ABU Keuchik terlihat necis menggunakan pakaian coklat muda. Terlebih ada logo Korpri khas pegawai negeri sipil tersembul di dadanya. Pria itu kemudian mengenakan topi hitam lantas memakai sepatu yang telah disemir pagi tadi. Sebelumnya, Abu Keuchik terlebih dahulu mengenakan kaus kaki hitam yang sudah berlubang di tumit karena digigit tikus. Selesai berkemas, Abu Keuchik berpamitan kepada Nek Haja.

Pria berambut ikal itu kemudian meraih sepeda ontel yang sedari tadi bersandar di tiang rumah panggung itu. Usia sepeda ontel ini hampir sebaya dengan Abu Keuchik, tetapi masih tangguh untuk dibebani dengan berbagai barang di kursi belakangnya. Seperti pada hari ini, dua karung berisi gabah seberat masing-masing 100 kilogram dihempas di atas sepeda tua yang masih berkilau itu.  Tak hanya itu, sepeda ontel dengan ban sepeda nan tipis itu pun dijejal dengan beban tubuh Abu Keuchik. Sepeda ontel itu masih terlihat perkasa meskipun sempat meliuk-liuk di lorong berbatu rumah Abu Keuchik. Namun ianya kembali gagah ketika menjajal jalan aspal yang tak begitu mulus begitu keluar dari ujung lorong tersebut.

Sepeda itu terus bergerak ke arah jalan raya. Melaju dengan kecepatan di bawah rata-rata lantaran banyak beban yang dibawa. Sesekali sepeda itu berdecit ketika Abu Keuchik menekan rem belakang untuk menghindari lubang jalan. Tak jarang sepeda ontel itu oleng ke kiri dan ke kanan sesaat Abu Keuchik menambah tenaga. Satu tas koper hitam yang digantung di stang terhuyung-huyung mengikuti arah sepeda. Tas itu tak tertutup rapat, sehingga terlihat beberapa lembar buku tersembul dari dalam.

“Pelajaran Sejarah Islam” merupakan salah satu judul buku paket yang menyembul dari tas milik Abu Keuchik itu. Abu Keuchik berhenti sesaat. Memarkirkan sepeda yang penuh beban itu dengan susah payah kemudian meraih tas koper hitam di stang. Dia mengeluarkan buku-buku dari dalam tas itu. Ada selembar kertas yang menjadi fokus Abu Keuchik. Kertas itu memuat jadwal mata pelajaran sekolah hari ini. “Pukul 10.00 WIB,” kata Abu Keuchik kepada diri sendiri.

Dia lantas melirik jam merk Seiko di tangan kanannya. Jarum jam masih menunjukkan pukul 08.00 WIB. “Masih ada waktu dua jam untuk pergi ke sekolah,” lanjut Abu Keuchik lagi.

Setelah merapikan buku-buku ke dalam tas koper tersebut, Abu Keuchik melanjutkan perjalanannya. Melewati gerbang sekolah menuju perempatan jalan protokol. Dari kejauhan terlihat asap hitam membumbung dari sebuah bangunan berkonstruksi kayu. Bau harum beras, dedak hingga sekam langsung menyambut ketika Abu Keuchik masuk dalam bangunan itu. Suara-suara bising dari mesin penggilingan membuat Abu Keuchik sedikit pangling. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu tersenyum ketika melihat orang yang dicari. “Dua boh sak beuh (dua zak),” kata Abu Keuchik sembari mengacungkan dua jari kepada seorang pria bertopi biru lusuh. Pria itu mengangguk lalu bergegas menuju sepeda Abu Keuchik.

Usai dari pabrik padi, Abu Keuchik kembali ke arah persimpangan jalan menuju Gampong Cot Alue. Di persimpangan jalur masuk itu ada sebuah bangunan semi permanen, yang dimanfaatkan oleh Yah Uma menjadi warung kopi. Abu Keuchik menghentikan laju sepedanya lalu memarkirnya di bawah pohon pinang yang tumbuh di sisi sawah warga. Kursi luar warung kopi menjadi pilihan Abu Keuchik hari itu. Di tempat ini, pemandangan sawah warga yang menguning dan lalu lintas jalan Banda Aceh-Medan terlihat lebih menarik.

Kedai kopi yang biasanya dipakai sebagai pos dadakan para tukang ojek kampung yang disebut RBT itu, sekali lagi terlihat sepi. Tidak ada Harlan atau pria lain yang biasanya bertukar informasi tentang jual beli barang bekas dan sepeda motor di sana.

