Upaya melakukan vaksin pasca serangan wabah mematikan di Hindia Belanda | Foto: Repro

HIRUK pikuk Perang Dunia I telah meredam informasi tentang Pandemi Influenza 1918. Tegangnya upaya damai pasca perang pun menutup fokus media massa untuk memberitakan wabah yang berdampak pada 3 miliar penduduk dunia.

Warga Amerika Serikat yang kehilangan banyak tentara karena terjangkit influenza di tahun 1918, juga tidak mengingat dengan baik pandemi tersebut. Padahal banyak kematian akibat influenza melanda warga Orleans, Chicago, dan San Fransisco waktu itu.

Sejarawan Kesehatan Amerika Serikat, Alfred W Crosby dalam buku “Pandemi Influenza di Hindia Belanda” mengatakan hanya Thomas A Bailey yang pernah menyebutkan tentang pandemi influenza di Amerika. Karya Bailey kelak menjadi sumber utama untuk mahasiswa sejarah Amerika jika merujuk pada sejarah kesehatan di negara itu.

Crosby mengatakan sejarah pandemi turut dilupakan lantaran tidak ada tokoh penting yang tewas dalam wabah itu. Meskipun pada saat itu, influenza 1918 membunuh putri Komandan Divisi 26 American Expeditionary Force, Jenderal Edwards. Wabah itu juga merenggut nyawa anak-anak Senator Albert B Fall. Hanya Max Weber sang ekonom dan sosiolog Jerman yang meninggal dunia karena pneumonia di tahun 1920. Dia sebelumnya tertular flu Spanyol.

Lantas bagaimana dengan kondisi pandemi 1918 di Hindia Belanda, nama Indonesia sebelum merdeka?

Priyanto Wibowo dan kawan-kawan yang menyusun buku “Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda” memiliki alasan tersendiri kenapa wabah tersebut kurang terekam dengan baik dalam sejarah Nusantara.

Salah satu penyebabnya, menurut Priyanto, adalah kecenderungan manusia-manusia di Hindia Belanda yang identik dengan perobatan tradisional dan perdukunan. Sehingga, setiap penyakit yang melanda sebuah negeri kerap disangkutpautkan dengan teluh atau ilmu hitam.

Tak hanya itu, Pandemi Influenza 1918 juga tak banyak masuk dalam catatan sejarah kesehatan Hindia Belanda karena masyarakat di Jawa sering meminum jamu. Rempah-rempah tersebut diharap mampu mengobati penyakit flu yang mereka derita.

Lebih lanjut, tulis Priyanto, kalangan dokter di Jawa juga malas melayani orang-orang biasa lantaran faktor ekonomi. Sehingga warga Jawa kerap mencari pengobatan alternatif.

Bagaimana dengan kondisi Sumatra?

Kematian dalam skala besar yang dipicu oleh demam pernah dialami oleh tentara Belanda dalam ekspedisi mereka ke Palembang pada akhir tahun 1810-an. Saat itu, pemerintah Batavia, sebutan Jakarta masa penjajahan Belanda, memutuskan untuk mengirimkan pasukan penyerangnya ke Palembang. Namun, hampir separuh personil yang berada di atas kapal terserang demam. Sebagian diantara mereka meninggal dunia karena penanganan yang lamban.

“Dari pemeriksaan dan pengamatan yang dilakukan, para perwira Belanda diduga mereka terkena demam karena terpaan angin laut dan hujan,” tulis Priyanto dkk.

Peristiwa serupa juga pernah terjadi di daerah Sumatra bagian utara. Setelah berhasil mengekspansi wilayah barat Sumatra, Belanda pada tahun 1841 berniat membuka jalan penghubung antara Padang dan Sibolga.

“Proyek ini menjadi bagian dari rencana perluasan wilayah kekuasaan kolonial hingga perbatasan Aceh,” lanjut Priyanto dkk.

Proyek tersebut turut melibatkan tenaga pribumi sebagai pekerja paksa, yang diperintahkan untuk menutup dan menimbun rawa-rawa dengan bebatuan serta tanah kering. Pekerjaan tersebut dilakukan pada siang hari.

Banyak para pekerja yang sesak nafas pada malam harinya lantaran menghirup uap dari rawa-rawa tersebut. Para pekerja juga mengalami demam yang mengakibatkan proyek tersebut dihentikan.

Kendati banyak nyawa yang melayang akibat peristiwa tersebut, tetapi pemerintah Hindia Belanda tidak memasukkan penyakit tersebut sebagai wabah besar.

Pada tahun 1918, pernah terjadi wabah besar yang menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa di Toraja. Warga setempat menyebut wabah itu dengan nama Raa’ba Biang, yang artinya kira-kira pohon atau dahan atau ilalang yang berjatuhan.

