SERANGAN udara yang dilancarkan koalisi Arab Saudi atas wilayah Yaman yang diduduki pemberontak Houthi berbuntut panjang. Hasil investigasi diketahui bom yang membunuh sekelompok anak-anak sekolah di Dahyan itu membuat sejumlah nama pemimpin di negara Arab Saudi dan Amerika Serikat terancam hukuman mati.

Ada sepuluh terdakwa yang dimeja-hijaukan atas kasus itu. Di antara mereka tersebut nama Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Selain itu, nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Yaman pun tak lepas dari tuntutan bersalah.

Persidangan itu dipimpin oleh Hakim Riyad Al-Razami.

Nama lain yang dituntut dalam kasus pemboman itu adalah Turki bin Bandar bin Abdulaziz Al-Saud, James Norman Mattis, Norton Schwartz, Abdrabbuh Mansur Hadi, Ali Mohsen Saleh Al-Ahmar, Ahmed Obeid bin Daghr, dan Mohammed Ali Ahmed Al-Maqhdashi.

“Para tersangka juga wajib membayar denda USD10 miliar untuk para keluarga korban,” ungkap laporan SABA, seperti dilansir Memo.

Lebih lanjut, Jaksa Penuntut telah mendaftarkan banding sebagian ke paragraf kelima dari putusan, terkait hak mereka yang masuk dalam dakwaan. Meski demikian, pengadilan belum memutuskannya.

Jaksa penuntut, Hamdan Shani, bergabung dalam pengajuan banding. “Sedangkan jaksa pembela, Abdel Wahab Al-Fadhli, berhak untuk banding atas nama para terdakwa,” tulis SABA.

Bom yang dipakai dalam serangan tersebut diduga merupakan buatan Amerika Serikat, yang dijual sebagai bagian dari kesepakatan senjata yang disetujui oleh Departemen Luar Negeri AS dengan Arab Saudi.

Hasil investigasi sejumlah jurnalis Yaman bersama beberapa ahli amunisi menemukan bahwa senjata yang menyebabkan puluhan anak tewas tersebut adalah bom MK 82. Bom ini dipandu laser seberat 500 pon atau 227 kilogram buatan Lockheed Martin, salah satu kontraktor pertahanan utama AS.

Bom tersebut mirip dengan senjata yang memicu kerusakan luar biasa dalam serangan di balai pemakaman, di Yaman pada Oktober 2016. Peristiwa tersebut menyebabkan 155 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

Kala itu, koalisi Arab Saudi menyalahkan ‘informasi salah’ dan mengaku bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Pada Maret 2016, serangan di sebuah pasar di Yaman juga dilaporkan menggunakan bom MK 84. Sebanyak 97 orang tewas saat itu.

Pasca-serangan tersebut, Presiden AS Barack Obama saat itu melarang penjualan teknologi militer dengan panduan presisi ke Arab Saudi. Obama khawatir penggunaan bom itu berpotensi melanggar hak asasi manusia.

Namun, larangan itu belakangan dicabut oleh pemerintahan Donald Trump pada Maret 2017.

Dikutip dari CNN, Sabtu, 18 Agustus 2020 lalu, penggunaan bom bikinan Amerika Serikat itu turut menimbulkan tanda tanya besar tim investigator: apakah turut menyeret ‘Paman Sam’ bertanggung jawab secara moral dalam serangan itu?

Terlebih sejauh ini AS belum menyatakan dukungan mereka atas koalisi Arab Saudi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman. Meskipun demikian, dukungan secara tak langsung diwujudkan lewat kesepakatan bernilai miliaran dolar dalam perdagangan senjata. AS juga sepakat mengisi bahan bakar pesawat tempur Saudi dan menyuplai sejumlah data intelijen.

Zeid Al Homran merupakan salah satu orangtua dari puluhan anak-anak yang tewas dalam serangan bus itu sempat mengunjungi makam kedua putranya. Dia mengisahkan apa yang terjadi saat kabar duka itu sampai di telinga orangtua para murid.

“Saya berteriak marah, para ibu menangis meraung-raung dan menjatuhkan tubuh mereka ke tanah,” kata Zeid seperti dilansir CNN. “Orang-orang meneriakkan nama anak-anak mereka. Aku mencoba menenangkan para perempuan bahwa kabar tersebut belum tentu benar. Namun, seorang pria berlari ke arah kerumunan, berteriak bahwa sebuah pesawat meledakkan bus yang berisi para bocah.”

Dampak serangan bom ke bus berisi anak-anak sekolah sungguh mengerikan. Dari 51 korban jiwa, sebanyak 40 antaranya adalah anak-anak.

Sebanyak 56 bocah juga dilaporkan terluka akibat serangan udara yang ditargetkan di tengah pasar, yang sedang sibuk. “Kami menemukan jasad-jasad manusia bertebaran di mana-mana, pun dengan potongan kepala manusia di kawah bom,” ungkap seorang saksi mata.

Buku-buku sekolah bertebaran, pun dengan logam-logam yang melengkung akibat momentum ledakan maupun panas intens. Pecahan bom ditemukan di lokasi pengeboman. Dari hasil investigasi mengarahkan bahwa bom itu dibuat oleh Lockheed Martin. Sementara hasil analisa lanjutan memperlihatkan jenis bom yang dipakai adalah MK 82.[]