HARLAN duduk lemas di kursi kedai kopi. Wajahnya memar. Bibirnya sakit. Pria berotot itu bergeming. Abu Keuchik prihatin dengan kondisi Harlan. Dia memesan satu gelas air gula dan memberikannya kepada pria itu.

“Aku kesal Abu, mengapa mereka begitu mudah memukuli kita. Padahal tadi hanya salah paham.” Harlan memecah keheningan dengan mengutuk tingkah para prajurit. Abu Keuchik diam. Dia merasa bersalah atas insiden yang menimpa Harlan. Tanpa sengaja, tadi Abu Keuchik mengajak Harlan untuk melihat bentang alam Cot Alue yang dikenal sebagai desa tanpa tupai.

“Sabar, kamu dikategorikan sebagai orang yang dianiaya. Doa orang-orang yang dianiaya biasanya dijawab Allah,” kata Yahya.

Seorang wanita tua datang ke kedai kopi. Dia membawa tas kresek penuh melinjo. Wanita itu terkejut melihat kondisi Harlan. “Kenapa Harlan?”

“Dia dipukuli oleh tentara karena berdiri di jalan, tentara berpikir Harlan akan menyabotase konvoi, dan kepala Harlan hampir ditembak oleh seorang prajurit yang usianya masih muda,” kata Yahya.

Wanita itu mengusap dadanya. Dia terkejut melihat kondisi Harlan. Persimpangan itu tidak lama berubah menjadi ramai. Sekelompok perempuan dan laki-laki terus berdatangan dari berbagai sudut sawah. Maklum, mereka baru saja pulang dari aktivitas bertani di masing-masing sawah mereka.

“Ya sudah, kita lebih baik bubar. Nanti para tentara salah paham lagi karena berpikir kita akan membalas hal-hal buruk pasca kejadian Harlan. Kita bawa saja Harlan ke rumah sakit,” kata Abu Keuchik.

Harlan menolak ajakan Abu Keuchik ke rumah sakit. Pria kekar itu kembali bugar usai menyeka darah segar di mulutnya. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku hanya shock tadi karena berpikir hampir saja kehilangan nyawa,” kata Harlan.

Semua warga mendesak Harlan untuk berobat ke rumah sakit. Terutama Abu Keuchik yang merasa bersalah karena telah membuat Harlan tertegun di sisi jalan.

“Aku baik-baik saja, Abu, tidak apa-apa, hanya nasibku saja yang sial,” kata Harlan berusaha untuk tegar.

Warga akhirnya bubar. Hanya ada beberapa orang yang lebih suka tinggal di kedai kopi. Salah satunya adalah Madi. Pria muda itu kemudian merapat ke meja Abu Keuchik, Yahya dan Harlan. Dia melihat satu atau dua kendaraan yang lewat.

“Abu, kenapa daerah kita seperti ini? Kapan perang berakhir?” Tanya Madi.

Abu Keuchik hanya menarik nafas dalam-dalam. Sudah sering dia mendapat pertanyaan seperti ini. Pria berkulit coklat ini sekali lagi memesan secangkir kopi. Dia melirik arloji merk Seiko. Sekarang jam 9.30 pagi. Setengah jam lagi, Abu Keuchik harus pergi ke sekolah.

“Sulit untuk menjawab pertanyaanmu, Madi. Konflik di tanah kita disebabkan kesalahan masa lalu indatu yang memasukkan Aceh ke dalam bekas koloni Belanda pasca kekalahan sekutu di Nusantara,” kata Abu dengan nada berat.

“Apa artinya itu, Abu?”

