Ilustrasi

TUNAS rumpun bambu terlihat seperti menjulurkan lidahnya untuk menyentuh nyiur kelapa di tepian pematang sawah. Sementara dedaunannya bak menari-nari diterpa angin yang datang dari sela-sela bukit. Batang bambu yang tumbuh rapat berjejal dalam lingkaran besar saling bergesekan. Duri-duri bakal ranting tak ayal menjadi korban hingga jatuh berguguran. Angin kencang yang datang dari pematang sawah terkadang tak kuasa melabrak perdu bambu. Dan sayup-sayup terdengar pula suara merdu.

Rumpun bambu ini sudah lama tumbuh subur di sana. Buku-buku bambu itu semakin membesar sehingga tak jarang menghalangi ruas jalan warga. Akar-akarnya menancap kuat di tanah coklat, yang bersisian dengan saluran selebar 1,5 meter yang menjadi sumber air utama bagi sawah warga. Parit itu seakan tak pernah lelah memfasilitasi lalu lintas air yang hulunya berada di Bukit Pemancar dan bermuara ke sungai Meurande.

Kala musim penghujan datang, saluran air ini kerap meluap ke halaman rumah Aceh yang ada di sana. Termasuk rumah Zahra, yang berada selemparan batu di dekat kanal berdinding lumpur tebal nan hijau itu.

Zahra terlahir dari keluarga besar dan memiliki banyak kakak perempuan serta seorang abang laki-laki. Si bontot ini memiliki kulit kuning langsat, berhidung mancung dan berambut pirang. Tubuhnya lebih tinggi dibandingkan beberapa kakak perempuannya. Gadis yang dikenal lincah dan pintar ini juga cenderung lebih rewel dibandingkan anak-anak perempuan yang lain buah cinta Abu Keuchik dan Nek Aisyah.

Meski memilki banyak kakak perempuan, tetapi Zahra sangat akrab dengan Laily. Usianya hanya selisih satu tahun lebih tua dibandingkan Zahra. Karakter Laily juga jauh berbeda dengan si bungsu. Gadis ini dikenal pendiam. Kulitnya juga lebih gelap jika dibandingkan dengan Zahra. Laily merupakan anak ke enam Abu Keuchik. Sehari-hari, Laily yang sudah kelas tiga sekolah dasar ini bermain bersama Zahra. Salah satu tempat bermain mereka adalah kawasan rumpun bambu dekat kanal yang ada di tepi desa.

Ayah Zahra dan Laily merupakan seorang keuchik. Ini merupakan nama lain untuk kepala desa dalam bahasa Aceh. Pria berkulit coklat dengan rambut keriting ini sudah lama menjabat sebagai keuchik. Separuh usia Abu Keuchik bahkan dihabiskan menjadi kepala desa. Ini pula yang membuat warga desa mengenal namanya sebagai Abu Keuchik. Padahal nama Abu Keuchik asli adalah Abdurrahim. Namun, nama ini kurang populer di Gampong Cot Alue, sebuah desa yang ada di kaki Bukit Pemancar.

Syahdan pada suatu hari Abu Keuchik dicari oleh serdadu negara yang baru saja bertugas di Bukit Pemancar. Para tentara ini tidak mengetahui alamat rumah sang kepala desa, Abdurrahim. Mereka kemudian menanyakan alamat rumah Abu Keuchik dengan nama Abdurrahim kepada sejumlah pemuda yang duduk di kedai kopi. Para pemuda yang usianya rata-rata belasan tahun itu hanya menggeleng kepala. Mereka tak pernah mengenal sosok pria yang dicari para tentara.

Sekonyong-konyong para serdadu yang rata-rata baru berstatus prajurit itu kesal. Mereka menduga sedang dipermainkan. Mereka beralasan tidak mungkin warga yang berdomisili di kampung sekecil Cot Alue tak kenal atau bahkan tidak tahu alamat kepala desa. Mereka lantas menghukum para pemuda yang ada di warung kopi itu. Hukuman yang diberikan beragam. Ada di antara mereka yang sekadar kena tamparan, dan ada juga yang harus berguling-guling di atas jalan aspal yang sudah terkelupas.

Paling sial adalah bagi para pemuda yang berbadan kekar. Selain ditempeleng dan berguling-guling di aspal bopeng, mereka juga harus merasakan kerasnya sol sepatu milik tentara. Para  pemuda itu tak melawan. Mereka hanya mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati. Tak pernah berniat melawan karena mereka tahu risiko apa yang bakal menimpa. Bahkan, untuk menangkis pukulan yang dilayangkan para serdadu itu dapat berakibat fatal. Terlebih para tentara yang kesal itu rata-rata tamatan Tamtama, bukan Bintara apalagi Perwira.

Suatu hari karena sudah tak tahan, para pemuda yang kerap kena amukan serdadu negara tersebut melapor ke Abu Keuchik. Saat itulah mereka mengetahui bahwa Abdurrahim yang dicari-cari itu adalah sosok pria yang lama didaulat sebagai kepala desa. “Abdurrahim itu nama saya,” kata Abu Keuchik kepada para pemuda.[] Bersambung…


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.