Bangkai Harimau Sumatera betina ditemukan mati di kawasan perkebunan warga, di Trumon Timur, Aceh Selatan, Senin, 29 Juni 2020 | Foto: Dok Forum Konservasi Leuser (FKL)

POPULASI Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di habitat aslinya kian menyusut. Jika merujuk data World Wildlife Fund (WWF) disebutkan jumlah satwa liar ini bahkan tinggal lebih kurang 400 ekor saja, pada tahun 2015 lalu.

Perburuan dan perdagangan ilegal diduga menjadi pemicu menyusutnya populasi Harimau Sumatera dalam beberapa tahun terakhir. Berkurangnya mangsa alami di habitat asli hewan karnivora ini juga turut membuat si kucing besar tersebut masuk dalam lingkungan manusia. Alhasil, konflik antara manusia dengan harimau tak terelakkan. Tak jarang, satwa liar itu ditemukan mati karena perangkap yang dipasang warga atau bahkan diracun, seperti kejadian di Trumon, Aceh Selatan Senin, 29 Juni 2020 kemarin.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto membenarkan adanya penemuan seekor Harimau Sumatera berjenis kelamin betina yang mati pada Senin, 29 Juni 2020 kemarin. Temuan ini berawal dari petugas konservasi hendak mengambil camera trap di areal perkebunan warga, di Kecamatan Trumon Timur. Pemasangan camera trap ini dilakukan setelah BKSDA mendapatkan laporan adanya tapak kaki harimau dan enam ekor bangkai kambing di lokasi tersebut.

Belum diketahui penyebab kematian Harimau Sumatra di Trumon Timur tersebut. “Tim dokter hewan yang terdiri dari BKSDA Aceh, FKL, dan PKSL Unsyiah sedang menuju ke lokasi untuk melakukan nekropsi,” kata Agus, kemarin.

Harimau Sumatera merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, kucing besar dengan ciri khas loreng di kulitnya tersebut juga dilindungi dalam The IUCN Red List of Threatened Species yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Saat ini, Harimau Sumatera yang memiliki populasi terbesar di Riau itu berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis dan berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

“BKSDA Aceh mengimbau kepada semua lapisan masyarakat untuk tidak melakukan penanganan konflik satwa liar dan manusia dengan cara-cara yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku,” kata Agus lagi.

Dalam sepekan terakhir, setidaknya dua ekor harimau ditemukan mati di Sumatera. Selain di Aceh, kasus kematian Harimau Sumatera juga dilaporkan terjadi di Desa Ranto Panjang, Kecamatan Muara Batang Gadis, Sumatera Utara pada Kamis, 25 Juni 2020 lalu.

Hewan liar bertaring ini diduga tewas karena racun setelah memangsa seekor kambing. Sama halnya seperti di Aceh, konflik antara manusia dengan Harimau Sumatera juga kerap terjadi di kawasan tersebut.

Harimau Sumatera di habitat alami | Foto: WWF

Perburuan Liar

Informasi yang dirujuk dari WWF menyebutkan berkurangnya Harimau Sumatera secara tidak terkendali karena dipicu oleh berkurangnya jumlah spesies mangsa dan perburuan. Laporan yang dikeluarkan oleh Traffic, program kerjasama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, turut menemukan adanya pasar ilegal yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau di Sumatera.

Dalam studi Traffic terungkap, minimal 50 ekor Harimau Sumatera diburu setiap tahunnya. Apa yang disampaikan Traffic itu turut diperkuat dengan adanya penangkapan empat tersangka oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh beberapa waktu lalu.(*)