SURAT Keputusan Menteri (Kepmen) itu sudah lama ditandatangani. Namun baru akhir Agustus 2020 menjadi trending topik di negeri ini. Ianya bersurat tentang ganja, yang dalam bahasa latin kerap disebut Cannabis sativa.

Tumbuhan itu banyak ditemui di Sumatra, khususnya Aceh. Selama ini tumbuhan ganja masuk dalam jenis narkotika golongan I sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Di dalam UU itu dengan tegas melarang konsumsi, produksi, hingga mendistribusi narkotika golongan I.

Adalah Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang memasukkan ganja sebagai salah satu komoditas tanaman obat. Keputusan itu tertuang dalam surat bernomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian. Keputusan yang mendadak viral ini pun ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari, di awal tahun.

Berdasarkan Kepmen tersebut, ganja termasuk dalam jenis tanaman obat di bawah binaan Direktorat Jenderal Holtikultura Kementan. Ada 66 jenis tanaman obat lain yang masuk dalam daftar itu, termasuk brotowali, lempuyang, sambiloto, kecubung, purwoceng, dan kratom.

“Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan,” bunti diktum ketujuh Kepmen tersebut.

Diduga keputusan itu lahir seiring mewabahnya virus corona di dalam negeri. Para peneliti kemungkinan pusing mencari vaksin anti virus yang mengancam nyawa anak negeri. Lagipula penelitian serupa juga dilakukan oleh University of Lethbridge di Alberta, Kanada. Ada 400 jenis ganja yang dipakai sebagai sample. Dari jumlah itu, sebanya selusin jenis ganja disebutkan memberikan harapan untuk mencegah Corona Virus Disease (Covid-19).

Para peneliti dari Lethbridge mengatakan senyawa cannabidiol (CBD) dalam ganja mengandung komponen pot non-psikoaktif. Komponen tersebut, berdasarkan penelitian, dapat membantu menurunkan jumlah reseptor sel dari virus corona hingga lebih dari 70 persen. “Sehingga peluang masuknya Covid-19 jauh lebih rendah,” ujar Dr Igor Kovalchuk selaku CEO Pathway Rx sekaligus pemimpin penelitian.

Studi tentang ganja juga dilakukan oleh Frontiers in Pharmacology, seperti dilansir detik.com. Dalam penelitiannya, tim menemukan efek positif komponen tetrahydrocannabinol (THC) dalam tumbuhan ganja yang berfungsi melindungi paru.

Para ahli, dikutip dari Medical Daily, juga turut menguji efek ganja pada sindrom pernapasan akut (ARDA) yang menjangkiti tiga juta penduduk dunia. Sindrom ini dapat menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan sesak napas, kulit kebiruan, bahkan kematian.

Covid-19 yang menjadi momok terbaru di dunia diperkirakan akan meningkatkan jumlah orang yang menderita ARDS.

Peneliti lantas fokus pada efek anti-inflamasi dari THC dengan menguji pada hewan yang menderita ARDS. Hasilnya memuaskan. Sebanyak 100 persen kasus dengan subjek hewan percobaan itu mampu menghindari gejala mematikan setelah diberikan THC. Tentu saja penelitian itu masih terlalu dini untuk wacana mengubah status ganja dari golongan narkotika menjadi bahan obat-obatan.

Pun demikian, upaya melegalisasi ganja sebagai tanaman obat telah lama disuarakan oleh beberapa pihak. Lingkar Ganja Nusantara adalah salah satu lembaga yang paling getol menyuarakan hal itu.

LGN beberapa kali kepada awak media pernah mengatakan bahwa zat yang terdapat dalam tumbuhan ganja, memiliki banyak manfaat untuk kepentingan medis. Mereka turut merujuk sejarah di nusantara yang akrab dengan tumbuhan perdu liar tersebut.

Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara, Inang Winarso, seperti dilansir BBC Indonesia mengatakan ganja pertama kali dibawa oleh pedagang dan pelaut Gujarat dari India pada abad ke 14. Ganja juga digunakan oleh pedagang Gujarat sebagai alat transaksi perdagangan di Aceh masa itu.

Dia kemudian mengutip isi kitab Tajul Muluk yang memanfaatkan ganja untuk kepentingan ritual, pengobatan, bahan makanan dan juga pertanian. Dalam kitab yang bertuliskan tangan menggunakan aksara Arab itu juga menyebutkan khasiat tanaman ganja untuk menyembuhkan penyakit kencing manis atau diabetes. Akar ganja direbus dan airnya diminum.

Masyarakat Aceh di masa lalu juga sering menggunakan tumbuhan ganja untuk mengusir hama di kebun kopi. “Untuk pertanian, ganja ditanam di pinggir area persawahan, sehingga hama serangga tidak akan makan padi karena aroma dari daun bunga dan biji itu sudah menyengat buat hewan,” kata Inang seperti dilansir BBC.

Tumbuhan ganja yang semula sah-sah saja dipergunakan di seluruh dunia kemudian dikampanyekan negatif oleh warga Amerika. Hal tersebut berkaitan erat dengan kasus rasial terhadap migran Meksiko yang bekerja di Amerika Serikat.

Inang, kepada BBC mengatakan, para migran Meksiko rajin bekerja karena tiap sore menyeduh daun ganja. “Akibatnya banyak orang Amerika asli yang dipecat karena pemalas,” lanjut Inang.

Dampak dari tergusurnya pekerjaan itulah yang membuat orang-orang Amerika kemudian mengampanyekan hitam tentang ganja. Mereka menyebutkan bahwa para migran Meksiko seringkali mabuk ganja saban petangnya. Para migran ini juga dituding kerap membuat onar dan memperkosa wanita Amerika dibawah pengaruh ganja.

“Tokoh terkenal kampanye rasial anti ganja adalah Harry J Anslinger pada tahun 1930-an. Kampanye hitam itu tidak berdasarkan riset sama sekali,” lanjut Inang.

Pada saat bersamaan, pabrik tekstil dunia juga memanfaatkan ganja sebagai bahan baku pakaian. Hal ini bertolak belakang dengan upaya pengusaha Amerika yang sedang mempopulerkan serat sintetis pabrik untuk bahan pakaian.

Pelarangan ganja kemudian berkembang menjadi isu internasional. Hingga akhirnya pada tahun 1961 keluar Konvensi Tunggal tentang Narkotika yang memasukkan ganja sebagai narkotika. Sementara Indonesia baru merativikasi konvensi tersebut 15 tahun kemudian. Kala itu, Presiden Soeharto yang memimpin negara ini.

Ganja masuk dalam jenis Narkotika dicantumkan dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 8 tahun 1976. Sejak itulah aparat penegak hukum sering memberantas ladang ganja di tanah air.

Keluarnya Kepmen Pertanian tentang ganja tentu saja menghentak warga Indonesia Raya. Pro dan kontra pun menyembul seiring derasnya informasi tentang Kepmen itu.

Tak butuh waktu lama untuk pemerintah mencabut Kepmen tersebut, walaupun bersifat sementara. “Kepmen 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi berkoordinasi dengan stakeholder terkait,” ujar Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha dalam siaran persnya pada Sabtu, 29 Agustus 2020.

Dalam siaran pers itu, Tommy mengatakan pembinaan terhadap ganja menjadi tanaman produktif lain sudah dilakukan sejak tahun 2006. Hal inilah yang membuat aktivitas pertanian ganja masih dalam kategori ilegal di Indonesia.

“Pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat hanya bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh UU Narkotika,” tutur Tommy, seraya mengatakan pihaknya terus bekerja sama dengan BNN dalam menangani tanaman ganja ilegal.[]