Ilustrasi orang-orang Aceh tempo dulu | Foto: KITLV

PULAU Sumatera dapat disebut berawal dari kata Samudra. Satu kerajaan masa lalu yang berada di daerah paling barat di pulau terbesar kedua di Indonesia. Jika ditilik dari lokasi wilayahnya, kerajaan ini sekarang berada di kawasan Aceh Utara, Provinsi Aceh.

Penamaan Sumatera ini merujuk pada banyak catatan penjelajah Eropa sejak abad-15. Diduga kuat penamaan tersebut terjadi setelah bangsa Portugis terlibat perang dengan Kerajaan Samudra Pasai, sebuah kerajaan besar yang ada di kepulauan itu pasca runtuhnya Sriwijaya.

Perihal Sumatra juga ditemukan dalam kisah pelayaran Odorico da Pordenone yang berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari pada tahun 1318. Odorico da Pordenone sendiri memiliki nama asli Odorico Mattiusi atau Mattiuzzi yang merupakan penjelajah terkenal di Abad Pertengahan.

Catatan lain tentang Sumatra juga dapat ditemukan dalam kitab Rihlah ilal Masyriq (Pengembaraan ke Timur) Ibnu Battutah. Penjelajah asal Maroko ini menyebutkan bahwa pernah singgah di kerajaan Samatrah pada tahun 1345. Sejak itu para musafir kerap menyebut nama pulau itu sebagai Samatrah yang belakangan menjadi Sumatra.

Ibnu Majid salah seorang kartograf Muslim juga membuat peta daerah sekitar Samudra Hindia ini dengan nama Pulau Samatrah pada tahun 1490.

Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama “Camatarra”. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama “Samatara”, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama “Samatra”.

Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu “Camatra”, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya “Camatora”. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: “Somatra”.

Selain Sumatra dan ragam nama yang hampir sama, pulau seluas lebih kurang 473.481 Km2 ini juga pernah dilakap dengan sebutan Percha dan Bumi Malayu. Terkait nama terakhir tersebut identik dengan orang-orang yang menghuni pulau itu: Suku Melayu.

Berdasarkan penelusuran penulis, terdapat banyak suku yang mendiami pulau di jalur cincin api ini. Di antara suku-suku itu tersebutlah suku bangsa Aceh. Suku ini mendiami Provinsi Aceh hingga sekarang.

Belum diketahui bagaimana asal mula suku ini mendiami wilayah Aceh. Namun beberapa penelusuran singkat menyebutkan suku ini cenderung mirip dengan suku Melayu secara umum yang ada di Sumatra. Meskipun begitu, ada perbedaan struktur wajah dan karakteristik orang-orang Aceh dengan Melayu secara umum.

Sepintas terlihat suku Aceh juga memiliki kemiripan dengan orang-orang Arab. Ada juga yang menyerupai suku Cham (China), tak sedikit yang mirip orang Eropa, dan juga orang-orang India. Beberapa peneliti juga mengaitkan suku Aceh dengan Champa di Thailand.

Suku ini menggunakan bahasa Aceh dengan dialek berbeda antarsatu daerah dengan daerah lainnya, atau disebut Hesperonesia.

Selain Aceh, suku lainnya yang mendiami provinsi Aceh adalah suku Gayo. Suku ini hidup di dataran tinggi wilayah tengah Aceh yang dalam batas-batas administratifnya saat ini berada dalam Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues. Jumlah populasi suku Gayo pada tahun 2013 mencapai 250.000 jiwa dengan mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani dan berkebun.

Di Provinsi Aceh juga terdapat suku Alas yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara.(*)