Ilustrasi | Foto: Boy Nashruddin Agus

ORANG tua kandung bocah RA, yang meninggal karena dibunuh saat hendak menolong ibunya di Birem Bayeun, FF, meminta netizen untuk tidak lagi menyebarluaskan foto korban dalam kondisi penuh luka bacokan yang dinilai sadis tersebut. Permintaan itu disampaikan FF selaku ayah kandung korban di akun media sosialnya, Jumat, 16 Oktober 2020.

Saya FF, dengan sangat memohon kepada all netizen, baik secara perorangan ataupun dalam kelompok, untuk tidak lagi memposting foto almarhum anak saya…,” tulis FF, dalam postingan di akun facebook yang telah dibagikan puluhan kali oleh netizen tersebut.

Dia mengatakan foto yang tersebar selama ini tidak layak dipublikasikan karena mengandung unsur kekerasan. Dia berharap kenangan buruk tersebut cukup disimpan di hatinya sebagai ayah kandung korban.

Saya juga mempertimbangkan kondisi psikologis ibu dari anak saya, ibu saya, mertua, dan orang-orang yang sudah merawat RA,” tulis FF lagi seraya mengingatkan bahwa RA saat kejadian masih di bawah umur dan kasus itu masuk dalam ranah UU Perlindungan Anak.

FF sangat berharap pengguna media sosial tidak lagi mengirimkan gambar-gambar mengenaskan anaknya yang menjadi korban pembunuhan itu. Namun, FF mengizinkan apabila foto yang disebar memperlihatkan aktivitas RA jauh sebelum kejadian tragis itu.

Jurnalis Jangan Ungkap Identitas Korban

Koordinator Forum Jurnalis Peduli Anak (FJPA) Aceh, Rahmat Fajri, setakat dengan permintaan FF. Rahmat bahkan berharap hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh netizen, tetapi juga media massa dengan bersandar pada pedoman Dewan Pers terkait isu anak.

“Wartawan merahasiakan identitas anak dalam memberitakan informasi tentang anak khususnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan pelanggaran hukum atau pidana atas kejahatannya,” kutip Rahmat Fajri kepada sumaterapost.com, Jumat, 16 Oktober 2020.

Selain itu, kata dia, wartawan juga diharapkan memberitakan secara faktual dengan kalimat/narasi/visual/audio yang bernuansa positif, empati dan/atau tidak membuat deskripsi/rekonstruksi peristiwa yang bersifat seksual dan sadistis.

Dia menganjurkan setiap pemberitaan yang berkaitan dengan isu anak dapat berpedoman pada edaran Dewan Pers tersebut. Hal ini berbeda jika berita tentang anak hilang atau disandera. Untuk kasus tersebut, jurnalis diperbolehkan mengungkapkan identitas anak, “tapi apabila kemudian diketahui keberadaannya, maka dalam pemberitaan berikutnya, segala identitas anak tidak boleh dipublikasikan dan pemberitaan sebelumnya dihapus.”

Fajri turut menekankan agar menjadi perhatian penting jurnalis dalam memberitakan isu anak adalah jika berkaitan dengan korban kekerasan maupun pelecehan seksual. “Kita minta media massa untuk tidak menuliskan identitas lengkap dari anak korban kekerasan maupun pelecehan seksual, karena itu akan berpengaruh terhadap psikologi si anak, dan membuat dia semakin trauma,” kata Rahmat Fajri.[]