Harimau Sumatra (panthera tigris Sumatrae) yang berhasil dilepas dari jeratan di kawasan dekat hutan lindung Terangun, Gayo Lues | Foto: BKSDA

SATU ekor Harimau Sumatra atau panthera tigris sumatrae dilaporkan terkena jerat di sekitar perkebunan masyarakat, dekat kawasan hutan lindung Terangun, Gayo Lues, Minggu, 18 Oktober 2020. Upaya penyelamatan berhasil dilakukan oleh Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh pada Senin, 19 Oktober 2020.

“Saat ditemukan Harimau Sumatra tersebut tergeletak dengan kondisi sangat lemah dikarenakan jerat kumparan kawat yang menggulung pada bagian leher, dada, dan punggung,” kata Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, kepada awak media, Senin, 19 Oktober 2020 kemarin.

Tim baru dapat melepas harimau berusia sekitar 2-3 tahun itu setelah melakukan pembiusan terhadap satwa dilindungi tersebut. Dari hasil identifikasi diketahui, harimau itu berjenis kelamin betina dengan berat 45-50 Kilogram.

Tim juga tidak menemukan bekas luka terbuka pada tubuh harimau, kecuali lecet dan memar. Dari pemantauan awal terlihat harimau tersebut tidak dapat secara optimal menggerakkan kaki belakangnya, sehingga diputuskan untuk diobservasi ke Kantor STPN 3 Blangkejeren.

Tim BKSDA Aceh selamatkan harimau sumatra yang terkena jerat di dekat kawasan hutan lindung Terangun, Gayo Lues | Foto: BKSDA

Harimau Sumatra itu bakal dilepasliarkan ke habitat alaminya dalam tiga hingga empat hari ke depan, jika menunjukkan perkembangan kesehatan yang bagus selama masa observasi. Namun jika kesehatannya tidak membaik, maka akan dibawa untuk observasi kesehatan secara intensif ke Banda Aceh.

Harimau Sumatra merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/Setjen/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P:20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi. Selain itu, Harimau Sumatra juga masuk dalam spesies terancam kritis yang beresiko tinggi untuk punah di alam liar berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species.

Hal tersebutlah yang membuat BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga Harimau Sumatra dengan tidak merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa. Selain itu, BKSDA juga mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati.

Warga juga diimbau untuk tidak memasang jerat atau pagar jerat babi, racun, pagar listrik tegangan tinggi yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi. Terlebih perbuatan tersebut dapat dikenai sanksi pidana sesuai aturan perundang-undangan.

“Di samping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Harimau Sumatra dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar,” lanjut Agus.

BKSDA turut mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh masyarakat Desa Malelang Jaya yang antusias membantu proses evakuasi Harimau Sumatra di kawasan hutan Terangun. “Sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap kelangsungan hidup harimau itu, mereka mengusulkan nama “Jaya” pada harimau betina tersebut,” pungkas Agus Arianto.[]