PEDAL sepeda ontel Abu Keuchik berderit kian nyaring kala menyusuri jalan aspal nan bopeng hari itu. Matahari belum setinggi tegak, tetapi sulurnya seakan menjilat-jilat permukaan kulit Abu Keuchik. Pria itu menambah kecepatan kayuhannya, sesaat setelah melirik arloji di tangan kirinya. “Nyaris terlambat,” batin Abu Keuchik sembari memicingkan mata menatap gerbang madrasah yang terpancang kokoh di tengah sawah.

Dari kejauhan, suara besi beradu kian kuat terdengar. Bunyi besi itu merupakan tanda telah tiba pergantian waktu jam mata pelajaran. Abu Keuchik yang baru saja tiba di gerbang madrasah langsung menggenjot sepedanya ke sayap kanan bangunan semi permanen itu. Dia lantas meraih tas koper dan bergegas memasuki ruangan kelas 6.

Assalammu’alaikum,” ucap Abu Keuchik begitu masuk ke dalam ruang kelas.

Waalaikumsalam,” terdengar balasan belasan murid menyambut kedatangan Abu Keuchik.

Abu Keuchik menarik bangku yang ada di depan ruangan kelas, mengobrak abrik isi tas koper hitam dan mengeluarkan satu buku paket berjudul “Sejarah Islam”. Sementara seorang murid lelaki maju ke depan, membersihkan papan tulis dari coretan kapur. Seketika ruang depan kelas itu laksana berkabut lantaran dipenuhi debu kapur tulis.

“Uhuk..huk..huk…” Abu Keuchik serta merta batuk. Pria itu kemudian keluar ruangan, menuju ruang guru, dan meraih cerek air. Batuknya reda setelah segelas air putih membasahi tenggorokan Abu Keuchik.

Dia kembali ke ruang kelas. Duduk dengan seksama dan memerhatikan wajah para muridnya. Abu Keuchik kemudian melihat satu bangku kosong tidak ada penghuni. Menerka-nerka siapa pemilik bangku itu, kemudian menarik buku absen yang ada di meja guru. Abu Keuchik memanggil satu persatu murid di ruangan tersebut, dimulai dari nama berawalan huruf A hingga berakhir pada huruf Z. Dari belasan murid itu, hanya nama Redha Misnandar yang tidak menyahut.

“Redha kemana?”

“Tidak ada kabar pak,” jawab Abdullah, sang ketua kelas.

“Ya sudah, kita lanjutkan mata pelajaran Sejarah Islam. Hari ini kita membahas tentang Khulafaur Rasyidin,” kata Abu Keuchik. Anak-anak menyimak dengan seksama. Tidak ada keributan karena semuanya suka dengan mata pelajaran sejarah ini. Di sesi akhir mata pelajaran itu, Abu Keuchik memberikan kesempatan untuk murid-muridnya bertanya. Akan tetapi, seperti biasa, tidak ada satupun murid yang mengacungkan jari ke atas. Pertanda semua yang disampaikan Abu Keuchik sudah jelas.

“Teng….teng…teng,” bunyi nyaring besi keras kembali terdengar. Abu Keuchik menutup buku paket Sejarah Islam dan memasukkannya ke dalam tas koper hitam. Sementara anak-anak sesaat riuh dengan percakapan masing-masing, hingga kemudian Abdullah sang ketua kelas menginstruksikan murid-murid untuk menutup pertemuan hari itu dengan shalawat badar.

Jam pelajaran berakhir akan tetapi tidak membuat Abu Keuchik langsung meninggalkan madrasah tersebut. Dia menuju ke ruang guru untuk mencari tahu informasi tentang salah seorang muridnya yang tidak masuk pada hari itu. Di ruang guru terlihat lengang. Abu Keuchik balik badan menuju sepeda ontel miliknya. Sengatan matahari kian terasa perih.

