Prof Farid Wajdi

PANDEMI virus corona disease 2019 (Covid-19) tidak hanya menyerang sisi kesehatan manusia, akan tetapi juga melanda sektor ekonomi dan juga dunia pendidikan. Serangan ini dinilai sudah tahap mengkhawatirkan lantaran banyak cendikiawan yang mulai diam, di saat kondisi negara sedang karut marut dan di ambang resesi.

Hal ini merupakan salah satu fokus tausiah yang disampaikan Prof Farid Wajdi, salah satu Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh, dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam, Rabu, 9 September 2020 malam.

“Hari ini kampus sudah diam, kemudian perguruan tinggi secara umum seperti tidak berfungsi, mahasiswa hari ini sudah seperti terbelenggu, ini persoalan yang sebenarnya. Karena kalau cendikiawan senjatanya itu berfikir, kata orang berfikir sejenak lebih baik daripada bekerja berhari-hari,” lanjut Prof Farid Wajdi.

Dia menilai peran penting cendikiawan sangat diperlukan di tengah kondisi yang serba tidak jelas ini. “Kalau orang-orang ini tidak bergerak, tidak ada harapan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, mantan Rektor UIN Ar Raniry itu juga menyikapi fenomena islamofobia yang terus dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu. Dia juga menyentil tentang orang-orang yang dinilai alergi terhadap para penghafal Alquran, yang belakangan marak jadi sorotan. “Itu orangnya tidak jelas. Jangan-jangan agamanya tidak jelas,” kata Prof Farid.

Belum diketahui apakah statemen tersebut berkaitan dengan pernyataan Menteri Agama RI, Fachrul Razi, saat mengisi webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu, 2 September 2020 lalu.

Dalam webinar tersebut, seperti dilansir detik.com, Menag Fachrul Razi memaparkan strategi radikalisme masuk melalui seorang anak good looking atau paras yang menarik. Menag Fachrul Razi juga menyebut paham radikal juga dapat masuk melalui seseorang yang hafiz, dan menguasai bahasa Arab yang bagus.[]