Ilustrasi

UNTUK mencapai kesuksesan bagi masyarakat Aceh di perantauan, penting rasanya untuk membangun networking atau jejaring sosial, sehingga bisa saling mendukung satu sama lain. Dengan adanya jaringan yang luas, maka akan memudahkan mengembangkan karir atau usaha.

“Netwoking adalah kata kunci, itu bisa membantu kita di perantauan,” kata Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Nezar Patria, dalam Webinar bertajuk ‘Kepak Sayap di Tanah Rantau’ yang diselenggarakan oleh Forum Jurnalis Aceh Jakarta (For-JAK), Sabtu 12 September 2020 malam.

Nezar mengatakan, menukar informasi sangatlah penting, apalagi didukung dengan adanya komunitas-komunitas masyarakat Aceh di perantauan. “Intinya harus mau belajar yang kuat dan kita juga harus menjaga koneksi kita atau jaringan dengan semua kalangan, karena sangat penting menjaga hubungan dengan sesama daerah,” kata Dewan Pembina For-JAK ini.

Namun yang paling penting bagi perantau adalah harus ada sikap rendah hati, sehingga mudah diterima di lingkungannya. Selanjutnya diperlukan kemampuan beradaptasi, kreativitas, berpikir positif, dan tidak gampang menyerah.

Sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, proses pengembangan diri juga penting untuk sukses di perantauan. “Kemudian kita juga harus siap bersaing dengan siapa pun. Jangan mudah menyerah. Siapa pun yang merantau harus mempunyai keyakinan yang kuat,” kata putra Aceh yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kanada ini.

Hal senada disampaikan oleh Presiden Aceh Business Club (ABC) Sabri Aly. Dia mengatakan, perantau sangat penting membangun jaringan, apalagi jika ia seorang pebisnis. Tanpa jaringan dan mitra, menurutnya akan sulit mengembangkan usaha.

Pengusaha asal Montasik Aceh Besar ini menambahkan, untuk mencapai kesuksesan juga dibutuhkan perjuangan. Karena memulai bisnis atau usaha membutuhkan proses dan kerap jatuh bangun. Dia menganjurkan para perantau yang ingin berbisnis dapat memulai dari hal kecil, kemudian mengembangkannya hingga berhasil.

“Saya berharap bagi yang di perantauan janganlah berputus asa. Saya kira yang dibutuhkan semangat perjuangan, seperti yang dilakukan nenek moyang kita dulu,” kata Sabri yang pernah bekerja sebagai loper koran hingga sukses jadi pengusaha berbagai unit usaha di Jakarta.

Sebelumnya Ketua For-JAK, Salman Mardira mengatakan, diskusi online ini bagian dari misi Fo-JAK, yakni membangun budaya diskusi dan penyampaian gagasan serta aspirasi.

“Kami sengaja memilih isu ini sebagai tema diskusi karena menurut kami ini sangat penting, karena membangun dan mengembangkan jaringan salah satu kunci sukses di perantauan. Orang jika merantau tapi gagal membangun jaringan, maka akan sulit mengembangkan diri dan meraih kesuksesan.”[]