ANDI Firdaus, salah seorang aktivis di Aceh beberapa waktu lalu sempat menghilang. Pria yang biasanya dikenal kritis di media sosial terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro terhadap rakyat itu mendadak bungkam. Setelah sekian lama menghilang, Andi Firdaus yang merupakan alumni Mindanau University itu muncul kembali. Ternyata dia mengaku terpaksa menjalani isolasi mandiri usai terkonfirmasi positif Corona Virus Disease rentang Oktober hingga November 2020 lalu, tak berapa lama usai menggelar aksi parlemen jalanan di Kantor Gubernur Aceh, di Banda Aceh.

“Di tengah tsunami informasi yang terkadang menyulitkan kita untuk mengetahui; antara ilmu kedokteran modern dan opini yang terlalu liar berkembang di media sosial. Tidak ada yang harus ditakuti, hanya butuh waspada bahwa virus dan penyakit itu memang ada. Sakit fakta! Saya percaya,” tulis Andi Firdaus pada Kamis, 31 Desember 2020.

Dalam catatan itu, Andi Firdaus mengaku dirinya merupakan salah satu dari 13 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab melalui RT-PCR. Akibatnya dia terpaksa beristirahat total selama 29 hari di rumah.

“Ini merupakan sakit terlama dalam sejarah hidup saya, 29 hari. Pengalaman yang seharusnya menjadi rujukan bagi semua orang,” kisah Andi Firdaus.

Dalam catatan tersebut, Andi Firdaus turut memaparkan kronologi dirinya jatuh sakit dan menghilang dari wara-wiri dunia maya. Awalnya dia merasa mual usai menyeruput segelas kopi pada 3 Oktober 2020 lalu. Tak berselang lama, rasa mual itu membuncah dan Andi pun muntah. Kepalanya pun terasa pusing.

Andi tidak curiga pada hari itu lantaran kondisi fisiknya masih fit dan lumayan segar. Pria yang juga dikenal sebagai salah satu aktivis ’98 itu bahkan masih beraktivitas seperti biasa pada 4 Oktober 2020.

Namun, Andi kembali merasa mual usai makan siang pada tiga hari berikutnya. Tenggorokan pria itu pun terasa gatal, kepala pusing, dan muntah-muntah. Badannya kian terasa tidak nyaman pada 8 September, “terasa meriang dan agak pusing. Lalu saya istirahat sambil meminta istri untuk membelikan obat.”

Andi mengaku dia tidak batuk, pilek atau bahkan sesak nafas sehingga tidak curiga penyakit yang dideritanya mengarah ke Covid-19. Indera penciuman Andi pun masih normal sehingga dia beranggapan bahwa sakit itu adalah penyakit rutin yang dideritanya. “Ini hanya demam atau thypus seperti yang kerap saya alami,” tulis Andi, menyikapi sakitnya saat itu.

Pria yang pernah aktif sebagai jurnalis itu pun mengonsumsi obat-obatan seperti paracetamol, omeprazole, mexon, dan vitamin c yang dibawa oleh sang istri dari klinik tempatnya bekerja. Usai meminum obat-obatan tersebut, demam Andi turun beberapa saat. Namun, dia kembali mengalami muntah-muntah pada malam harinya. “Sepanjang malam. Selain perut mual, kepala terasa mau pecah.”

Rasa mual diiringi muntah terus dialami Andi Firdaus sejak hari itu. Suhu badannya juga sedikit turun selepas mengonsumsi obat, akan tetapi kembali panas dingin setelah beberapa jam kemudian.

Andi saat itu bersikukuh untuk tidak menyambangi rumah sakit. Dia enggan diperiksa, alih-alih mau rapid tes segala. Saat itu Andi masih berpikir hanya mengalami sakit biasa yang dapat sembuh hanya dengan parachetamol atau serbuk puyer dicampur limun.

“Ternyata sejak tanggal delapan itu, sakit saya tidak kunjung sembuh. Kondisi bukan tambah membaik. Apa yang saya rasakan semakin parah. Pucat, sendi lemah, kurang nafsu makan, dan mulut pahit,” lanjut Andi.

Hasil Labkes Andi Firdaus menunjukkan dirinya Positif Covid-19

Lantaran sudah tidak tahan dengan kondisi tersebut, Andi belakangan meminta sang istri untuk mengantarnya ke rumah sakit. Apalagi kondisi kesehatannya terus menurun drastis. Pada 14 Oktober 2020, Andi baru menyambangi rumah sakit swasta di Sigli, Pidie.

Di rumah sakit tersebut, Andi sempat dirawat di ruangan khusus agar tidak berbaur dengan pasien lain. Saat itu, tenaga medis rumah sakit tersebut curiga bahwa sakit Andi mengarah ke Covid-19. Tenaga medis kemudian mengambil sampel darah dari tubuh Andi yang kian lemas tak berdaya. “Pikiran saya berkecamuk. Mereview kembali ingatan soal muntah pada tanggal 2 dan 6 Oktober. Jangan-jangan saya sudah terpapar Covid-19, hanya saja statusnya tanpa gejala,” ungkap Andi.

Apalagi rasa sakit yang dialami Andi tak seperti biasanya.

Pihak medis kemudian memastikan kondisi paru Andi Firdaus di ruang radiologi. Dia menjalani dua kali rontgen lantaran pihak medis curiga dengan hasil yang diperoleh.

“Kata dokter, paru saya mengalami infeksi. Saya terdiam, karena yang saya alami juga terkadang ada rasa perih di sekitar paru sebelah kiri dan juga kanan,” lanjut Andi.

Kondisi Andi saat itu belum juga membaik. Mual disertai muntah dan demam dengan kepala pusing terus menggeranyang dirinya. Tenggorokannya pun terasa kering. “Lidah seperti dua lapis, tebal, buah-buahan yang saya makan hambar. Anehnya, tenggorokan terus mengering meski baru saja minum air,” kisah Andi lagi.

Setelah dokter mengambil sample di hidung dan tenggorokan untuk swab, dia kemudian diperbolehkan pulang. Namun dokter meminta Andi untuk isolasi mandiri sembari menunggu hasil swab. Sepekan lamanya Andi menunggu dan baru pada Jumat, 25 Oktober 2020 hasil swab keluar. Dari data yang diterimanya itu diketahui Andi terkonfirmasi positif Covid-19.

“Hasil swabnya keluar, dan 13 orang yang tertera namanya di dalam laporan hasil pemeriksaan di Laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh. Saya berada di nomor urut 2,” jelas Andi. Dia berharap apa yang dialaminya tersebut dapat menjadi pengalaman bagi warga di Aceh tentang Covid-19. “Semoga semua kita terbebas dari pandemi dan virus yang menyakitkan, amin,” pungkas Andi yang memastikan kronologi dirinya terpapar virus rentang Oktober-November 2020 kepada sumaterapost.com via telepon, Kamis petang.[]