Repro

WARNA hijau mendominasi kala mata menghujam seluruh kawasan dataran tinggi Gayo. Daratan perbukitan yang sambung menyambung turut menjadi pesona tersendiri di sana. Hamparan sawah yang di tengah-tengahnya terdapat pemukiman penduduk serta berlatar Danau Lut Tawar pun menjadi ikon bagi Aceh Tengah.

Di kawasan inilah hidup dan berkembang orang-orang Gayo. Suku yang ada di Aceh, yang oleh sekumpulan peneliti menyebut sebagai salah satu penduduk asli di provinsi paling barat pulau Sumatera itu.

Gayo, jika merujuk sekumpulan teori para peneliti dapat bermakna indah. Dan kata ini hanya pantas diungkapkan pada saat-saat upacara tertentu. Setidaknya demikian yang disampaikan Prof Dr Burhanuddin, salah seorang pakar yang berasal dari Brunei Darussalam seperti ditulis oleh Hammaddin Aman Fatih dalam Serambi Indonesia, Minggu, 14 Agustus 2011 lalu.

Namun, Gayo juga seringkali dikaitkan dengan pemaknaan kata “Garib” atau “Gaib” oleh para leluhur suku yang hidup di kawasan berudara sejuk nan segar itu. Makna kata Gaib itu berhubungan dengan sejarah awal mula kedatangan leluhur Gayo ke kawasan tersebut.

Di sisi lain, para peneliti juga sepakat mengaitkan kata Gayo dengan “dagroian”. Kata ini berasal dari “drang-gayu” yang berarti orang Gayo. Pun demikian, adapula yang mengaitkan kata Gayo dengan sebutan Pegayon. Maknanya adalah mata air yang jernih.

Hanya sosiolog asal Belanda, Dr C Snouck Hougronge yang belakangan mengartikan kata Gayo dengan ka-yo. Yang dalam bahasa Aceh bermakna takut.

Para sejarawan dalam beberapa literatur pernah menyebutkan suku Gayo merupakan salah satu leluhur orang Aceh. Selain suku Gayo adapula suku Mante yang bertahan hidup di kawasan Aceh Besar. (Baca juga: Orang-orang Sumatera: Ureung Aceh)

Teori ini kemudian diperkuat dengan penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan di Loyang Mendale, beberapa waktu lalu. Dalam penelitian itu, peneliti Balar Medan mengaku telah menemukan kerangka raksasa manusia purba yang diduga pernah hidup di sekitar lokasi Danau Lut Tawar. Temuan itu turut menyiratkan bahwa sejak dulu wilayah ini telah dihuni oleh manusia.

Arkeolog dari Balar Medan, Ketut Wiradnyana dalam bukunya “Merangkai Identitas Gayo” bahkan menyebutkan, manusia telah hidup dan berkembang di dataran tinggi Gayo sejak 7.400 tahun lalu. Manusia itu diduga berasal dari ras Austromelanesoid dan mengusung budaya Hoabinh. Budaya yang dimaksud berasal dari Vietnam bagian utara, “yang hidup dengan mengeksploitasi biota marin.”

Kelompok manusia ini pertama kali terlacak di pesisir-pesisir timur Pulau Sumatera. Kemudian dalam perjalanan waktu mereka berpindah-pindah, hingga belakangan turut menyusuri sungai-sungai yang bermuara di laut–di sekitar tempat tinggalnya. Perpindahan ini diduga berkaitan dengan beberapa hal. Semisal keterbatasan bahan pangan, bencana alam seperti banjir dan mungkin juga tsunami.

Perjalanan mereka dari wilayah pesisir juga terlacak di kawasan Sungai Pesangan, hingga kemudian ada diantaranya yang bermukim di Loyang Mendale. Loyang Mendale sendiri berada di kawasan administratif Kecamatan Lut Tawar, berada di bawah pemerintahan Aceh Tengah.

Menyebut kata Gayo bukan berarti tertuju pada satu kabupaten Aceh Tengah semata. Dataran Tinggi Gayo terbentang luas sebujur mata memandang hingga Bener Meriah dan Gayo Lues. Wilayah Gayo masa lalu juga disebut mencakup kawasan Serbajadi di Aceh Timur saat ini, dan sebagian kecil kawasan Aceh Utara. Jika ditelisik lebih jauh, wilayah Gayo yang ditandai dengan kemunculan Kerajaan Lingga juga masuk lebih jauh hingga Tanah Batak di Sumatera Utara.

Sementara berdasarkan penuturan Ketut, diketahui Tanah Gayo meliputi pusat Pegunungan Bukit Barisan bagian utara. Dataran ini memiliki ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya terpotong-potong oleh punggung bukit yang merupakan hulu-hulu sungai besar dan penting untuk kawasan Aceh.

“Jajaran Bukit Barisan yang membentang di sebelah Utara merupakan batas alam yang memisahkan Tanah Gayo dengan pesisir Aceh bagian utara,” tulis Ketut.

Secara tradisional, tulis Ketut, wilayah Tanah Gayo terbagi atas empat bagian, yaitu Wilayah Lut Tawar, Wilayah Deret (Jambu Aye), Wilayah Gayo Lues dan Gayo Tanyo, serta Wilayah Serbajadi.

Di kawasan perbukitan yang subur itulah orang-orang Gayo modern hidup saat ini. Mereka bertahan hidup sebagai petani dan nelayan. Sementara komoditas andalan orang-orang Gayo modern diantaranya adalah kopi, alpukat, jeruk, dan juga ikan depik.

Masyarakat Gayo menganut paham patrilinial, di mana di dalam satu rumah biasanya didiami oleh satu keluarga batih. Jikapun ada keluarga baru, mereka akan membuat rumah di sekitar rumah induk. Sistem ini terus berlanjut untuk generasi kemudian hingga membentuk sebuah perkampungan yang disebut belah. Pemimpin kampung disebut reje. Sistem perkampungan yang juga ditemukan pada masyarakat Toba.(*)