Abu Keuchik menyeret sepeda ontelnya hingga pintu gerbang. Di sana menunggu seorang sepuh sang penjaga sekolah. Namanya Ismail Lamkaruna. Namun, orang-orang kerap menyapanya dengan sebutan Yah Ma’e.

Peu gata langsong wo u rumoh? (Bapak langsung pulang?)” Tanya Yah Ma’e begitu melihat Abu Keuchik di pintu gerbang madrasah.

Na rencana piyoh u rumoh aneuk mit siat. Hana haba sapeu uroenyoe hana dijak sikula (rencananya singgah ke rumah salah satu siswa sebentar. Tidak ada kabar kenapa tidak masuk sekolah hari ini),” kata Abu Keuchik.

Owh, get. Beuleuheun-leuheun bak jalan (baiklah, hati-hati di jalan).”

Abu Keuchik membonceng sepeda ontelnya begitu tiba di ujung gerbang. Dia berbelok ke kiri dan menghilang di ujung persimpangan. Matahari kini berada tepat di atas kepala begitu suara muazin terdengar dari meunasah di ujung hamparan sawah, yang tak lagi ditumbuhi padi itu. Abu Keuchik memasuki halaman meunasah, memarkir sepeda ontelnya dan menuju kolam penampung air. Dia berwudhu’ bersamaan dengan beberapa pria lain yang sebagiannya baru pulang dari sawah.

Gohlom abeh keumeukoh? (Belum selesai panen?)” Tanya Abu Keuchik.

Gohlom Abu. Telat ta mulai (belum Abu. Telat menanam),” jawab seorang pria yang sedang mencuci lumpur di kakinya. “Pakon jioh that sembahyang kali nyoe? (Kenapa jauh sekali shalat berjamaah hari ini?)” Pria itu balik bertanya kepada Abu Keuchik.

Lon neuk saweu rumoh Redha Misnandar siat. Hana ditamong sikula uroe nyoe,” jawab Abu Keuchik.

Owh, kadang chit gara-gara baro. Yah i Redha na yang cok bak jalan watee di woe kerja (Owh, mungkin gara-gara kemarin. Ada yang menculik bapaknya Redha sepulang dari kantor.

Abu Keuchik terkejut. Hendak mencari tahu informasi tambahan, tetapi suara iqamah kadung terdengar. Mereka lantas bergegas ke meunasah untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.

Begitu shalat selesai, Abu Keuchik mencari pria yang tadi memberitahukan informasi tentang Redha Misnandar. Namun, pria itu telah pergi. Abu Keuchik sedikit kecewa. Dia melanjutkan perjalanan menuju rumah Redha yang letaknya hanya beberapa meter dari meunasah tadi.

Redha merupakan siswa Abu Keuchik yang baru saja pindah ke kampung Lhok Alue Drien. Desa tersebut sejatinya merupakan jiran Cot Alue, akan tetapi karena hamparan sawah yang luas membuat jarak antara Cot Alue dengan Lhok Alue Drien terkesan jauh. Untuk mencapai desa tersebut, Abu Keuchik harus terlebih dahulu menyusuri jalan protokol provinsi.

Sebelumnya, Redha tinggal di ibukota Aceh. Namun karena ayahnya yang bekerja di salah satu perbankan dipindahtugaskan ke daerah Pedir, Redha terpaksa ikut pindah ke Lhok Alue Drien. Ayah Redha Misnandar dikenal sebagai seorang dermawan. Meskipun baru saja menetap di desa itu, akan tetapi andilnya untuk pembangunan desa tersebut begitu besar. Dia juga dikenal sebagai orang yang ramah dan tidak tebang pilih dalam berteman. Ayah Redha juga kerap memberikan sumbangan untuk perbaikan madrasah selama Redha menjadi siswa Abu Keuchik.

Abu Keuchik akhirnya tiba di rumah berkelir hijau muda, beratap genteng warna coklat bata, yang dikelilingi pagar beton dengan besi-besi bulat di bagian atasnya. Di sana terlihat beberapa orang perempuan berdiri di pintu rumah. Abu Keuchik memberikan salam dan menyandarkan sepedanya di batang pinang.

