatif dan inovatif. Menurutnya hal itu sangat diperlukan di tengah tantangan situasi sulit pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

“Sehingga justru dapat memicu percepatan pembangunan dengan segenap sumber daya yang telah tersedia, ini adalah pandemi Covid-19, ini adalah tantangan,” kata Mendagri Tito.[]