DADA TA membusung ke depan ketika cambukan ke delapan sang algojo mampir di punggungnya, Kamis, 28 Januari 2021 siang. Berdiri di atas hambal berkelir biru, di tengah ruangan salah satu gedung Taman Sari, Banda Aceh, TA kemudian dihampiri oleh pihak jaksa dan petugas Wilayatul Hisbah (WH). Setelah memastikan kondisi TA baik-baik saja, proses eksekusi cambuk hari itu dilanjutkan hingga hitungan ke-20.

Pada hitungan tersebut, terhukum TA kembali membusungkan dada ke depan. Algojo pun menghentikan cambukan. Kondisi demikian terjadi kembali pada hitungan ke-45, yang kali ini turut diselingi dengan pemberian air mineral dan pemeriksaan tim medis atas kesehatan TA.

Setelah terhukum siap, cambuk rotan sebesar jari telunjuk tangan manusia itu kemudian melanjutkan tugasnya menghukum TA hingga hitungan ke-77.

TA merupakan terhukum cambuk atas kasus pelanggaran Jarimah Liwath atau penyuka sesama jenis alias gay. Pria berusia 29 tahun itu ditangkap warga bersama pasangannya, MW, 27 tahun, di salah satu indekos kawasan Kuta Alam Banda Aceh pada Kamis, 12 November 2020 malam. TA alias AL berperan sebagai pria sementara MW alias MU menjadi cewek dalam kasus tersebut.

Keduanya terbukti bersalah berdasarkan amar putusan pengadilan Nomor 3/JN/2021/MS-BNA dan Nomor 4/JN/2021/MS-BNA. Baik MW maupun TA pun telah mengakui perbuatannya melanggar Pasal 63 Ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat.

Sebelumnya, MW alias MU pasangan TA, juga telah menjalani hukuman 77 kali cambukan, dipotong 3 kali cambukan atas masa tahanan mereka.

Kedua pasangan gay tersebut berhasil melalui hukuman cambuk sang algojo hingga paripurna.

TA alias AL (29) menjalani hukuman 77 kali cambukan setelah keluar amar putusan pengadilan terkait hukum jarimah liwath alias penyuka sesama jenis | Foto: Boy Nashruddin Agus/Sumaterapost.com

MW dan TA merupakan terhukum ketiga dan keempat pada eksekusi cambuk yang dilakukan Kamis pagi itu. Sebelum MW dan TA, Kejaksaan Negeri Banda Aceh terlebih dahulu menghukum cambuk dua pria lain terkait Jarimah Khamar. Mereka adalah RDC dan IS. Keduanya mendapat 40 kali cambukan lantaran terbukti melanggar Pasal 15 Ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukuman Jinayat.

Setelah prosesi cambuk pasangan gay itu selesai, Kejaksaan Negeri Banda Aceh juga mengganjar 17 kali cambuk setelah dipotong 3 kali cambukan, terhadap pasangan pelanggar ikhtilat, RM dan RU. Pelaksanaan hukuman dilakukan di tempat yang sama, di lantai satu, salah satu aula Taman Sari Banda Aceh tersebut.

“Total ada enam (terhukum cambuk). Dua kasus liwath (gay), dua kasus khamar, dan dua kasus ikhtilat,” kata Plt Kasatpol PP/WH Banda Aceh Heru Triwijanarko.

Eksekusi terkait jarimah liwath ini menurut Heru, merupakan kasus kedua yang ditangani Satpol PP/WH Banda Aceh. Kasus pertama terjadi antara tahun 2015 dan 2016 lalu.

Heru mengatakan kedua terdakwa itu merupakan warga luar Banda Aceh. “Satu dari Aceh Barat dan Aceh Besar. Namun untuk identitas lengkap dari pihak kejaksaan yang memberikan keterangan,” kata Kasatpol PP/WH Banda Aceh tersebut. []