Ilustrasi

SEBANYAK 300 penderita kanker, thalassemia, dan penyakit kronis lainnya mendapatkan bantuan sebesar Rp500 ribu per bulan dari Baitul Mal Aceh (BMA). Bantuan tersebut disalurkan hingga pasien dinyatakan sembuh.

Ketua Badan Baitul Mal Aceh, Nazaruddin A Wahid, Rabu, 30 Desember 2020, mengatakan program bantuan ini bertujuan untuk membantu mengurangi beban biaya selama pengobatan. Selain itu bantuan tersebut diharapkan dapat membantu para penderita untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang memadai.

“Sasaran utama dari program tersebut adalah penderita kanker, thalasemia dan penyakit kronis lainnya yang berasal dari keluarga miskin yang berdomisili di wilayah provinsi Aceh,” kata Nazaruddin.

Sementara itu Kepala Sekretariat BMA, Rahmad Raden mengatakan mekanisme penyaluran bantuan yaitu melalui transfer ke rekening masing-masing penerima.

Selama tahun 2020, kata dia, BMA telah menyalurkan dana tersebut selama 12 bulan yaitu periode Januari hingga Desember dengan total bantuan mencapai Rp1,8 miliar.

Ia menambahkan pendataan program tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan lembaga terkait, diantaranya Baitul Mal Kabupaten/kota, rumah sakit dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya. Selain itu juga melalui pendataan langsung, di mana masyarakat yang mengajukan permohonan kepada BMA.

“Para penerima bantuan tersebut sebelumnya sudah dilakukan verifikasi administrasi. Selain itu juga dilakukan verifikasi secara faktual melalui kunjungan langsung ke tempat tinggal dan wawancara dengan mustahik dan pihak-pihak terkait lainnya,” kata Rahmad Raden.

Rahmad Raden berharap melalui program tersebut akan terbantu masyarakat miskin di Aceh yang anggota keluarganya menderita kanker, thalasemia dan penyakit kronis lainnya. Bantuan ini juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para penderita agar terus mau berobat untuk kesembuhannya.

“Bantuan dari BMA itu untuk biaya transportasi dan pendampingan saat dilakukan medical check-up di rumah sakit. Di antara mereka bahkan ada yang harus dua hingga tiga kali dalam sebulan. Sedangkan untuk pengobatannya sudah ditanggung Pemerintah Aceh melalui program JKA,” pungkas Rahmad Raden.[]