Abu Keuchik memesan secangkir kopi khas Cot Alue berjenis Robusta yang bijinya kemudian dicampur dengan jagung dan arang. Aroma kopi seketika menyambar hidung Abu Keuchik begitu Yah Uma menyajikannya di meja bersamaan sepiring pulot dan bingkang. Abu Keuchik tak menunggu lama. Dia menuang cairan kopi dari gelas ke dalam piring keramik bermotif bunga. Asap kopi langsung menyeruak dan seperti masuk ke dalam hidung Abu Keuchik yang terlihat menunggu sesaat, sebelum akhirnya menyicip kopi dari piring tersebut. “Sruuuutttt…

Abu Keuchik terlihat sangat menikmati cara meminum kopi seperti itu sehingga tidak memerhatikan kedatangan seorang pria ke arahnya. Namanya Ahmad, tetapi lebih akrab disapa Harlan.

Astaghfirullah…” Satu kata dari mulut Abu Keuchik keluar ketika tahu ada Harlan di depannya.

Get that mangat bak neu jep kupi meunan, ureung-ureung ek hana deuh lee (enak sekali gaya ngopinya sehingga tidak tahu pun ada orang yang mendekat),” kata Harlan.

Gata lagee hana adab. Hana kom hana lam, ka neuduk laju dikeu lon tuan. Peuhan teukeujot lon (Kamu tidak punya sopan santun. Tidak ada salam langsung duduk di depan saya. Membuat saya terkejut saja),” timpal Abu Keuchik seraya mengurut dada.

Harlan merupakan salah seorang penyedia jasa RBT di Cot Alue. Dulunya dia dikenal sebagai kuli panggul terkuat di Meurande yang mampu mengangkat barang seratus hingga dua ratus kilogram di gudang pemuatan truk intercooler. Konflik yang berkecamuk di daerah itu membuat layanan bongkar muat menjadi sepi. Pengemudi truk enggan berhenti di Meurande. Sejak itu Harlan mengganti profesinya menjadi penyewa ojek. Dia juga sering menghentikan bus yang melintasi persimpangan Cot Alue untuk penumpang dadakan, yang enggan membeli tiket di terminal resmi. Sejak saat itulah Ahmad lebih dikenal dengan panggilan Harlan.

“Abu, bagaimana kondisi di desamu hari ini?” Harlan bertanya.

“Sejauh ini aman, tapi tadi malam ada suara tembakan dari Bukit Pemancar,” kata Abu Keuchik sambil memperbaiki kacamata berbingkai coklat. Dia memegang selembar koran harian langganan warga setempat lalu membuka halaman demi halaman.

“Apakah ada perang? Aku mendengar kemarin tentara dan polisi menuju ke atas Bukit Pemancar. Apakah ada tentara nanggroe di puncak bukit?” Tanya Harlan lagi.

“Aku tidak tahu, mungkin saja ada, mungkin juga tidak,” jawab Abu Keuchik sesingkat mungkin.

Di Cot Alue, penduduk sangat hati-hati dalam berbagi informasi di kedai kopi. Menurut warga, “pada saat ini dinding sudah memiliki telinga.” Tentu saja ini hanya sebuah perumpamaan warga yang hidup di zona konflik.

Harlan menarik napas dalam-dalam. Dia mengibaskan topi hitamnya yang lusuh kemudian memesan segelas kopi kocok. “Dua telur ayam, oke,” kata Harlan kepada pemilik kopi.

Pria berusia 45 tahun itu kemudian mengeluh tentang kondisi di Meurande dan Cot Alue. Menurut Harlan, sejak operasi militer berlangsung di Aceh, daerah itu tidak senyaman sebelumnya. Pembangunan daerah menjadi mundur. Banyak gedung pemerintah dibakar oleh orang-orang yang bertikai.

“Kondisi Cot Alue seperti sekarat. Bagaimana kita mencari makanan seperti ini? Tamu dari daerah lain jarang datang ke sini. Kita bahkan tidak bisa pergi ke perkebunan di atas bukit. Saya takut kita akan dianggap bagian dari tentara nanggroe,” kata Harlan panjang lebar.

Apa yang dikatakan pria bertubuh kekar ini masuk akal. Warga yang berada di kawasan konflik kerap kesulitan untuk hidup normal. Abu Keuchik sebenarnya setuju dengan apa yang disampaikan Harlan, tetapi dia hanya seorang lelaki tua, tidak memiliki kebijakan politik apapun untuk mengakhiri perang atau memenangkan satu kelompok dalam konflik ini.

