SEORANG pria Muslim Uighur di Australia telah dipersatukan kembali dengan istri dan anaknya yang selama tiga tahun terakhir berada dalam tahanan rumah di Xinjiang, China.

Capaian itu terjadi menyusul kampanye yang berjalan selama tiga tahun.

Pada hari Kamis (10/12), warga negara Australia, Sadam Abudusalamu, dapat bertemu kembali dengan istrinya Nadila Wumaier, dan putranya yang berusia tiga tahun Lutfy, di Sydney.

Wumaier dan Lutfy diizinkan meninggalkan China setelah negosiasi diplomatik.

Wumaier – yang juga merupakan anggota minoritas Muslim Uighur China – mengatakan dia sebelumnya berada dalam tahanan rumah.

Keluarga tersebut membagikan foto pertemuan mengharukan mereka di Bandara Sydney pada hari Jumat. Abdusalam belum pernah bertemu dengan putranya yang lahir pada tahun 2017 lalu.

“Terima kasih Australia. Terima kasih semuanya,” tulis cuitan Abdusalamu.

Kisah perpisahan selama tiga tahun

Abdusalamu, yang telah berdomisili di Australia selama satu dekade terkahir, pergi ke China pada 2016 untuk menikahi pacarnya, Wumaier.

Dia kembali ke Australia untuk bekerja pada 2017, sementara Wumaier menunggu di China untuk mendapatkan visa pasangan di proses.

Dia melahirkan di akhir tahun yang sama, tetapi visa kunjungan Abdusalamu ditolak oleh pemerintah China.

Tak lama setelah dia melahirkan, keluarga itu mengatakan bahwa Wumaier ditahan oleh otoritas China selama dua minggu. Dia kemudian dibebaskan, tetapi paspornya disita dan dia tidak diizinkan meninggalkan rumahnya.

Dalam dua tahun terakhir, Australia telah mengeluarkan permintaan resmi ke China untuk mengizinkan mereka keluar.

Meskipun Wumaier bukan warga negara Australia, putranya secara resmi diakui sebagai warga negara setelah ajuan permohonan oleh Abdusalamu.

Pihak berwenang China telah mengatakan pada bulan Februari lalu bahwa pernikahan pasangan itu tidak diakui berdasarkan hukum China dan bahwa Wumaier ingin tetap di China.

Namun, beberapa jam setelah klaim tersebut dibuat oleh seorang pejabat China di sebuah program televisi Australia, Abdusalamu memposting foto istri dan anaknya di Twitter dengan catatan waktu setempat dan bertuliskan: “Saya ingin keluar dan bersatu dengan suami saya”.

Pasangan itu harus menunggu enam bulan lagi sebelum akhirnya mendapatkan kabar yang telah mereka tunggu-tunggu.

“Kami dikabari dua, tiga bulan lalu bahwa mereka akan bisa keluar” kata pengacara Michael Bradley kepada BBC.

Pada hari Jumat (11/12), keluarganya tiba setelah perjalanan 48 jam yang berbelit-belit yang telah membawa mereka melewati Shanghai, Hong Kong, Port Moresby lalu Brisbane sebelum – akhirnya – mencapai Sydney.

Abdusalamu berterima kasih kepada departemen luar negeri Australia atas “pekerjaan luar biasa” mereka, dan juga mengucapkan terima kasih kepada pengacaranya dan media.

“Saya tidak pernah berpikir hari ini akan datang dan saya sangat ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah bekerja keras untuk menyatukan kami kembali,” katanya.

Dia menambahkan: “Impian saya adalah agar semua teman Uighur saya bisa bersatu kembali dengan keluarga mereka.”

Kecaman hak asasi manusia

Kelompok-kelompok hak asasi mengatakan China menahan sekitar satu juta orang Uighur dan Muslim lainnya di kamp-kamp penahanan.

Namun, China membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan mereka memerangi terorisme dan ekstremisme agama, dan menawarkan “pendidikan ulang politik” kepada mereka yang berada di kamp-kamp.

Pada bulan Oktober, suatu kelompok yang terdiri dari 39 negara – termasuk Australia, Inggris, AS dan beberapa negara Eropa – membacakan pernyataan di PBB yang mengatakan bahwa mereka “sangat prihatin tentang situasi hak asasi manusia di Xinjiang” dan kamp-kamp tersebut.

“Kami telah melihat peningkatan jumlah laporan pelanggaran HAM berat,” bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu mencantumkan sejulmah kekhawatiran termasuk pembatasan ketat atas kebebasan beragama, pergerakan, dan berekspresi orang Uighur dan budaya Uighur di daerah tersebut.

“Pengawasan yang meluas secara tidak proporsional terus menargetkan warga Uighur dan minoritas lainnya dan lebih banyak laporan bermunculan tentang kerja paksa dan paksaan metode kontrol kelahiran termasuk sterilisasi,” menurut pernyataan itu.[] Sumber: BBC Indonesia