Nazi memasuki Wina menandakan aneksasi Austria, 1938 | Foto: Aljazeera/Getty Image

SEORANG pria berusia 48 tahun meninggal karena sebab yang tidak diketahui di rumah sakit Vatikan, Roma, pada Juli 1949. Dia baru saja mengurus identitas palsu atas nama Alfredo Reinhard beberapa bulan sebelumnya.

Bulan-bulan terakhir hidupnya kemudian dihabiskan di sebuah biara di pinggiran selatan Roma.

Namun, kisah tentang siapa dia sebenarnya dan bagaimana berakhir di sana adalah salah satu yang mengarah ke jantung Eropa Nazi, dan pembantaian sekitar 11 juta orang. Termasuk enam juta diantaranya adalah Yahudi.

Philipe Sands seorang profesor di bidang hukum dan pengacara, dalam bukunya The Ratline belakangan mengungkap identitas pria tersebut. Nama aslinya adalah Otto Wächter.

Dia adalah seorang Nazi Austria yang mendapat posisi sebagai Gubernur Krakow, Polandia. Dia juga pernah menjabat sebagai Gubernur di Galicia, wilayah yang mengangkangi perbatasan modern Polandia dan Ukraina. Semasa kepemimpinannya, Otto Wächter mengirimkan ratusan ribu Yahudi ke kematian mereka rentang 1939 hingga 1945.

Perang Dunia II baru berakhir di Eropa sekitar 75 tahun lalu, tetapi seperti yang disebut filsuf Hannah Arendt sebagai “jurang paling gelap dan paling dalam”, justru sebagian pejabat senior dan tingkat menengah Nazi lolos dari mata hukum.

The Redline adalah istilah yang digunakan untuk rute pelarian, yang dirancang oleh simpatisan Nazi bagi para pejabat tersebut meloloskan diri.

Sands dalam bukunya mengikuti jejak Otto Wächter dari Austria, melewati Alpen, Jerman, Polandia, dan Ukraina, sebelum berakhir di Italia. Ini adalah salah satu skenario yang melibatkan Vatikan, Korps Kontra Intelijen Amerika Serikat dan pihak lainnya.

Selama penelitian itu, Sands menggali arsip, makan bersama para putra Nazi serta mendaki pegunungan Alpen. Dia melakukan penelitian tersebut karena kisah Otto Wächter turut melibatkan keluarga Sands.

Awal penelitian tersebut dimulai Sands pada 2010 ketika mendapat undangan pidato tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di Lviv, sebuah kota di Ukraina.

Di sana, Sands menemukan rumah tempat kakeknya, Leon Buchholtz, dilahirkan. Pada tahun 1904, tahun kelahiran Buchholtz, kota itu disebut Lemberg dan merupakan ibu kota regional Kekaisaran Austro-Hungaria.

Sands melakukan semua itu untuk mengisi waktu luangnya selama di Ukraina. Namun, kesibukan itu justru membuat Sands mengetahui jati diri sang kakek yang sebenarnya. Meskipun kakek Sands, Buchholtz, selamat dari perang, tetapi seluruh anggota keluarganya terbunuh.

Sands kemudian mulai meneliti kehidupan Hans Frank, seorang Gubernur Jenderal Polandia masa pendudukan Jerman tahun 1939-1945. Pria ini dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas pembunuhan keluarga Buchholtz.

Frank kelak dihukum karena kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia digantung di Nuremberg.

Dalam perjalanan penelitiannya, Sands mengatur waktu untuk bertemu dengan putra Frank, Niklas. Belakangan, kedua pria itu menjadi teman.

Sand mengatakan, Niklas “membenci ayahnya”, setelah menyatakan, “Aku menentang hukuman mati, kecuali dalam kasus ayahku.”

Tapi dia memperkenalkan Sands kepada putra Nazi lain, yang justru prinsipnya bertolak belakang dengan Niklas. Dialah putra Otto, Horst Wächter.

Pada musim semi 2012, Sands mengunjungi Horst di Schloss Hagenberg, sebuah kastil abad-12 yang hancur di dekat perbatasan utara Austria. Setelah bertahun-tahun menjadi koresponden, akhirnya Horst memutuskan untuk membagikan arsip keluarganya kepada Sands.

Di dalam arsip itu terdapat lebih dari 800 surat antara ibu Horst, Charlotte, dan ayahnya, Otto. Surat itu ditulis dari tahun 1929 hingga 1949. Dalam arsip itu juga terdapat buku harian dan kisah Charlotte tentang kehidupan mereka bersama yang ditulisnya 40 tahun kemudian.

Bersama-sama, mereka merekonstruksi adegan kehidupan pasangan yang pernah dekat dengan anggota paling senior dari partai Nazi, seperti Adolf Hitler dan Heinrich Himmler; tentang seorang pria yang bertanggung jawab atas kematian ratusan ribu pria, wanita, dan anak-anak dan seorang wanita yang menganut ideologi Nazi sama kuatnya; tentang keluarga yang menikmati seni, opera dan alam di tengah-tengah Holocaust; dan upaya putus asa untuk menghindari penangkapan dan keadilan saat perang dunia kedua berakhir.

