Banjir melanda kawasan Nagan Raya di akhir pekan, Minggu, 17 Mai 2020 | Foto: Pusdalops BPBA

BERITA banjir dan longsor terus menerus datang dari Aceh. Sejak beberapa pekan terakhir, kawasan ini seakan-akan tidak berhenti berjuang melawan amuk alam di tengah pandemi virus corona dan puasa.

Pada pekan lalu, sejumlah wilayah Aceh direndam banjir termasuk kawasan ibu kota provinsi. Belum cukup disitu, beberapa hari kemudian giliran wilayah tengah Aceh yang diamuk banjir bandang, Rabu, 13 Mai 2020.

Proses pembersihan lumpur bandang masih terus dilakukan, akan tetapi alam belum berhenti menguji orang-orang Aceh. Pada Sabtu, 16 Mai, hujan yang terus mengguyur kawasan kembali mengakibatkan pemukiman penduduk tergenang air.

Kali ini banjir awal kali dilaporkan melanda kawasan Aceh Timur pada Sabtu 16 Mei 2020 sekira pukul 03.00 WIB. Puluhan rumah warga terendam air dan menyebabkan ratusan KK harus mengungsi.

Tak berhenti di situ, banjir bersamaan longsor kemudian turut dilaporkan terjadi di Aceh Besar. Bencana alam ini disebutkan terjadi di Gampong Geunteut, Lhoong, pada pukul 14.55 WIB hari yang sama. Banjir itu turut membuat badan jalan menuju tempat wisata air terjun Suhom longsor.

Sedikitnya 60 Hektar lahan warga juga terendam air.

Banjir kali ini juga turut mengikis biram jalan penghubung desa dan jalan nasional akibat derasnya air dan material longsor. Tak hanya itu, beberapa titik pipa PDAM juga rusak.

Langit yang terus menangis turut memicu banjir di Gampong Cot Trieng dan Ujong Pacu Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe di hari Sabtu. Belasan unit rumah warga tergenang air. Begitu pula dengan areal persawahan yang tak luput terdampak banjir.

Kabupaten Aceh Utara yang menjadi tetangga Kota Lhokseumawe juga tak luput dari amuk bencana di akhir pekan, bulan puasa ini. Pusdalops BPBA menyebutkan banjir dan longsor juga terjadi di Aceh Utara sekira pukul 16.00 WIB.

Ada empat kecamatan yang terdampak akibat meluapnya sungai Krueng Jambo Aye, Krueng Pirak, dan Krueng Sawang tersebut.

Aceh Tengah yang baru saja dilanda banjir bandang kembali mendapat ujian. Di akhir pekan, bencana longsor kembali melanda kawasan tepatnya di Desa Sanehen, Kecamatan Silinara. Longsor juga disebutkan terjadi di Desa Radines Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah pada Minggu 17 Mai 2020 sekitar pukul 06.00 WIB.

Bencana alam berupa longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Rambung Musara, Kecamatan Putri Beutong Gayo Lues, pada hari yang sama.

Hingga Minggu, 17 Mai 2020, genangan air masih dilaporkan terjadi di Aceh Timur. Kali ini banjir terus meluas akibat meluapnya sungai di tiga desa pada dua kecamatan. Ratusan KK yang tersebar di Gampong Peunaron Baru, Gampong Alue Ie Mirah, Gampong Julok Rayeuk Utara, Gampong Jambo Lubok, Gampong Pante Kera, dan Gampong Seumanah Jaya ikut terdampak.

Banjir itu juga menyebabkan ratusan jiwa menjadi pengungsi. “Saat ini korban terdampak banjir yang memilih mengungsi, berada di rumah tetangga yang aman,” kata petugas Pusdalops BPBA, Haslinda Juwita.

Bencana alam berupa banjir dan longsor tidak hanya terjadi di pesisir timur Aceh pada akhir pekan ini. Bencana serupa juga dilaporkan melanda kawasan Aceh Jaya, Sabtu, 16 Mai 2020.

Adapun pemukiman penduduk yang terdampak banjir disebutkan berada di Gampong Sepak, Gampong Babah Dua, Gampong Lam Teungoh, Gampong Panton Krueng, Gampong Ujong Rimba, Gampong Paya Santeut, Gampong Baro, dan Gampong Masen.

Sebanyak 235 Kepala Keluarga disebutkan menjadi korban terdampak banjir.

Banjir juga disebutkan terjadi di Kabupaten Nagan Raya pada Minggu pagi ini. Sebanyak lima desa terdampak banjir.

Bencana yang sama juga disebutkan melanda kawasan Desa Pedesi dan Desa Biak Muli di Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara. Hingga Minggu malam sedikitnya 110 jiwa terdampak bencana tersebut.

Penyebab Banjir

Bencana yang sudah dua pekan ini meneror Aceh diduga berkaitan dengan aksi pembalakan liar yang begitu massif. Bencana alam tersebut juga diduga berkaitan dengan berbagai proyek pembangunan yang seringkali mengubah fungsi hutan tanpa memperhatikan musim dan curah hujan tinggi.

“Wilayah tengah dari berbagai kajian yang dikeluarkan oleh berbagai organisasi dan badan publik lainnya menyatakan wilayah rawan bencana longsor dan banjir bandang, akan tetapi dalam praktek lapangan sering juga membuka ruas jalan baru yang justru mempercepat bencana,” ungkap Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur, Rabu, 13 Mai 2020 lalu.

Berdasarkan catatan Walhi diketahui deforestasi hutan rata-rata mencapai 16 ribu hektar tiap tahun di Aceh, yang rinciannya diperkirakan akibat aktivitas ilegal logging, pembukaan lahan perkebunan, membuka ruas jalan, dan kegiatan pertambangan legal serta ilegal.

Selanjutnya bencana ini juga turut dipicu oleh pengrusakan bantaran sungai yang cukup tinggi di DAS. Hal ini mengakibatkan sungai kehilangan fungsi dengan baik di musim penghujan. “Sayangnya kita semua tidak belajar sama sekali dalam berbagai bentuk bencana yang melanda berbagai kabupaten/kota,” kata M Nur.

“Untuk itu Walhi Aceh memprediksi bencana Aceh tidak akan berakhir jika kesalahan pengelolaan dan pelestarian hutan dan lahan tidak ada perbaikan,” lanjut M Nur.

Walhi Aceh meminta pemerintah berkomitmen penuh untuk mempertahankan hutan dan lahan di Aceh. Hal tersebut diharapkan menjadi agenda utama jika tidak ingin Aceh mengalami kerugian akibat bencana rutin tiap tahunnya.(*)