NEW concepts do not spring from nothing, they come from old ones. New concept emerges out of the interaction of old concepts and new situation.

Ungkapan di atas merupakan milik Donald Schon yang ditulis dalam buku The Displacement of Concepts dan diterbitkan tahun 1963, yang kemudian dikutip oleh Dr Kamal A Arif dalam sebuah pengantar di buku Ragam Citra Kota Banda Aceh.

Dalam pengantar berjudul “Dari Istana ke Lumpur Tinja” itu, Kamal Arif turut mengutarakan ketertarikannya untuk meneliti kebesaran identitas Aceh di masa lalu.

“Sebagai putra Aceh, saya prihatin melihat kejayaan Aceh masa lalu yang selalu dikaitkan dengan keindahan dan kemasyhuran, namun kini jejak-jejak kegemilangan itu sudah mulai sulit untuk ditelusuri,” tulis Kamal Arif kemudian, dalam pengantar buku terbitan Oktober 2008 tersebut.

Doktor Arsitektur UNPAR Bandung ini kemudian mengungkapkan temuannya tentang fakta-fakta sejarah berupa artefak-artefak yang kini sudah tidak dapat dilihat kembali dalam rentang penelitiannya tersebut. Salah satu yang dimaksud seperti Aceh Lhee Sagoe, atau yang sekarang dikenal dengan Aceh Besar, yang dibentuk oleh situs Indrapurwa, Indrapatra, dan Indrapuri.

Selain itu, dia juga menemukan fakta sejarah hilangnya Pulau Gajah di dekat aliran Krueng (sungai) Aceh yang disebutkan telah menyatu dengan daratan.

Lebih lanjut, dalam pengantar tersebut, Kamal Arif juga menyebutkan Aceh pernah menjadi kerajaan maritim yang tangguh, didukung oleh posisi geografisnya di pesisir pantai.

“Namun, kenyataan hari ini, pesisir pantai itu tidak lagi menunjukkan potensinya secara optimal, terlebih setelah tsunami mengguncang Aceh,” tulis Kamal Arif lagi.

Lelaki berdarah Aceh yang lahir di Jakarta tersebut kemudian menyentil tentang seminar yang kemudian mencetuskan bahwa 1 Ramadhan 601 H atau 22 April 1205 menjadi “Hari Jadi Kota Banda Aceh”. Rujukan itu berlatarbelakang pada pendirian istana Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Johansyah di Gampong Pande.

Dalam buku Ragam Citra Kota Banda Aceh tersebut, Kamal Arif turut mengupas tentang awal mula lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande. Dia mencatat, sebuah silsilah Aceh meriwayatkan bahwa Islam dibawa ke Aceh oleh Syeikh Abdullah Arif pada tahun 1112.

Rombongan Syeikh Abdullah Arif ini berjumlah 300 muslim beserta keluarga. Saat itu, di Aceh masih berkuasa Indra Sakti selaku Raja Indrapurwa yang tak lama kemudian memeluk Islam setelah rombongan Syeikh Abdullah Arif tiba.

Setelah meninggalnya Indra Sakti, menantunya, Meurah Johan, yang juga seorang muda Islam dari rombongan Syeikh Abdullah menjadi raja Islam pertama untuk Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada masa bersamaan, Islam juga sudah berkembang di kerajaan-kerajaan lain seperti Perlak, Samudra Pasai, Kerajaan Teumieng, Kerajaan Pidie (Syahir Poli), Indra Jaya (Kantoli), dan Kerajaan Indra Purba (Lamuri).

“Di Aceh Besar pun ada dua kerajaan kecil, yaitu Darul Kamal dan Mahkota Alam yang dipisahkan oleh Krueng Aceh,” tulis Kamal Arif mengutip catatan H Anas Yunus di buku “Gerak Kebangkitan Aceh”.

Pada zaman pra-Islam, Kamal Arif mencatat, di Aceh telah ada Kerajaan Lamuri yang beragama Hindu-Buddha dan beribukota di Indrapuri. Kerajaan ini menggunakan Krueng Aceh sebagai sarana transportasi. Sebagaimana lazimnya kerajaan Hindu-Buddha, lanjut Kamal Arif, Lamuri menerapkan pandangan dewa-raja, dan pusat kerajaan terletak di daerah pedalaman, jauh dari laut.

“Ketika Islam masuk ke Aceh, kegiatan perdagangan di daerah pesisir menjadi prioritas. Pada tahun 1205 ibukota kerajaan baru muncul di Gampong Pande, sebuah tempat yang terletak di dekat Kuala, muara Krueng Aceh,” tulis Kamal Arif lagi.

Pemindahan posisi ibu kota kerajaan ke hilir Krueng Aceh ini kemudian memudahkan sultan untuk terlibat aktif dalam kegiatan perdagangan. Hal ini berbeda dengan perilaku dewa-raja yang memandang profesi pedagang sebagai kasta yang rendah. Dalam Islam, menjadi pedagang justru membanggakan.

“Oleh karenanya, banyak kerajaan Islam di pesisir Selat Malaka menjadi negara pelabuhan dagang, salah satunya adalah Banda Aceh,” tambah Kamal Arif.

Pemindahan kembali lokasi istana kerajaan ke Daruddunya kemudian dilakukan pada tahun 1296. Lokasinya berada di kawasan keraton sekarang atau kira-kira sekitar 6 kilometer dari muara. Pemindahan pusat pemerintahan itu diduga lantaran adanya gelombang laut yang melanda daerah Gampong Pande.

Pemindahan juga terjadi pada posisi pasar, yang semula berada di pantai, bergeser lebih ke pedalaman yaitu di kawasan Pante Pirak atau di daerah pertemuan anak sungai Krueng Daroy dengan Krueng Aceh.

Lokasi istana baru yang disebut Daruddunya tersebut juga sangat dekat dengan pasar atau Peukan Aceh. Sejak itulah, menurut Kamal Arif, pusat pemerintahan bertahan di sana dan berlanjut hingga era kolonial dan kemerdekaan Indonesia.

“Dalam catatan sejarah, posisi Gampong Pande ini sangat krusial karena ia adalah cikal bakal berdirinya Banda Aceh. Tapi kini, kawasan itu telah berubah fungsi menjadi IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lalu, ke arah manakah zaman akan membawa nilai-nilai historis Kota Banda Aceh?”

Keluhan ini ditulis Kamal Arif jauh sebelum proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande dilakukan, yang sempat terhenti beberapa saat, dan kembali muncul rencana untuk melanjutkan pada pertengahan Februari 2021 kemarin seperti isi surat Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman kepada Kementerian PUPR.

“Satu demi satu peristiwa memilukan dalam perjalanan Aceh telah membuka lapisan-lapisan sejarahnya. Maka, sepatutnyalah kita menghadapinya secara bijak, karena tampaknya tanpa sadar kita mengubur bukti-bukti sejarah kegemilangan Aceh masa lalu, dan generasi yang terlahir akan menjadi generasi yang ahistoris, generasi yang tidak mengetahui betapa agungnya tanah kelahiran mereka di masa dahulu,” pungkas Kamal Arif dalam pengantar tersebut.[]