Ilustrasi Gajah Sumatra | Foto: Mongabay/Junaidi Hanafiah

DUA puluh tahun Ollo hidup bersama manusia. Bekerjasama menangani konflik gajah hingga akhirnya jantan itu mati pada Kamis, 13 Agustus 2020.

Kabar ini begitu menyedihkan. Terlebih sehari sebelumnya seluruh dunia baru saja merayakan Hari Gajah. Kematian Ollo yang begitu mendadak tentu saja mengundang tanda tanya. Lagipula tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik yang ditemukan di tubuh Ollo.

Ollo merupakan gajah jantan yang ditangkap di Bahorok, Sumatera Utara, pada 20 tahun silam. Saat itu, Ollo berusia empat tahun.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto, yang mendapat kabar buruk tersebut langsung memerintahkan tim ke lokasi. Proses olah tempat kejadian perkara pun dilakukan. Akan tetapi, tidak ada barang mencurigakan yang dapat dikaitkan dengan kematian Ollo.

Informasi yang diterima dari BKSDA menyebutkan, kondisi Ollo sehari sebelum kejadian dalam keadaan normal. Tidak ada tanda-tanda kesehatannya yang menurun. Pagi Rabu, 12 Agustus 2020, Ollo bahkan masih melakukan aktivitas rutin seperti membawa pelepah kelapa untuk pakan para gajah.

Sebelum kematiannya, 13 Agustus 2020, Ollo juga sempat dimandikan oleh mahout di sungai, yang berada di belakang CRU Sampoiniet, Aceh Jaya. Usai dimandikan, sang mahout sempat turun dari atas punggung Ollo untuk mengambil rantai pengikat. Namun tiba-tiba Ollo lari menjauh dari mahout.

Para petugas bersama gajah jinak lainnya sempat mengejar Ollo yang berlarian di seputaran CRU. Gajah Ollo kemudian berlari menyebrangi sungai dan 30 menit kemudian ditemukan tak bernyawa.

Untuk memastikan penyebab kematian Ollo, Kepala BKSDA menginstruksikan nekropsi. Dari hasil pemeriksaan makroskopis sementara pada organ dalam gajah tersebut ditemukan abnormalitas yaitu anemis alias pucat. Pada usus Ollo juga terlihat hiperemi dan sianosis.

“Ditemukan juga banyak cairan pada jantung, jantung pada bagian apek juga diselaputi oleh lemak,” kata Agus.

Meskipun demikian, Tim BKSDA belum dapat menentukan penyebab pasti kematian Ollo yang begitu mendadak tersebut. Guna pengembangan penyelidikan, organ dalam gajah Ollo seperti hati, jantung, usus, limpa, isi usus, dan lidah akan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik. “Ini merupakan kabar yang menyedihkan bagi kita. Dimana sehari setelah diperingati Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus 2020, kita mendapati kabar gajah jinak Ollo mati,” tutur Agus Arianto.

Kematian Ollo kemarin turut menambah daftar kematian Gajah Sumatra sepanjang tahun 2020 ini. Sebelumnya, dalam Diskusi Hari Gajah Sedunia yang dihelat di Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh disebutkan, terdapat sembilan kejadian kasus kematian gajah liar di Aceh. Dalam data yang dipaparkan oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Aceh, Kamaruzzaman, diketahui Aceh Jaya mendominasi kasus terbanyak kematian gajah liar sebelum Ollo.

Di wilayah yang dulunya dikenal dengan sebutan kawasan Meureuhom Daya itu terdapat enam kasus kematian gajah liar. Lima di antaranya saat ditemukan telah menjadi tulang belulang. Sementara sisanya, gajah liar yang mati diketahui berjenis kelamin jantan.

Selanjutnya, dua kasus kematian gajah liar juga tercatat di Aceh Timur. Kedua gajah yang mati itu berjenis kelamin betina. Sementara satu kasus lainnya adalah kematian Salma, gajah betina yang merenggang nyawa di CRU Serbajadi.

Dari paparan BKSDA itu juga diketahui mayoritas gajah yang mati disebabkan oleh konflik dengan manusia. Angka kasus itu mencapai 71 persen. Sementara 13 persen kasus kematian gajah disebabkan oleh perburuan, dan sisanya kematian alami.

Jauh-jauh hari, pemerintah telah menelurkan sejumlah regulasi untuk membantu upaya penyelamatan gajah liar di Aceh. Apalagi gajah yang ada di daerah ini merupakan spesies Gajah Sumatra (Elephans maximus sumatranus), yang masuk dalam spesies kunci. Ada beberapa produk hukum lokal yang dikeluarkan untuk melindungi gajah di Aceh, seperti Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2016.

Pada pasal 69 ayat (1) dalam qanun itu disebutkan, “setiap orang atau korporasi dilarang membunuh, mengeluarkan, membawa, dan/atau memperjualbelikan tumbuhan/atau satwa liar yang dilindungi.

Aturan tentang perlindungan satwa liar juga dibungkus dalam Peraturan Gubenur Aceh Nomor 115 Tahun 2016, tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas, fungsi dan tata kerja Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh. Dalam Pasal 28 Ayat (3) dalam Pergub itu disebutkan, “Seksi konservasi sumber daya alam mempunyai tugas pembinaan, pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi terhadap pelestarian, pengawetan, pemanfaatan kawasan lindung, membantu penanganan penyelesaian konflik satwa liar, serta kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Pemerintah Aceh juga telah mengusulkan beberapa titik di daerah sebagai Kawasan Ekonomi Essensial (KEE) dalam rangka penyelamatan satwa liar. Usulan itu terdiri dari KEE Bengkung-Trumon-Manggamat di Aceh Selatan untuk isu strategis gajah, harimau, orangutan, dan badak.

Selanjutnya Lokop-Serbajadi di Aceh Timur untuk gajah, harimau, orangutan dan badak. Kemudian koridor Beutong sepanjang Nagan Raya, Abdya dan Aceh Barat untuk KEE orangutan serta harimau.

Ada juga koridor kawasan gambut Tripa Babahrot yang diusulkan untuk KEE orangutan serta gambut. KEE usulan lainnya ada di koridor Gunung Salak sepanjang Aceh Utara hingga Bener Meriah untuk spesies kunci gajah dan harimau. Selanjutnya Koridor DAS Peusangan yang meliputi Pidie Jaya, Bireueun, Bener Meriah, hingga Aceh Tengah untuk gajah dan harimau.

KEE lainnya yang diusulkan adalah koridor Aceh Jaya dan Koridor Cot Girek Aceh Utara untuk spesies gajah dan harimau, Koridor Mila-Keumala-Geumpang (Pidie) dan Koridor Seulawah-Jantho (Aceh Besar) untuk spesies gajah, orangutan dan harimau.

Upaya-upaya lain yang dilakukan untuk mengantisipasi konflik satwa liar dengan manusia adalah dengan pembentukan sejumlah Conservation Response Unit (CRU) di Aceh.

Berdasarkan data BKSDA Aceh diketahui terdapat tujuh CRU aktif yang saat ini beroperasi di kawasan. Ketujuh CRU itu adalah CRU DAS Peusangan, CRU Mila, CRU Serbajadi, CRU Cot Girek, CRU Trumon, CRU Alue Kuyun, dan terakhir CRU Sampoiniet tempat gajah jinak Ollo menghembuskan nafas terakhir.[]