Pembukaan lahan di kawasan timur laut ekosistem Leuser, Aceh | Foto: ran.org

AKTIVIS Rainforest Action Network mengungkap adanya aktivitas pembakaran hutan ilegal di dalam wilayah yang sangat penting bagi habitat salah satu kawanan terakhir gajah Sumatera, di timur laut Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh Timur.

Aksi penyelamatan hutan ini dilakukan justru ketika dunia sedang terhuyung-huyung akibat pandemi virus, yang menyebabkan kekacauan global.

“Penggunaan api untuk membakar hutan merupakan tindakan melanggar hukum Indonesia, dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kebijakan Nol Deforestasi dari perusahaan produsen makanan kecil, diantaranya Unilever, Nestlé, PepsiCo, Mondelēz, General Mills, Kellogg’s, Mars, dan Hershey,” jelas Direktur Kebijakan Hutan Rainforest Action Network, Gemma Tillack dalam siaran pers, Senin, 16 Mei 2020 lalu.

Pembukaan dan pembakaran habitat satwa liar yang kritis ini menurut Gemma, terjadi di dalam konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. IA, yang diketahui menyuplai minyak sawit kepada merek-merek besar di pasar global.

“PT IA (singkatan-red) telah berulang kali terungkap melakukan deforestasi,” tambah Gemma dalam keterangan pers tersebut.

Pada Juli 2019 dan Mei 2019, RAN telah meminta perusahaan merek-merek yang disebutkan diatas, untuk mengeluarkan PT. IA dari daftar suplai mereka. Permintaan ini disampaikan atas dasar pelanggaran kebijakan Nol Deforestasi dan sebagai langkah untuk membangun sistem pemantauan hutan yang proaktif dan transparan untuk Kawasan Ekosistem Leuser.

Lebih dari 530 hektar hutan hujan dataran rendah akan tetap terancam di dalam wilayah konsesi PT. IA. Sejak pemberlakuan morotarium pembukaan hutan untuk kelapa sawit hingga sekarang sudah lebih dari 130 hektar hutan di dalam konsesi PT. IA ditebang. Padahal pada saat bersamaan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta mantan Gubernur Aceh sepakat untuk menegakkan moratorium di Kawasan Ekosistem Leuser.

Alih-alih mematuhi moratorium yang ditetapkan pemerintah, PT IA yang dikendalikan oleh LCM (nama alias-red), seorang pengusaha dan politikus senior Aceh ini, malah berupaya untuk menebangi hutan yang penting secara global di dalam konsesinya.

PT. IA memang masih dalam tahap awal pengembangan perkebunan kelapa sawit baru. Perusahaan ini membersihkan dan membakar hutan hujan dengan harapan dalam beberapa tahun mendatang akan dapat menjual tandan buah sawit ke pasar global, termasuk kepada perusahaan pembeli minyak sawit seperti Unilever, Nestlé, PepsiCo, Mondelēz, General Mills, Kellogg’s, Mars dan Hershey.

Padahal merek-merek ini telah berkomitmen secara publik untuk menghentikan semua sumber yang terhubung dengan penghancuran hutan, yang tak ternilai secara ekologis di Kawasan Ekosistem Leuser, dan dalam banyak kasus juga telah berkomitmen untuk menghilangkan deforestasi dari rantai pasok minyak sawit mereka pada tahun 2020.

Kasus terbaru ini menunjukkan bahwa sekali lagi, merek-merek ini masih belum mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah deforestasi di Kawasan Ekosistem Leuser.

“Perusahaan merek dunia ini harus segera membangun sistem pemantauan hutan proaktif yang bisa mendeteksi dan merespons deforestasi di dalam Kawasan Ekosistem Leuser,” tegas Gemma Tillack.

RAN juga mendorong agar merek-merek ini perlu mengkomunikasikan posisi ‘Tidak Membeli’ mereka kepada PT IA, sehingga manajemen perusahaan bisa memahami pilihan yang harus diambil.

“Merek-merek ini juga harus mengkomunikasikan PT. Indo Alam terkait komitmen berikut opsinya: Perusahaan dapat terus membakar dan membersihkan hutan hujan dan secara permanen dikeluarkan dari pasar global, atau mempertahankan opsi untuk tetap menjadi pemasok bagi perusahaan mereka dengan menghentikan penghancuran hutan hujan,” tukas Gemma.

Gemma juga menambahkan bahwa PT IA juga seharusnya bisa melakukan penilaian yang diperlukan untuk mengidentifikasi kawasan hutan yang wajib disisihkan untuk perlindungan di dalam konsesinya, dan bisa beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap praktik Nol Deforestation, Nol Pembangunan di Gambut, dan Nol Eksploitasi.

Sementara itu wilayah lain Kawasan Ekosistem Leuser, eskalasi deforestasi mengkhawatirkan juga terjadi di dalam hutan hujan Singkil Bengkung yang menjadi ‘ibukota orangutan dunia’. Kawasan ini juga memiliki keanekaragaman hayati paling kaya dan memainkan peran besar dalam menyimpan karbon pengendali perubahan iklim.

Meski pada akhir tahun 2019 lalu RAN mengungkap skandal merek makanan global utama yang membeli minyak sawit ilegal di dalam Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang dilindungi secara nasional, dan banyak merek besar memberi tanggapan serta bersumpah untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mengakhiri pembukaan lahan gambut. Salah satu komitmennya saat itu adalah dengan memutuskan hubungan dengan pemasok mana pun yang ditemukan menjadi bagian dari rantai pasok di kawasan ini. “Akan tetapi tim investigasi RAN masih menemukan perusakan hutan hujan oleh PT ISP sejak Februari hingga April 2020.”

Data yang ditemukan menunjukkan bahwa perusahaan tidak berhenti melakukan pembukaan hutan, dan malah mengeruk keuntungan di tengah kondisi wabah. Aktivitas perusahaan telah merusak hutan yang tersisa, mengurangi sekitar 124 hektar hutan yang berada di konsesinya pada akhir Februari 2020. Hingga Maret 2020 luas hutan yang tersisa di kawasan hanya 44 hektar.

Kondisi ini sangat ironis di tengah temuan beberapa peneliti yang mengungkapkan bahwa deforestasi dan kerusakan lahan untuk perkebunan, telah mengurangi habitat yang tersedia untuk satwa liar. Deforestasi dan kerusakan lahan juga meningkatkan interaksi manusia-satwa liar, dan berdampak pada tingginya interaksi patogen dan inang hewan, faktor-faktor yang berkontribusi pada munculnya zoonosis, penyakit menular disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan jamur yang ditularkan antara manusia dan hewan lainnya.(*)