GEMPA bumi magnitudo 7,5 yang mengguncang Alaska, Amerika Serikat, pada Senin, 19 Oktober 2020, turut memicu tsunami setinggi 1,4 meter. Hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan episenter gempabumi yang terletak pada koordinat 54,64 LU dan 159,87 BB dengan kedalaman 40 Kilometer tersebut juga berdampak kecil pada wilayah Papua.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas pada lempeng Alaska. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip fault),” ujar Kepala BMKG Stasiun Mata Ie, Djati Cipto Kuntoro, Selasa, 20 Oktober 2020.

Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) turut memberikan informasi bahwa gempabumi ini berpotensi menimbulkan tsunami lokal di sekitar wilayah Alaska, dalam radius 300 kilometer dari pusat gempa.

Sementara berdasarkan pemantauan ketinggian muka air laut di sekitar pusat gempa menunjukkan adanya kenaikan di beberapa stasiun tide gauge, di antaranya Sand Point 1,4 meter, Dutch_Hbr_Unalaska 0,2 meter, dan Atka 0,2 meter.

BMKG menyebutkan dari hasil pemodelan diprediksi tsunami akan tiba di wilayah utara Papua, Indonesia pada pukul 14.00 WIB, “tetapi dengan ketinggian tsunami yang tidak signifikan atau kurang dari 2 centimeter. Berdasarkan hasil pemodelan ini BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia.”

Dari data yang dirilis BMKG juga menyebutkan hingga pukul 07.30 WIB, Selasa, 20 Oktober 2020 telah terjadi dua kali aktivitas gempabumi susulan atau aftershock, dengan magnitudo 5,7.

“Masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” pungkas Djati.[]