Beberapa perempuan tadi memanggil seorang pria yang tergopoh-gopoh ke luar rumah.

“Piyoh Abu. Ta duk bak balee keu mantong (mampir Abu. Kita duduk di balai depan saja),” kata pria tersebut sembari menunjuk sebuah balai di bawah pohon mangga.

Pria tersebut kemudian memperkenalkan diri sebagai kerabat ayah Redha, yang lahir dan menetap di Lhok Alue Drien setelah Abu Keuchik menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah tersebut. Namanya Razali.

Sebelum menceritakan ikhwal ketidakhadiran Reza ke madrasah hari ini, Razali meminta Abu Keuchik untuk ikut serta makan siang bersama. Awalnya Abu Keuchik menolak, tetapi Razali mendesak. Akhirnya Abu Keuchik memenuhi undangan makan siang tersebut. Sembari menyantap nasi, Razali menceritakan peristiwa yang menimpa Ayah Reza.

“Kejadiannya saat beliau pulang kerja. Mobilnya dicegat di jalan kampung kemudian ada yang mengatakan beliau dibawa oleh beberapa orang pria yang menumpang mobil minibus berkaca gelap,” kisah Razali.

“Apa tidak ada yang mencegah?” Tanya Abu Keuchik.

“Hmm… Memang ada seorang polisi yang melihat. Kebetulan polisi itu tinggal di desa ini juga, tapi dia tidak berani setelah melihat para penculik itu menggunakan senapan laras panjang,” kata Razali lagi. “Polisi itu menduga yang membawa ayahnya Reza itu kelompok terlatih. Gerakan mereka begitu cepat, dan dari cara mereka menghentikan mobil juga terbilang ahli.”

Abu Keuchik hanya mengangguk.

“Apakah dia tidak mengenali wajah para penculik itu?”

“Tidak, semuanya memakai topeng dan rompi. Dari semalam kami sudah menghubungi semua pihak untuk mencari tahu keberadaan ayahnya Redha, tetapi nihil. Koramil, Polsek, pos tentara terdekat, kesatuan tentra nanggroe yang ada di kawasan ini, semuanya tidak tahu terkait peristiwa ini. Kami khawatir ayahnya Redha jadi korban salah jemput.”

Abu Keuchik hanya menarik nafas panjang. Dia merasa iba dengan peristiwa yang dialami orangtua muridnya itu. “Kondisi Redha bagaimana?”

“Dia baik-baik saja. Cuma kami melarang di ke sekolah hari ini, khawatir ada dampak lanjutan atas peristiwa kemarin. Lagipula ibunya Redha sedang shock dan butuh teman di rumah. Sementara beberapa kerabat sedang sibuk mencari tahu keberadaan ayahnya Redha, jadi tidak ada yang mengantar Redha ke sekolah hari ini,” kata Razali lagi.

“Semoga ayahnya Redha baik-baik saja. Ta lakee bak Po beu na lam lindongan dan geupeujioh dari marabahaya,” kata Abu Keuchikyang diaminkan oleh Razali.

Abu Keuchik pamit setelah lama bertukar pendapat tentang apa yang harus dilakukan oleh keluarga Redha. Dia ikut menawarkan bantuan untuk mencari informasi tentang ayahnya Redha. Bantuan tersebut langsung disambut positif oleh Razali. “Sama-sama ta minta cara dan ta meudoa yang jroh,” kata Abu Keuchik.

Matahari mulai tersuruk ke barat ketika Abu Keuchik beranjak pulang. Derit pedal sepeda ontelnya kian nyaring, terlebih ketika beberapa kali tersuruk dalam lubang yang ada di jalan. Abu Keuchik murung. Sepeda yang dikendarainya pun seakan enggan melaju seakan tahu suasana hati sang pemilik yang sedang mengharu biru.[] bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14]Kulat [15]Kulat [16], Kulat [17]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.