Kursus Nazi

Kisah ini dimulai pada tahun 1929 ketika Charlotte Bleckmann (20), putri seorang pemilik pabrik baja Austria yang kaya, menerima undangan untuk menghabiskan akhir pekan bermain ski dengan seorang teman.

Di kereta Schneeberg, dia bertemu dengan sorang pengacara Austria berusia 27 tahun.

Pengacara muda itu adalah Otto. Dia merupakan seorang putra dari perwira di Angkatan Darat Austro-Hungaria. Otto saat itu baru menyelesaikan studi di bidang hukum, di Universitas Wina. Universitas yang menjadi tempatnya aktif secara politik.

Sebagai pendukung awal Hitler, dia ikut serta dalam protes besar anti-Yahudi yang diorganisir oleh sebuah organisasi bernama Antisemitenbund di pusat Wina pada tahun 1921. Dia sempat ditangkap dan diadili 14 hari penjara. Pada 1 April 1923, Otto menjadi anggota partai Nazi.

Selama menjalin asmara, Charlotte dan Otto sempat menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan di taman serta naik perahu.

Pada bulan Maret 1931, Charlotte memberi Otto salinan Hitler’s Main Kampf. “Through struggle and love to the end” merupakan satu pesan dari Charllotte untuk Otto yang ditulis di halaman belakang Mein Kampf.

Otto secara resmi menjadi anggota partai Nazi pada Mei tahun itu. Dia lantas mendapat jabatan sebagai bupati partai Nazi di Wina. Kemudian pada April 1932, Otto bergabung dengan SS.

Sayangnya, buku harian Charlotte tidak banyak mengupas tentang kegiatan politik Otto.

Mereka menikah pada 11 September 1932. Charllotte hamil pada saat itu.

Treason dan Gantungan Tinggi

Nazi memenangkan pemilihan federal Jerman pada 5 Maret 1933. Kurang lebih dua pekan kemudian, Hitler mendapat kekuatan absolut.

Anak pertama Charllotte dan Otto, Otto Jr, lahir beberapa hari kemudia, tepatnya 2 April 1933. Setelah itu mereka memiliki total anak mencapai enam orang.

Nazi Austria berusaha menggulingkan pemerintahan Engelbert Dollfuss pada tahun berikutnya, yaitu 25 Juli 1934. Dollfuss adalah seorang fasis, tetapi cenderung dekat dengan Benito Mussolini Italia daripada Hitler. Dia menentang aneksasi (Anschluss) dari Austria seperti yang diinginkan Hitler. Dollfuss juga melarang berdirinya partai Nazi di Austria.

Namun upaya kudeta tersebut gagal meskipun Dollfuss terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Sebanyak 13 orang Nazi ditangkap yang kemudian diadili serta digantung di jalanan Wina.

Keterlibatan Otto dalam plot tersebut tidak jelas. Meskipun demikian dia didakwa oleh Austria karena dianggap melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Otto berhasil lolos dari Wina sebelum berhasil ditangkap.

Tahun Berlin

Setelah beberapa hari tanpa berita, Charllotte mengetahui Otto bersembunyi di Berlin.

Di Jerman, Otto menyelesaikan dinas militernya dan memenuhi syarat untuk praktik hukum. Karirnya di SS kemudian melesat dengan cepat.

Sementara itu, Charlotte kembali ke kota asalnya di Mürrzzuschlag bersama bayi laki-laki mereka. Di kota tersebut, dia menghabiskan waktu dengan menerima pelanggan serta bermain catur.

Pada September 1935, Parlemen Jerman, Reichstag, mengesahkan Hukum Nuremberg. Mereka mulai menelanjangi orang Yahudi berkewarganegaraan Jerman, dan melarang pernikahan antara orang Yahudi dengan orang Jerman non-Yahudi. Hukum Nuremberg juga menjadi pijakan hukum bagi Jerman untuk melakukan penganiayaan secara sistematis terhadap orang Yahudi di negara itu.

Pada musim gugur 1936, setelah berpisah selama dua tahun, Charlotte berkendara dari Austria ke Jerman. Dia menjemput Otto dari barak di Freising, tempat pria itu menyelesaikan dinas militernya di kamp konsentrasi Dachau, dan membawanya ke Berlin. Dachau merupakan kamp konsentrasi pertama yang dibuat oleh Nazi. Kamp ini awalnya merupakan tempat bagi tahanan politik.

Di Berlin, Otto mendapat tawaran pekerjaan di SD, yaitu badan intelijen SS.

Otto kemudian mendapat promosi menjadi SS-Obersturmbannführer pada awal 1937. Promosi ini didapatnya karena dianggap memiliki karakter “tegak dan terbuka”, berpendidikan baik, dengan akal sehat, dan “karakteristik ras” yang sempurna, yaitu “tinggi, ramping, dengan penampilan Nordik”.

Namun, karir Otto berbanding terbalik dengan pernikahannya. Charlotte belakangan mengetahui bahwa Otto berselingkuh. Dan itu bukan yang pertama. Charlotte hamil pada saat itu dan merespons perselingkuhan tersebut dengan menggugurkan kandungannya.

