Ilustrasi

R MEMANG seorang bocah. Usianya pun masih sembilan tahun. Akan tetapi dia adalah seorang pahlawan bagi kehormatan sang bunda, meski akhirnya anak laki-laki itu tewas dibunuh oleh seorang mantan narapidana yang dibebaskan pemerintah lantaran wabah corona.

Apa yang dilakukan oleh mendiang R adalah prilaku aneuk agam–yang membela marwah keluarga. Sebagai pelindung satu-satunya di rumah, setelah sang ayah pergi mencari nafkah di kegelapan malam, R diduga kuat menjalankan amanah agar menjadi pelindung bagi ibunya. Apalagi rumah R dan Dn berada jauh dari pemukiman penduduk, di salah satu desa di kawasan Birem Bayeun.

Sejatinya sang bocah yang sedianya masih duduk di bangku sekolah dasar itu bisa saja melarikan diri: kabur atau sembunyi. Namun sebagai anak laki-laki, dia justru mempertaruhkan nyawa menghadapi seorang residivis kasus pembunuhan demi menyelamatkan Dn, sang ibu tercinta.

Kasus ini menyita perhatian publik. Banyak simpati dan empati berdatangan. Beberapa kabar menyebutkan R dibunuh sebelum pelaku menodai sang bunda. Sementara kabar lain mengatakan R dibunuh lantaran menyelamatkan Dn yang berteriak di kegelapan malam, sesaat hendak diperlakukan tidak senonoh oleh Sam (40), si mantan napi yang baru saja menerima asimilasi.

Persoalan kronologi tersebut belum dapat diluruskan. Korban pemerkosaan yang adalah bunda almarhum R masih trauma di tempat pengobatan. Sementara pelaku Sam masih bungkam. Dia terkesan tidak kooperatif dengan aparat penegak hukum setelah melakukan perbuatan bejat nan sadis itu. Bahkan, penyidik sebelumnya sempat kesulitan untuk mendapat informasi tentang nasib R dari pelaku.

Kutukan demi kutukan terhadap Sam berdatangan di dunia maya. Ada yang meminta polisi untuk menghadiahkan timah panas ke tangan dan kaki si pelaku. Alasannya agar Sam tidak mengulangi perbuatannya. Ada juga yang meminta agar si pelaku dihukum mati.

Hampir semua pihak yang membaca kasus pembunuhan terhadap R dan pemerkosaan kepada Dn yang dilakukan Sam sepakat mengeluarkan kata sumpah serapah. Kutukan demi kutukan berdatangan. Media massa pun tak kuasa menutup wajah sang pelaku yang dinilai bejat nan sadis itu, seperti kasus-kasus kriminal lainnya.

Pelaku pembunuhan dan pemerkosaan itu terkesan tidak menyesali perbuatannya. Raut wajah pelaku yang belakangan banyak tersebar di media massa dinilai terlalu dingin. Sorot matanya pun tidak terlihat seperti orang yang kesakitan, walau diduga telah mendapat bogem mentah berkali-kali dari massa yang membungkam Samsul.

Orang seperti ini sangat berbahaya jika kembali dilepas dan berbaur ke dalam masyarakat. Perlu hukum tegas agar tidak ada bocah R lainnya yang menjadi korban Sam, si lajang pesakitan itu. Terlebih di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang ini. Pemerintah tentu perlu turun tangan untuk melacak jejak semua narapidana kasus kriminal berat untuk menghindari hal serupa tidak terulang kembali.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu meninjau kembali kucuran anggaran agar tidak semata-mata ditujukan pada pembangunan fisik, tetapi juga memerhatikan pemberdayaan ekonomi masyarakat di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang ini. Tak sedikit para suami dan para ayah harus keluar rumah di kala malam demi mencari nafkah, seperti suami Dn, yang tak jarang penghasilannya jauh dari kata cukup jika dibanding dengan risiko yang dihadapi.

Kasus pembunuhan dan pemerkosaan di Birem Bayeun harus menjadi perhatian pemangku kebijakan bahwa negeri kita tidak sedang baik-baik saja. Agar kasus kriminal berat seperti ini tak lagi berulang di nanggroe kita yang menjalankan hukum syariat. []