Hmmm ….” Abu Keuchik berdehem saja. Dia mencoba menyibukkan diri dengan menatap satu persatu halaman surat kabar.

Dari kejauhan seorang pria mengendarai sepeda motor Yamaha AT klasik menghampiri kedai kopi. Dia membawa dua keranjang kopra di kursi belakang. Pria ini memarkir sepeda motor agak jauh dari lokasi Abu Keuchik dan Harlan duduk.

Assalamualaikum Abu Keuchik,” kata pria itu.

Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu Yahya? Mau membeli kelapa lagi di Cot Alue?” Tanya Abu Keuchik, seraya menutup lembaran koran.

Yahya merupakan agen penampung kelapa dari kota kabupaten. Biasanya, kelapa-kelapa tersebut dijual kembali untuk kepentingan industri rumah tangga yang memproduksi minyak nabati.

“Itu benar, Abu! Di Cot Alue, ada banyak buah kelapa berkualitas, jarang digigit tupai, bahkan tidak berlubang,” kata Yahya. “Aku yakin orang-orang punya banyak kelapa yang bisa dijual. Benar kan, Abu?” Yahya berkata lagi.

Abu Keuchik tersenyum. Cot Alue merupakan daerah yang terkenal tanpa habitat tupai. Hewan pengerat yang hidup di pepohonan ini bahkan tidak pernah ditemukan di daerah itu. Bagi penduduk Cot Alue, tupai adalah hewan langka.

Abu Keuchik kemudian membuka kacamata berbingkai coklat dan meletakkannya di atas meja. “Apakah kamu tahu mengapa tidak ada tupai di sini?” Tanyakan Abu Keuchik kepada Yahya.

“Tidak tahu Abu.”

“Bagaimana denganmu, Harlan?” Tanya Abu Keuchik lagi. Pria yang ditanya menggelengkan kepala.

“Yah, ini adalah diskusi yang menarik daripada berbicara tentang konflik di daerah kita, yang tidak tahu kapan selesai,” kata Abu Keuchik yang kemudian meneguk kopi.

“Kenapa Abu?” Harlan bertanya, penasaran.

Abu Keuchik lalu bangkit dari kursinya. Dia berdiri di sisi jalan. “Coba kalian kemari!” Abu Keuchik memanggil Yahya dan Harlan. Orang yang dipanggil mengikuti instruksi Abu Keuchik.

“Kamu lihat itu?” Abu Keuchik bertanya sambil menunjukkan sawah yang sebagiannya telah selesai dipanen warga. Sejauh mata hanya bisa melihat hamparan sawah. Di antara sawah tersebut juga terlihat satu bangunan lumbung padi yang terbakar karena konflik.

“Sawah, ada juga gudang padi yang dibakar, saya belum tahu apa kaitannya dengan tupai itu,” kata Harlan, si pria kekar, tetapi memiliki IQ di bawah rata-rata.

“Sabarlah Harlan, sekarang lihat ke kanan dan ke belakang. Apa yang kamu lihat?” Abu Keuchik menunjukkan lagi hamparan sawah. Tidak ada pohon atau bangunan. “Tidak ada Abu, hanya sawah.” Kata Yahya.

Nah, coba kamu lihat ke arah kanan, apakah ada pepohonan, tidak ada bukan. Yang ada hanya sawah! Tidak ada pohon kelapa, pinang, atau pohon lain yang bisa menjadi pintu masuk tupai ke Cot Alue. Inilah daerah kita yang mengisolasi jalur masuk tupai ke kampung ini. Di sini hanya ada tikus, keluarga tupai yang tinggal di tanah,” Abu Keuchik mengakhiri penjelasannya dengan menyeka uban. Dia kembali duduk untuk menenggak secangkir kopi. Yahya mengikuti. Harlan masih bingung.

“Apa hubungannya?” Harlan masih menggaruk-garuk kepalanya. Dia masih berada di pinggir jalan mencari jawaban dari perkataan Abu Keuchik. Hampir setengah jam dia memandangi sawah-sawah yang menghadap desa Cot Alue, sampai akhirnya satu unit mobil Reo milik militer lewat. Kedatangan mobil tentara ini turut mengakhiri kebingungan Harlan.

Hoi, kamu ingin mati?” Hardik seorang tentara yang bergegas turun dari truk Reo.

Harlan hanya terkesima. Lututnya lemas. Lidahnya kelu. Moncong truk reo itu berada tepat di depan hidungnya yang tak begitu mancung, tetapi lebih lebar dari orang kebanyakan di Cot Alue.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14], Kulat [15]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.