Dua excavator ditemukan di PT. Konsesi minyak sawit Tualang Raya pada Juni 2020. Minyak sawit dari perkebunan ini telah dijual ke pabrik yang memasok kilang Royal Golden Eagle yang memproses dan menjual Minyak Sawit Bermasalah ke merek-merek ternama. Koordinat GPS 04º47'12.78 ″ N 97º29'53.11 ″ E | Foto: RAN/Leuser Watch

INVESTIGASI Rainforest Action Network (RAN) menemukan Apical Group, salah satu perusahaan sawit grup Royal Golden Eagle (RGE) mendapatkan suplai minyak sawit dari pabrik sawit PT. Syaukath Sejahtera yang menerima Tandan Buah Segar (TBS) dari PT. Tualang Raya, produsen sawit yang terungkap secara aktif merusak hutan hujan dataran rendah Kawasan Ekosistem Leuser, habitat kritis gajah dan orangutan Sumatra yang terancam punah.

Temuan ini juga mengungkap bahwa perusahaan merek dan bank dunia seperti Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz, Unilever, Kao dan bank raksasa Jepang MUFG, bank Belanda ABN AMRO dan bank Cina ICBC ikut terlibat dalam lingkaran perusakan hutan grup perusahaan ini melalui rantai suplai dan pendanaan mereka.

“Kasus keterkaitan Apical dengan penghancuran Kawasan Ekosistem Leuser merupakan temuan terbaru dari kegagalan yang terus terjadi pada operasional grup RGE untuk menegakkan praktik Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut, dan Nol Eksploitasi (NDPE) dalam rantai pasokan globalnya. Skandal ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang terlibat ––konsumen, mitra usaha patungan, dan bank yang mendanai–– harus bisa ikut memastikan untuk menghentikan pembiayaan hingga RGE bisa memperkuat kebijakan yang telah mereka terbitkan, mereformasi praktik produksi dan suplainya, menyelesaikan konflik sosial, melakukan perbaikan terkait pelanggaran HAM masa lalu terhadap masyarakat lokal/adat serta memperbaiki kerusakan lingkungan,” ungkap Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan RAN, dalam siaran pers yang diterima awak media, Kamis, 24 September 2020.

Gemma menambahkan bahwa reputasi Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz, Unilever, dan Kao akan terus menghadapi risiko kerusakan yang serius melalui hubungan mereka dengan RGE.

“Merek-merek ini harus menangguhkan semua suplai dari grup RGE dan seluruh anak perusahaan serta perusahaan terkait hingga grup perusahaan ini dapat membuktikan kepatuhannya terhadap kebijakan NDPE serta memulihkan kerugian yang ditimbulkan dari rusaknya hutan hujan dan lahan gambut Indonesia serta kesehatan masyarakat lokal,” tukas Gemma.

Apical Grup merupakan salah satu unit bisnis dibawah grup RGE yang mengelola dan mengekspor minyak sawit dan produk turunan sawit untuk keperluan domestik dan ekspor internasional terbesar di Indonesia. Didirikan oleh salah satu konglomerat terkaya Indonesia Sukanto Tanoto, RGE memiliki rekam jejak panjang terkait deforestasi dan konflik dengan masyarakat lokal/adat karena secara agresif telah membuka lahan perkebunan sawit dan bubur kertas yang sangat luas.

Kasus ini menguatkan keterlibatan RGE dalam aktivitas deforestasi melalui pemasok pihak ketiga dan perusahaan afiliasinya yang terdaftar sebagai penerima manfaat (beneficial ownership) anak perusahaan RGE.

Pelanggaran terhadap komitmen Nol Eksploitasi juga dilakukan Perkebunan Asia Pacific Resources International (APRIL) anak perusahaan RGE yang sampai saat ini tengah berkonflik dengan lebih dari 500 kelompok masyarakat. Di wilayah Danau Toba di Sumatera Utara, rumah leluhur masyarakat adat Batak, lebih dari 20 kelompok masyarakat adat, dengan lebih dari 3.000 keluarga terdampak operasional perusahaan bubur kertas Toba Pulp Lestari milik APRIL.