Pada saat wabah merebak, ratusan orang Toraja meninggal dunia dalam seketika, “Itu terjadi di tahun 1918,” ujar Kun Masora, pemuka adat Toraja, yang juga anggota Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Suku Toraja, menceritakan bahwa ada wabah besar yang membunuh banyak orang di tanah kelahirannya.

Kun mengaku kehilangan tiga orang bibinya dalam waktu bersamaan karena demam tinggi berhari-hari. Ibu Kun yang meninggal pada tahun 1995, sebelumnya seringkali menceritakan tentang wabah influenza yang pernah menyerang Toraja.

Cerita tentang wabah itu juga tercatat dengan baik dalam tradisi lisan yang disampaikan secara turun temurun warga Toraja.

Tentang pandemi itu juga pernah ditulis oleh Colin Brown, dalam tulisannya berjudul “The Influenze Pandemic of 1918 in Indonesia.”

Dalam catatanya, Brown menyebutkan Pemerintah Hindia Belanda yang menjajah Toraja saat itu mencatat sekitar 10 persen dari 3.000 populasi Toraja meninggal dunia akibat flu 1918. Sementara menurut ibunda Mosara lebih separuh populasi Toraja saat itu meninggal karena wabah itu.

Kisah wabah 1918 itu juga dibenarkan oleh Tato Dena, tokoh adat Toraja lainnya kepada penulis buku “Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda”. Dia mengatakan kematian masif dan serentak tersebut disebabkan oleh sebuah penyakit yang menular antarmanusia.

“Kata Ayah saya, ‘udara bagai diracuni’. Tidak ada satu keluargapun yang tidak kehilangan anggotanya,” kata Tato. Dalam serangan wabah tahun 1918 itu, Tato Dena kehilangan sang kakek. Disebutkan, orang-orang yang bersentuhan dengan jasad korban ikut meninggal. Akhirnya penduduk kewalahan untuk mengubur orang-orang yang meninggal dan akhirnya hanya meletakkannya di pemakaman-pemakaman di seluruh Toraja.

Wabah serupa juga pernah melanda Muntilan dan Tempuran di Pulau Jawa. Tentang hal ini diceritakan oleh keluarga Koo Eng Hien, yang lahir tahun 1919 di Magelang. Di usianya yang masih sangat muda, Koo menjadi yatim piatu. Pada usianya lima tahun, Koo Eng Hien senang sekali bermain ke pasar atau ke rumah gadai di Tempuran. Sepulang dari pasar, tahun 1924, Koo menderita panas tinggi dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dia disebutkan tertular wabah flu dari pasar di Tempuran yang saat sedang dilanda wabah influenza.

Apa yang terjadi di Tanah Toraja dan Pulau Jawa saat itu juga melanda seluruh daratan di dunia. Dari Eropa, Afrika, Asia, Amerika, hingga Australia.

Hindia Belanda, sebutan Indonesia masa penjajahan Belanda, sebenarnya menjadi wilayah yang terpapar wabah melalui kegiatan transportasi perkapalan.

Dalam literatur disebutkan wabah influenza 1918 itu pertama kali terjadi di Amerika Serikat. Kemudian berkembang hingga ke Spanyol dan belakangan dikenal dengan flu spanyol.

Flu 1918 tersebut tak hanya melanda daerah daratan tetapi juga mencapai wilayah kepulauan, termasuk Hindia Belanda (Indonesia) dan juga Hawaii. Wabah itu masuk ke Hindia Belanda melalui pusat perdagangan Hongkong dan Singapura.

Jumlah kematian akibat flu tahun 1918 itu menjadi yang terburuk dalam catatan sejarah dunia. India yang ikut terdampak wabah tersebut kehilangan 18 juta orang dalam waktu sekejap. Sebagian besar peneliti sepakat menyimpulkan bahwa wabah flu 1918 itu menelan korban jiwa mencapai 20-50 juta orang. Sementara data tersebut bisa saja salah karena buruknya catatan jumlah penduduk akibat perang dunia pertama saat itu.

Hal yang paling menarik adalah flu 1918 itu dianggap berasal dari Amerika Serikat, yang diawali dengan kematian 500 serdadu akibat influenza di Fort Riley, Kansas. Laporan lain menyebutkan flu 1918 itu pertama kali terjadi di Eropa setelah satu resimen tentara Amerika Serikat terjangkiti influenza di Prancis, pertengahan Mei 1918. Flu kemudian menular dengan cepat ke tentara Inggris dan Prancis yang kemudian tiba ke Spanyol.

Spanyol menjadi wilayah yang netral dari Perang Dunia I mencatat dengan baik tentang wabah ini. Hal itulah yang membuat wabah influenza itu belakangan lebih dikenal dengan Flu Spanyol. Pandemi itu berakhir pada tahun 1919 setelah semua orang yang terjangkiti meninggal dunia atau berkembangnya kekebalan (imunitas) manusia.[]