Abu Keuchik kemudian menceritakan tentang sejarah Aceh yang pernah berdaulat di bawah pemerintahan para sultan dan menjadi kerajaan terakhir yang belum dianeksasi oleh Belanda di Sumatra. Kondisi ini berbeda dengan daerah-daerah atau kerajaan lain yang sudah kalah perang ataupun sudah mau bekerjasama dengan pihak kolonial. Bagi Belanda, menurut Abu Keuchik, wilayah kesultanan di pantai paling barat Pulau Sumatra ini menjadi sangat strategis karena berada di gerbang Selat Malaka. “Selat Malaka merupakan jalur transportasi laut yang paling sibuk masa itu. Setiap pelintas yang masuk ke gerbang ini, terlebih dahulu harus mendapat izin berlayar dari Sultan Aceh. Mereka wajib mendapat stempel dari Syahbandar dan baru diperbolehkan berdagang di kawasan kita atau melintas ke daerah lain,” kisah Abu Keuchik.

Terkait hal ini, kata Abu Keuchik, sudah berlaku sejak abad 14 Masehi. Menurut Abu, saat itu kekuasaan Sultan Aceh di Selat Malaka juga sempat mengganggu aktivitas dagang Portugis yang datang ke wilayah Asia Tenggara.

Pakon teuman awaknyan dijak keuno? Nanggroe jih kon jioh ideh? (Kenapa mereka datang kemari? Bukannya negara mereka jauh?” Tanya Madi lagi.

“Sejarah pelayaran bangsa-bangsa Eropa ke timur jauh turut dipengaruhi oleh perang salib di Eropa dan tanah Arab. Kejayaan peradaban Islam mampu mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat Eropa hingga ke jantung negerinya. Kekhalifahan Islam masa itu bahkan berhasil merebut Konstantinopel yang merupakan pusat perdagangan paling berpengaruh di Eropa. Inilah yang membuat bangsa-bangsa itu mencari tempat lain untuk berdagang karena tidak mau bersentuhan dengan tata cara perdagangan Islam yang diterapkan oleh pedagang muslim,” lanjut Abu Keuchik lagi.

Bangsa Eropa yang masa itu baru saja mengembangkan teknologi pelayaran mengikuti peradaban Islam, kata Abu Keuchik, kemudian mencari daerah baru untuk membeli rempah-rempah yang sangat dibutuhkan. Ada beberapa negara yang berpartisipasi aktif dalam mencari rute baru itu di antaranya Spanyol, Portugis, Inggris, dan Prancis. “Selain misi dagang, bangsa-bangsa Eropa turut mengusung dua misi lain dalam mencari daerah baru itu. Misi itu kemudian dikenal dengan 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold adalah emas, yang dapat didefinisikan sebagai kekayaan. Sementara Glory adalah kejayaan, dan gospel berkaitan dengan misi gereja untuk menyebarkan agama Kristen,” lanjut Abu Keuchik.

Madi mengangguk, Yahya terkesima, sementara Harlan meringis memegang bibirnya yang pecah. “Jadi Belanda tidak termasuk, Abu?”

“Belanda pada masa itu belum berwujud. Mereka masih takluk di bawah Karel V yang merupakan kaisar Romawi, dan berada di bawah pemerintahan Spanyol. Pada saat itu, rakyat Belanda pun menggelorakan pemberontakan lantaran ada ketidaksamaan kepercayaan antara Katolik dengan Protestan. Itu kisah lain dan perlu waktu panjang untuk diceritakan,” jelas Abu Keuchik sembari menyeruput kopi.

“Jadi sebelum Belanda datang, bangsa Eropa yang mana terlebih dulu mengusik kesultanan di daerah kita?”

“Portugis! Portugis bisa disebut sebagai bangsa Eropa yang paling awal menemukan jalur ke Selat Malaka. Mereka juga sangat antusias dengan misi 3 G-nya, dimana mengutamakan gospel di awal setiap kali mereka masuk ke satu kerajaan. Hal ini langsung berbenturan dengan kesultanan-kesultanan yang ada di sepanjang jalur Selat Malaka. Akibatnya dimana Portugis datang, maka terjadi perang besar termasuk dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang sangat keras mempertahankan wilayah di Selat Malaka. Kebencian Sultan Aceh ini tidak terlepas dari perangai buruk Portugis yang mengganggu kedaulatan Pasai hingga kesultanan itu runtuh,” kisah Abu Keuchik lagi.