Kelompok masyarakat adat ini terus melakukan aksi untuk merebut kembali hutan dan tanah adat mereka yang membentang di lebih dari 25 ribu hektar.

Laporan investigasi RAN menemukan PT. Tualang Raya diketahui telah membuka setidaknya 60 hektar hutan hujan dataran rendah selama enam bulan terakhir. Perusahaan meningkatkan aktivitas pembukaan hutannya menjadi tiga kali lipat dari enam bulan sebelumnya sejak wabah Covid-19 terjadi, menyebabkan lonjakan deforestasi di dalam Kawasan Ekosistem Leuser.

Pada bulan Juni 2020, berdasarkan analisis citra satelit dan bukti adanya eskavator tidak jauh dari kegiatan pembukaan lahan, membuktikan perusahaan masih aktif melakukan penebangan hutan alam. Investigasi juga menemukan TBS yang ditanam di dalam area konsesi dipanen dan diangkut ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terdekat yang dioperasikan oleh PT. Syaukath Sejahtera.

Kilang minyak sawit RGE ––PT. Sari Dumai Sejati Tangki Timbun–– membeli minyak sawit dari PKS PT. Syaukath Sejahtera yang memasok tandan buah segar (TBS) dari PT. Tualang Raya, salah satu produsen sawit nakal yang terkenal telah merusak sekitar 269 hektar hutan di Kawasan Ekosistem Leuser sejak moratorium sawit dikeluarkan pada Januari 2018. PT. Sari Dumai Sejati Tangki Timbun merupakan kilang minyak yang dioperasikan oleh anak perusahaan Apical ––salah satu sayap perusahaan minyak sawit dari RGE.

PT. Syaukath Sejahtera dimiliki oleh Lukman Zam Zam (Lukman Kande Agung), seorang pengusaha besar di Aceh yang bisnisnya mencakup bidang pertanian, kontraktor, ekspor & impor dan bahan makanan dengan beberapa perusahaan yang terdaftar seperti PT. Syaukath Agro, PT. Kande Agung dan PT. Kaye Adang Ekspress. Lukman Zam Zam juga terdaftar di Panama Papers —investigasi yang mengungkap penggunaan perusahaan lepas pantai dan perusahaan cangkang yang sering kali digunakan untuk mengaburkan pelanggaran finansial— melalui kepemilikan sahamnya di perusahaan Samyang International Ltd.

Daftar pabrik yang diterbitkan oleh perusahaan merek dunia juga membuktikan bahwa PT. Syaukath Sejahtera telah menjadi pemasok merek global di seluruh Eropa dan Amerika Utara termasuk Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz dan Unilever melalui perusahaan dagang minyak sawit AAK, ADM IOI, Bunge Loders Croklaan, Cargill, dan Fuji Oil. Merek lain seperti Mars terus menyuplai minyak sawit dari anak usaha RGE lainnya, Asian Agri. Masing-masing merek ini, dan pemasok mereka telah gagal menerjemahkan komitmen Nol Deforestasi mereka untuk Mempertahankan Tegakkan Hutan di Kawasan Ekosistem Leuser.

RGE telah menerima pembiayaan yang signifikan dari bank multinasional, termasuk bank dengan kriteria pembiayaan Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG) yang ketat. Antara tahun 2017 dan April 2020, RGE menerima pinjaman hampir sebesar $ 2,6 miliar untuk operasional bisnis bubur kertas dan kertasnya, dengan nilai $1.8 miliar digunakan untuk mendanai operasional APRIL. Beberapa bank yang memberikan pinjaman terbesar, termasuk diantaranya bank raksasa Jepang Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) yang telah menandatangani Prinsip PBB untuk Perbankan Berkelanjutan dan memiliki kebijakan untuk mendanai minyak sawit berkelanjutan.[]