“SUATU saat, generasi penerus kita mungkin akan lupa bahwa di negeri kita pernah terjadi hal-hal seperti ini. Seringkali, sejarah di negeri ini menjadi dongeng sementara dongeng dianggap sejarah,” ketus Abu Keuchik begitu melihat headline surat kabar hari itu.

Yah Uma hanya mengangguk. Dia terus membersihkan gelas-gelasnya yang sebenarnya sudah dicuci sedari subuh tadi. Sementara Harlan menyelidik apa yang dimaksud Abu Keuchik.

“Maksudnya bagaimana Abu?”

Abu Keuchik kemudian memperlihatkan berita tentang demonstrasi di kantor Kecamatan Dewantara yang berakhir dengan penembakan terhadap kerumunan warga. “Simpang KKA berdarah,” lanjut Abu Keuchik.

Harlan menggaruk-garuk kepala lantas menyambar rokok kretek di atas meja. Dari kejauhan terlihat Teungku Don mendatangi kedai kopi Yah Uma dengan sepeda ontelnya.

Assalammualaikum,” sapa Teungku Don setiba di pintu kedai kopi tersebut. “Peu berita bak ulee koran uroe nyo? (Berita apa di halaman depan koran hari ini?)” Tanya Yah Uma begitu melihat Abu Keuchik sedang memegang koran.

Hai peu berita laen, kon perkara ro darah (Mana ada berita lain, tentu saja berita tentang konflik dan perang),” jawab Harlan. Abu Keuchik mengangguk, Teungku Don merunduk. Dia kemudian mencoba mengintip foto halaman depan koran yang sedang dipegang oleh Abu Keuchik.

Peu ie neu jep?” Tanya Yah Uma.

Kupi sikhan,” kata Teungku Don.

Brat but lagoe. Peu na ditayang bak tivi? (peristiwa besar rupanya. Apa ada disiarkan di televisi?). Jangan asyik putar film India, sesekali ambil siaran berita,” kata Teungku Don kepada Yah Uma.

Pemilik kedai kopi kemudian mengganti saluran. Namun belum ada satu pun stasiun TV yang menayangkan berita tentang peristiwa di Simpang KKA kemarin. Dia kemudian mengutak-atik mesin parabola, mencari siaran televisi swasta atau luar negeri yang mungkin memberitakan peristiwa Simpang KKA. Namun, lagi-lagi harapan mereka buyar.

“Hanya ada film India,” kata Yah Uma. “Mungkin nanti malam baru ada di TVRI,” tambahnya lagi.

Meunyo na pih pasti haba dari pemerintah (Jikapun ada, pasti informasi yang keluar dari mulut pemerintah),” jawab Harlan sekenanya.

Abu Keuchik masih saja diam. Sesekali dia membetulkan letak kacamata bergagang coklat yang dikenakannya sembari membalik halaman koran.

Kedai kopi Yah Uma mulai sepi. Kini tinggal Abu Keuchik, Yah Uma, Teungku Don dan Harlan. Yah Uma membuka pintu belakang kedai kopi. Angin dari pematang sawah langsung berhembus masuk ke dalam ruangan kedai itu. Beberapa burung pipit yang sedari tadi hinggap di rumpun padi dekat pintu belakang kedai terkejut dan terbang ke segala arah. Suasana kedai kemudian sepi. Suara kerincing gelang kaki Madhuri Dixit dalam film Khalnayak sesekali memecah kesunyian. Selebihnya dentuman gendang ketika Sanjay Dut dan Jackie Shroff berkelahi ikut menggema di ruang kedai kopi yang setengah bangunannya itu hitam karena asap dapur.

Abu Keuchik menghela nafas panjang setelah selesai “menyantap” semua halaman yang ada di koran. Hampir semua artikel dibacanya, bahkan termasuk iklan baris yang ada di sudut-sudut halaman.

Bek mandum neu baca, trok bak iklan pih neuglip (jangan semua berita dibaca, sampai iklan pun dilihat). Teungku Don sudah menunggu koran dari tadi, bek mandum halaman neubaca lee dronneuh (jangan semua halaman Abu Keuchik yang baca),” kata Harlan sesukanya.

Abu Keuchik tersenyum kemudian memberikan lembaran paling depan kepada Teungku Don yang langsung menyambut koran tersebut. “Cok keu gata sion (ambil untuk kamu selembar),” kata Abu Keuchik kepada Harlan.

Lon neujok yang na gamba bola. Neuk kalon gamba keudroe (Saya yang halaman bola saja. Mau lihat gambarnya),” kata Harlan.

Cit nyan yang lon jok. Meunyoe berita pane na jeut gata baca. Oh watee awai geu yujak sikula, talop lam pup. Peuhan troh ‘an tuha hanjeut ta membaca (memang halaman itu yang saya berikan. Kalau halaman berita mana bisa kamu baca. Dulu waktu sekolah kamu sering bolos. Makanya sampai tua tidak bisa membaca),” ujar Abu Keuchik yang menohok kerongkongan Harlan.

Yah Uma dan Teungku Don tertawa. Sementara Madhuri Dixit masih saja berjingkrak-jingkrak ditabuhi gendang dengan sari berwarna jingga yang memamerkan pusar di televisi Yah Uma.[] bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14]Kulat [15]Kulat [16]Kulat [17]Kulat [18], Kulat [19], Kulat [20]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.