MASSA kembali menggelar demonstrasi di Kantor Kedutaan Besar Prancis, di bilangan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu, 4 November 2020 pagi. Sedikitnya 1.200 personel polisi dikerahkan untuk melakukan pengamanan di aksi lanjutan terkait pernyataan ujaran kebencian yang disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap Muslim dunia itu.

Informasi yang dihimpun menyebutkan massa datang ke lokasi sejak pukul 10.00 WIB pagi tadi. Berbagai spanduk dibentang dalam aksi itu. Polisi pun turut mengerahkan water cannon dan baraccuda di lokasi.

Unjuk rasa terhadap pernyataan Macron yang dinilai telah menyakiti ummat Muslim di dunia itu sebelumnya juga berlangsung di beberapa daerah, di Indonesia. Masyarakat di Aceh, provinsi yang memberlakukan Syariat Islam, juga ikut menggelar demo serupa pada Selasa, 3 November 2020 kemarin. Aksi unjukrasa dipusatkan di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Berbagai organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Aceh ikut hadir dalam aksi tersebut. Mereka pun menggelar sejumlah spanduk dan poster yang mengecam Macron. Beberapa poster juga terlihat menyerukan aksi boikot terhadap produk Prancis.

“Sikap Presiden Prancis tersebut sangat melukai hati dan perasaan umat Islam di seluruh dunia,” kata Junaidi Setiaraya selaku koordinator aksi di Banda Aceh, kemarin.

Dalam orasinya, Junaidi juga menyampaikan bahwa hak kebebasan berpendapat tidak dimaknai secara keblablasan, tetapi juga wajib menjaga hak-hak orang lain. “Termasuk tidak mengina agama apapun, apalagi sampai menghina tokoh utama suatu agama,” katanya.

Aliansi Ormas Islam dan Umat Islam Aceh dalam aksi mereka yang turut mendapat pengawalan dari pihak kepolisian itu turut menyampaikan enam poin tuntutan. Pertama, mengutuk keras Presiden Prancis Emmanuel Macron atas pernyataannya yang menghina dan melecehkan Nabi Muhammad.

Selanjutnya, massa juga meminta seluruh umat Islam di dunia untuk memboikot seluruh produk dari Prancis yang beredar di pasaran.

Massa juga meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh untuk segera memutuskan hubungan diplomatik dan kerjasama dalam bidang apapun dengan Prancis.

Aksi itu juga turut mengimbau agar pengusaha-pengusaha Muslim di dunia, terutama di Aceh, untuk tidak lagi memperjualbelikan seluruh jenis produk yang berasal dari Prancis.

Aksi pemboikotan terhadap produk Prancis sebelumnya juga sudah dilakukan di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti di Turki, Quwait, Mesir, Qatar dan negara Arab lainnya termasuk Palestina serta beberapa negara di Afrika. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya juga telah merilis puluhan produk Prancis yang saat ini beredar di Indonesia, seperti Garnier, Danone, Christian Dior, Louis Vuitton, Lacoste, L’Oreal, dan Lancome.

Produk Prancis yang diketahui dipasarkan di Indonesia lainnya adalah Cartier, Chanel, Kraft, Loreal, Celine, SFR, Orange, Peugeot, TOTAL, AXA, Hermes, Yves Saint Laurent, Total (migas), Dior, Carrefour, Accor, Mont Blanc, dan Balenciaga.

Sebelumnya salah satu perusahaan Prancis juga pernah beroperasi di Aceh yaitu PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) Lhoknga, Aceh Besar. Namun perusahaan yang memproduksi Semen Andalas Indonesia (SAI) itu secara resmi telah berganti nama menjadi PT Solusi Bangun Andalas (SBA) setelah saham yang dimiliki PT Holcim Indonesia Tbk diakusisi oleh Semen Indonesia Group melalui PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB).

Massa di Banda Aceh juga meminta dunia internasional untuk mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah menghina dan melecehkan Nabi Muhammad.

“Mengharapkan kepada segenap ummat Islam di seluruh dunia agar bersatu menjaga dan membela Islam dan simbol-simbolnya.”[]