Madi menyimak dengan khusyuk. Yahya memegang kepala sementara Harlan masih mengharu biru.

“Lalu Abu?”

“Hmmm, Portugis pada satu waktu sempat menguasai beberapa wilayah kesultanan di Malaka. Padahal wilayah itu memiliki hubungan dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Inilah yang membuat Sultan Aceh mencurahkan segala sumber daya untuk membentuk armada laut terbesar di Asia Tenggara masa itu. Sumber daya itu kemudian dikerahkan untuk mengusir Portugis di Malaka,” lanjut Abu Keuchik. “Portugis sempat kalah perang, akan tetapi beberapa kerajaan lain dari timur justru mengirim bala tentara dan menyerang armada perang Sultan Aceh,” tambah Abu Keuchik.

“Begitulah, kita selalu kalah karena pengkhianatan bangsa sendiri,” ujar Yahya mulai menangkap alur kisah sejarah yang diceritakan Abu Keuchik.

Abu mengangguk seraya melirik jam tangan Seiko miliknya. Dia membenarkan hal tersebut.

Abu kemudian melanjutkan bagaimana Belanda sebagai sebuah kerajaan baru yang muncul di Eropa ikut berlayar ke Tanah Melayu. Pada awal-awal proklamasi kemerdekaannya, Belanda memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Kesultanan Aceh. Menurut Abu Keuchik, Aceh bahkan menjadi salah satu kerajaan di dunia yang turut mengakui kemerdekaan Belanda dari Spanyol pada tahun 1815. Namun sebelum kerajaan Belanda terbentuk, beberapa perusahaan dagang dari daerah itu sudah menancapkan kukunya di wilayah Melayu. “Perusahaan dagang itu belakangan dikenal dengan nama VOC, yaitu Vereenigde Oost-Indische Compagnie. Kedatangan mereka setelah beberapa waktu sebelumnya Inggris sempat menguasai daerah-daerah di Jawa.”

“Saat itu, Inggris tidak mengganggu kedaulatan Aceh lantaran memiliki hubungan bilateral dengan Sultan Aceh,” lanjut Abu Keuchik lagi.

Abu Keuchik melanjutkan, Inggris menerapkan politik licin dalam mempengaruhi “mitra” dagang mereka di jazirah Melayu termasuk Aceh. Mereka tidak memerangi suatu wilayah dan tidak mengedepankan permusuhan terbuka dengan daerah-daerah di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut berbeda dengan Belanda yang pada awalnya menjadi teman kerajaan, tetapi terlalu ikut campur mengenai urusan politik dalam negeri sebuah kerajaan. “Inilah yang menyebabkan Belanda di bawah bendera VOC saat itu banyak dimusuhi oleh raja-raja di daerah ini, termasuk Aceh,” kata Abu Keuchik lagi.

Belanda pada awalnya juga menghormati kedaulatan Aceh, tetapi kemudian rusak akibat fitnah dari lawan politik mereka sesama bangsa Eropa. Saat itu, ada yang menyebutkan bahwa Belanda datang ke Aceh untuk misi penjajahan. “Sehingga Sultan Aceh mengusir kapal Belanda dari Selat Malaka. Ketika itu, perang skala kecil sempat terjadi dan merenggut salah satu laksamana kita. Ini menimbulkan dendam dari inong balee yang suami mereka turut menjadi korban perang itu, sehingga pada saat de Houtman bersaudara memasuki laut Aceh langsung dihadang oleh pasukan Lasykar Inong Balee di bawah kepemimpinan seorang laksamana perempuan Aceh. Laksamana itu kemudian disebut-sebut sebagai Keumalahayati.”

