Almarhum Haji Harun Keuchik Leumik | Foto: Boy Nashruddin Agus

INNALILLAHI wa innailaihi raji’un. H Harun Keuchik Leumik, salah satu tokoh pers di Aceh dikabarkan meninggal dunia, Rabu, 16 September 2020 sekitar pukul 14.00 WIB. Budayawan tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di kediaman almarhum, di Lamseupeung, Banda Aceh.

Kabar duka dari tokoh Aceh tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Belum diketahui penyebab sakit sosok yang juga dikenal sebagai sejarawan di Aceh tersebut. Namun informasi awal yang diterima menyebutkan H Harun Keuchik Leumik meninggal dunia lantaran faktor usia.

H Harun Keuchik Leumik lahir di Banda Aceh, 19 September 1942. Semasa hidup, almarhum pernah mengenyam pendidikan selama satu semester di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Di usia muda, almarhum kemudian memutuskan terjun langsung dalam bisnis keluarga yang sejak tahun 1950-an telah memiliki usaha kerajinan emas dan toko emas.

Kendati kehidupan keluarganya berkecukupan, akan tetapi tidak membuat sosok H Harun Keuchik Leumik berpangku tangan begitu saja. Almarhum cukup aktif dalam mengasah kemampuan menulis dengan menjadi wartawan Mimbar Swadaya Banda Aceh di era 1970-an. Kelak media massa tersebut berganti nama menjadi Harian Serambi Indonesia.

Selain itu, di masa mudanya almarhum juga pernah tercatat sebagai wartawan Harian Mimbar Umum Medan, dan terakhir menjadi wartawan Harian Analisa Medan.

H Harun Keuchik Leumik tak hanya dikenal sebagai sosok pengusaha sukses di Aceh. Almarhum juga dikenal sebagai kolektor benda-benda antik dan bersejarah, terutama benda-benda peninggalan Aceh sejak tahun 1980.

Informasi yang dihimpun sumaterapost.com menyebutkan, almarhum memiliki museum pribadi yang berlokasi di rumahnya, di Lamseupeung. Di museum tersebut terdapat ratusan emas kuno yang 95 persennya adalah perhiasan Aceh. Selain itu, di museum mini itu juga terdapat ratusan koin kuno, senjata tajam, Alquran dari abad 13, senjata tajam, dan benda antik lain yang dikumpulkan kurun waktu 30 tahun lamanya.

Almarhum pun pernah mendapat “Piagam Anugerah Kebudayaan” dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Republik Indonesia pada tahun 2006. Haji Harun juga pernah menerima anugerah dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai wujud apresiasi atas koleksinya, berupa rencong raksasa sepanjang dua meter yang ditempa para pengrajin sentra rencong di kawasan Baet, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar.

Sebagai penulis dan wartawan, almarhum juga telah banyak melahirkan karya berupa buku sejak tahun 1998 lalu.

Masjid Haji Harun Keuchik Leumik di Lamseupeung menjadi ikon baru di Banda Aceh | Foto: Boy Nashruddin Agus

Banyak karya yang ditinggalkan almarhum, salah satu yang paling indah adalah Masjid Harun Keuchik Leumik. Masjid ini berada dekat aliran sungai Krueng Aceh dan menjelma menjadi ikon baru di Kota Banda Aceh.

“Kami merasa sangat kehilangan, namun janji Allah tak dapat dihindari. Kepada keluarga yang ditinggalkan semoga bersabar dan berdoa yang tak pernah putus,” ujar petinggi Majelis Adat Aceh (MAA), Badruzzaman Ismail.[]