Heinrich Himmler, seorang pemimpin SS, kemudian mempromosikan Otto ke SS-Standartenführer pada Januari 1938.

Akan tetapi apa yang terjadi Austria kemudian justru membuat Wächters tidak lama tinggal di Berlin.

Mimpi Terang

Teman Otto, Arthur Seyss-Inquart menjadi Gubernur Austria pada 11 Maret 1938. Pagi berikutnya, pasukan Jerman berbaris melintasi perbatasan. Aneksasi selesai.

Empat puluh tahun kemudian, Charlotte menuliskan bahwa, “peristiwa tunggal ini mengubah segalanya, dan impian terliar kita, yang tidak pernah kita bayangkan dapat diwujudkan, tiba-tiba menjadi kenyataan.”

“Setiap Nazi merasakan kegembiraan yang begitu besar tentang mukjizat ini, kami semua saling memeluk. Ya, itu adalah salah satu momen paling menentukan dalam hidup kami, dan di antara ratusan ribu orang yang telah melarikan diri ke Jerman dan hidup sebagai ‘ilegal’.”

Tulis Charlotte pada 11 Maret 1938.

Charlotte dan Otto kembali ke Wina tepat pada waktunya untuk menyaksikan kedatangan Hitler.

“Kami pergi ke kota dengan Mercedes besar dan mencari teman-teman kami dan tempat kami ditugaskan. Fischböcks, Lehrs, dan yang lainnya ada di sana. Tiba-tiba kami mendengar teriakan nyaring di kejauhan, yang berubah menjadi tangisan luar biasa. kegembiraan, ‘Heil Hitler’. Mendekati seperti lautan manusia yang bergelombang, semakin dekat dan lebih keras. Jalan menuju Heldenplatz benar-benar penuh, orang-orang berdiri bahu-membahu, sampai Rathaus, di sekitar Ballhausplatz. banyak waktu dan upaya untuk membersihkan rute. Führer berdiri dengan tangan terangkat, menyapa orang banyak, yang berteriak dengan gembira … ledakan kegembiraan spontan dan sepenuh hati. Semua orang terbawa dalam perasaan suka cita yang tulus.”

Tulis Charlotte tentang kedatangan Hitler di Wina.

Otto dan Charlotte telah mengamankan kursi di balkon Heldenplatz. Bagi Charlotte, saat itu bersama Hitler adalah “momen terbaik dalam hidupku”.

Tidak lama kemudian, Otto ditawari posisi sebagai komisaris negara.

Tentang hal ini juga pernah dimuat oleh New York Times, yang menyebutkan “Dr Arthur Seyss-Inquart, Gubernur Austria, telah menunjuk seorang penyelenggara Nazi Putsch pada Juli 1934, Dr Otto Waechter, untuk menjadi Komisaris Negara untuk masalah personel.”

Dalam waktu seminggu dari Anschluss, ketentuan konstitusional baru memungkinkan untuk melakukan reformasi badan publik. Menurut Bagian 3 dari tata cara restrukturisasi layanan sipil Austria, semua orang Yahudi dan sebagian orang Yahudi (Mischlinge) akan secara otomatis diberhentikan.

Otto menjalankan tugasnya dengan “membersihkan” pegawai negeri Austria secara kejam. Dia bahkan memecat beberapa mantan profesor hukum di Universitas Wina. Belakangan, dia memecat sedikitnya 16.237 pegawai negeri. Banyak dari mereka kemudian diangkut ke kamp konsentrasi.

“Dia harus membersihkan semua mantan pejabat yang menentang Hitler. Seperti setiap transisi, ada banyak intrik, tuduhan, dan tuduhan yang harus diselidiki … Nazi berpendapat bahwa dia terlalu lunak dan lawan-lawannya menilai dia terlalu ketat. Siapa pun yang tinggal di pos ini, bakar jari mereka.”

Kesaksian Charlotte dalam buku hariannya.

Beethoven Berkaca Pecah

Pada 9 November 1938 – Kristallnacht (Night of Broken Glass) – Charlotte menghadiri pemutaran perdana drama baru, Cromwell di Burgtheater di Wina. Sementara dia menonton pertunjukan itu, di jalanan Wina, rumah-rumah, toko-toko, dan sinagoge Yahudi digeledah, dibakar, dan dihancurkan.

Dua puluh tujuh orang Yahudi Austria dibunuh selama pogrom. Sekitar 6.000 ditangkap dan dideportasi – hampir semuanya ke Dachau.

Tetapi Charlotte tidak menyebutkan peristiwa-peristiwa itu dalam buku hariannya.


Kisah ini disadur lebih menarik dalam laporan mendalam di Aljazeera. Tulisan yang dilakap judul “Tulisan untuk Seorang Nazi (Letters to a Nazi) tersebut juga memuat tentang eksekusi massa yang dilakukan pemerintahan Nazi dan riwayat perang Jerman dengan tokoh utama Otto. Kisah ini dapat dibaca lebih lanjut dengan meng-klik-tautan ini.(*)