Sejak itu, menurut Abu Keuchik, hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Belanda menjadi renggang. Apalagi saat Belanda mulai mengusik wilayah-wilayah Aceh di perbatasan dengan ikut campur mengenai politik dalam negeri kesultanan. “Mereka mempengaruhi raja-raja kecil untuk saling berperang, menghasut keluarga kerajaan mengadakan kudeta dan membujuk para uleebalang atau tuan tanah untuk tidak lagi menyetorkan upeti kepada Sultan Aceh,” lanjut Abu Keuchik.

Dia mengatakan salah satu campur tangan Belanda adalah menghasut pemimpin Siak, Aru, dan bahkan Idi yang saat itu berada di bawah bendera Sultan Aceh. Hal ini tidak dapat ditolerir oleh sultan dan mengutus panglima perang khusus untuk memerangi Belanda di kawasan tersebut. Inggris yang menjadi sekutu Aceh hanya diam. Sementara Kekhalifahan Ottoman yang menjadi pelindung kesultanan Aceh sudah melemah.

“Masalah yang kita hadapi sangat kompleks sehingga kita dapat mengatakan kondisi Aceh sekarang adalah pengkhianatan internasional, orang Aceh pertama yang mengakui kemerdekaan Belanda, tetapi kemudian mereka menanggapi dengan invasi bersenjata,” kata Abu Keuchik.

Wajah Yahya kusut mendengar penjelasan Abu Keuchik. Harlan yang masih terluka, diam. Madi mengangguk setelah mendengar penjelasan Abu Keuchik. “Jadi perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh Teuntra Nanggroe benar?” Tanya Madi lagi.

Abu tidak terburu-buru menjawab. Dia meminum seteguk kopi yang baru saja disajikan pemilik toko. “Sulit untuk menjawab, kita hidup di masa sekarang, bukan di masa lalu, Aceh sebenarnya adalah “ibu” untuk negara ini. Aceh adalah daerah yang memberikan jasa besar untuk Nusantara. Tapi sama halnya seperti manusia, seorang anak terkadang berprilaku durhaka kepada orang tuanya.”

Abu Keuchik menjelaskan kalimat per kalimat dengan hati-hati. Ia tidak ingin orang-orang yang mendengar penjelasan sejarah Aceh menjadi lebih marah. Bagaimanapun juga, kehidupan orang Aceh sangat sulit karena terjebak dalam konflik bersenjata. Abu tidak ingin situasi ini menjadi semakin buruk dan membuat jumlah para pemuda di Aceh lebih banyak lagi mengangkat senjata.

Abu Keuchik kemudian mengatakan tidak semua sejarah Aceh boleh diungkap ke publik. Banyak hal yang disimpan dengan baik oleh orang-orang yang mengerti, dan hanya diberitahu kepada orang-orang tertentu untuk diteruskan ke generasi mendatang. Tentu saja, sejarah Aceh harus diungkap agar generasi muda di wilayah ini tidak melupakan sejarah wilayahnya. Namun, tidak dalam kondisi wilayah yang tidak stabil seperti saat ini.

“Saya harap kalian menjaga sejarah ini dengan baik, menceritakannya kepada anak-anak lain, mungkin kepada putramu Harlan, putramu Yahya, dan mungkin kamu juga Madi. Generasi muda Aceh harus pergi ke sekolah untuk menjadi pintar. Agar wilayah kita dapat maju lagi seperti dulu, wilayah kita harus menjadi pusat perdagangan internasional dan pusat pendidikan seperti dulu,” kata Abu Keuchik lagi.

Semua penghuni yang ada di kedai kopi itu kemudian termenung. Diam. Hanya angin yang berhembus dari ladang sesekali menampar rambut mereka. Untuk sesaat, kedai kopi seperti sudah mati. Sampai akhirnya Harlan memecah keheningan, “geuthat na (kalimat-kalimat yang mengejutkan dalam bahasa Aceh), mengapa kopi ini berbau amis?” Harlan lupa, kopi kocok yang dia pesan tadi ternyata telah basi.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14]Kulat [15], Kulat [16]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.