Ketua Forum Interaksi Mahasiswa Aceh (FIMA) Muhammad Khalis | Foto: Istimewa

RENCANA pemerintah kota Banda Aceh untuk melanjutkan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande masih menjadi sorotan dari berbagai pihak di Aceh. Terlebih di lokasi proyek tinja manusia tersebut pernah ditemukan nisan kuno era kesultanan Aceh.

Forum Interaksi Mahasiswa Aceh (FIMA) merupakan salah satu elemen yang angkat bicara tentang proyek IPAL di Gampong Pande. Menurut forum tersebut, tidak ada yang salah dengan IPAL jika dibangun tidak di atas kawasan pemakaman leluhur Aceh.

“Proyek IPAL tidak salah, yang salah di sini adalah lokasinya. Kenapa harus di Gampong Pande yang berbatasan langsung dengan Gampong Jawa, yang sebelumnya kita ketahui disini terdapat ratusan peninggalan sejarah yang masih terkubur dan belum tersentuh penelitian yang baik. Kita sangat tidak sepakat pembangunannya di lokasi tersebut,” kata Ketua FIMA, Muhammad Khalis, Selasa, 9 Maret 2021.

Seharusnya menurut Khalis, tim tata ruang Pemko Banda Aceh terlebih dahulu mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan untuk beberapa persoalan. Dengan demikian proyek yang juga dibutuhkan untuk hajat hidup orang banyak di ibu kota Aceh tersebut tidak menuai masalah.

“Kenapa sampai bisa kecolongan kajian AMDAL?” Tanya Muhammad Khalis.

Dia turut menyayangkan alasan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman dalam surat yang ditujukan kepada Menteri PUPR, tentang kompleks nisan di lokasi tersebut bukan milik raja-raja Aceh sehingga tidak masalah melanjutkan proyek IPAL.

Menurut Muhammad Khalis, pernyataan Aminullah dalam surat tersebut menyiratkan sang pemimpin kota Banda Aceh tersebut tidak memahami bagaimana ciri-ciri nisan yang diperuntukkan bagi ulama dan tokoh penting kerabat kerajaan.

Padahal, tambah Muhammad Khalis, pegiat sejarah dan arkeolog serta lembaga-lembaga yang bergerak di bidang penyelamatan cagar budaya Aceh telah banyak melakukan kajian dan merekomendasi bahwa di kawasan tersebut juga diduga terdapat beberapa makam para raja. Namun, sayangnya makam-makam tersebut belum ditemukan lantaran belum ada penelitian skala besar yang dilakukan.

“Menurut kami, ini bukan persoalan (yang harus dihadapi oleh) pegiat sejarah saja. Namun ini adalah persoalan kita bersama. Regulasi tentang lingkungan dan cagar budaya harus dijaga bersama,” kata Muhammad Khalis lagi.

Sebagai mahasiswa, Khalis menyayangkan rencana kebijakan Wali Kota Banda Aceh untuk meneruskan proyek IPAL. Dia mengaku akan mencoba mengonsolidasikan mahasiswa lain dari setiap kabupaten kota di Aceh terkait rencana melanjutkan proyek IPAL di Gampong Pande.

Selaku Ketua FIMA, Muhammad Khalis mengaku banyak sekali mendapat keluhan dari masyarakat. Salah satu persoalan yang disampaikan dan mendapat sorotan tajam adalah rencana melanjutkan proyek IPAL di atas makam leluhur Aceh.

“Kami meminta pihak Pemko Banda Aceh untuk segera merelokasikan proyek IPAL agar benda-benda cagar budaya dapat terselamatkan. Supaya sejarah dapat dikenang sepanjang masa oleh anak cucu kita,” pungkas Muhammad Khalis.[]